Seusai drama tenda dan jalan kaki antara Muzdalifah dan Mina, jemaah larut dalam rasa syukur dan bahagia karena telah melalui fase puncak ibadah haji.
08 Jun 2025 18:37 WIB · Humaniora
Puncak ibadah haji usai sudah. Seluruh jemaah haji Indonesia dipastikan telah mengikuti rangkaian puncak ibadah haji atau dikenal dengan istilah fase Armuzna: Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Rasmanhadi (60), anggota jemaah asal Palembang, Sumatera Selatan, tampak semringah di antara jemaah yang datang melontar jumrah, Minggu (8/6/2025) pagi. Seusai melontar, dia bergembira bersama anggota rombongan lain mengabadikan momen kebersamaan di dekat tiang Jamarat Aqabah. Berseragam batik berwarna coklat, rombongan ini riuh bersenda gurau dan berfoto bersama.
”Alhamdulillah semua selesai. Kami mengambil nafar awal dan akan meninggalkan Mina hari ini. Selanjutnya tinggal menyelesaikan tawaf dan sai dan selesai sudah,” katanya.
Dia tak lagi menyoal perihal jalan kaki dari Muzdalifah ke Mina pada Jumat lalu. Menurut dia, itu pilihan mereka sesama anggota rombongan karena tak ingin berlama-lama di Muzdalifah. Pada akhirnya, yang mereka tuju telah tercapai, bisa menyelesaikan tahapan puncak ibadah haji.
Rombongan jemaah lain yang silih berganti datang ke Jamarat juga sama. Mereka terlihat lebih santai. Seusai melontar jumrah, mereka melakukan shalat Subuh berjemaah di koridor luar sekitar area tiang Aqabah.
Meninggalkan Jamarat, jemaah melanjutkan duduk santai di sekitar terminal bus, di mana penjual makanan dan minuman berjejer. Sebagian menggelar tikar sembari berbincang. Sebagian lagi duduk santai di trotoar menikmati pagi.
Pasangan suami istri Eko Trapsilo dan Siti Otiyah adalah bagian dari jemaah yang pagi itu mengambil nafar awal. Keduanya tinggal di salah satu tenda di Mina.
”Kami di tenda dan alhamdulillah hari ini akan balik ke hotel. Kami sudah menyelesikan lontar jumrah. Senang bisa bersama suami melakukan semua tahapan ibadah,” kata Otiyah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/08/b764e4f5f682eb4ae9ce3007bb58cc69-IMG_2573.jpeg)
Pemandangan ini jauh berbeda dibandingkan Jumat lalu saat jemaah berjalan kaki sekitar 7 kilometer antara Muzdalifah, Mina, dan Jamarat. Wajah-wajah lelah banyak ditemui di sisi kiri-kanan jalan. Bahkan, setelah melontar jumrah, petugas disibukkan dengan evakuasi jemaah yang kelelahan dan sakit. Sebagian jemaah terpisah dari rombongan.
Kementerian Agama memastikan seluruh jemaah telah mengikuti fase Armuzna, terutama wukuf di Arafah. Walau demikian, fase ini diwarnai persoalan tenda dan distribusi.
Di Arafah, sejumlah anggota jemaah baru tiba pada pagi hari, bahkan jelang waktu wukuf. Sementara di Muzdalifah, penumpukan kendaraan yang menyebabkan kemacetan parah membuat banyak anggota jemaah memilih berjalan kaki ke Mina. Kelelahan mendera, apalagi saat mereka memaksakan diri melanjutkan perjalanan ke Jamarat untuk melontar jumrah.
”Atas nama Ketua PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi, saya menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan sebagian jemaah haji Indonesia,” ujar Ketua PPIH Arab Saudi Muchlis M Hanafi, Sabtu (7/6/2025), di Mekkah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/05/1a7f21470a83f1f13f16e2226a9ef88b-WhatsApp_Image_2025_06_05_at_8.01.11_PM.jpeg)
Menurut Mukhlis, ada beberapa hal yang menyebabkan jemaah tidak mendapat tenda di Arafah. Pertama, terdapat sejumlah tenda yang sebenarnya masih menyisakan ruang, tetapi tidak bisa diisi jemaah dengan berbagai alasan.
”Misalnya, tenda berkapasitas 350, sebenarnya baru dihuni 325 jemaah dari satu kelompok, namun tidak dapat diakses jemaah lain, bahkan meski dari markaz (kantor layanan) yang sama,” ujar Mukhlis.
Kedua, skema pemberangkatan jemaah berbasis hotel menyulitkan penataan dan penempatan jemaah. Penempatan jemaah di hotel Mekkah pada dasarnya berbasis markaz dan syarikah. Namun, pada praktiknya ada juga sejumlah anggota jemaah yang memilih pindah hotel meski beda markaz dan syarikah dengan berbagai alasan dan tidak selalu karena penggabungan pasangan.
”Karena sistem keberangkatan dari Mekkah ke Arafah berbasis hotel, bukan berdasarkan markaz atau syarikah, maka tenda-tenda tertentu terisi penuh lebih dulu, bahkan sebelum jemaah yang juga dijadwalkan menempati tenda tersebut tiba di lokasi,” tuturnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/a7b6f1098a2ed306ee26a911bc925bb0-IMG_2357.jpeg)
Persoalan lain adalah jumlah petugas tidak sebanding dengan jemaah. PPIH Arab Saudi telah membagi tugas layanan pada tiga daerah kerja (daker). Daerah Kerja (daker) Bandara bertanggung jawab dalam layanan jemaah di Arafah, Daker Mekkah di Muzdalifah, dan Daker Madinah di Mina.
”Dengan jumlah tidak terlalu banyak, petugas harus berjibaku melayani lebih dari 203.000 anggota jemaah yang tersebar di 60 markaz di Arafah. Ini menyebabkan kesulitan dalam membantu petugas markaz mengatur penempatan secara disiplin. Bahkan, banyak petugas yang kelelahan,” kata Mukhlis.
Sebagian jemaah tidak mendapatkan jatah makan tepat waktu karena data distribusi di markaz/syarikah tidak cocok dengan kondisi riil.
Mobilitas jemaah yang tidak terkendali juga menjadi persoalan. Banyak anggota jemaah berpindah tenda secara sepihak untuk berkumpul dengan kerabat atau kelompok bimbingan dari daerah asal. ”Perpindahan ini memperburuk distribusi beban tenda dan menyulitkan kontrol layanan secara keseluruhan,” paparnya.
Kondisi ini juga berdampak pada gangguan distribusi konsumsi jemaah. ”Sebagian jemaah tidak mendapatkan jatah makan tepat waktu karena data distribusi di markaz/syarikah tidak cocok dengan kondisi riil,” imbuh Mukhlis.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/05/fc7ece1cbacf1832bf4503c4103d45f9-WhatsApp_Image_2025_06_05_at_8.01.12_PM.jpeg)
Walau begitu, situasi bisa segera diselesaikan di antaranya dengan mengalihkan tenda petugas untuk ditempati jemaah. Bahkan, tenda yang berfungsi sebagai mushala dimanfaatkan untuk jemaah. Pihak syarikah juga memberi tambahan tenda, termasuk tenda kerajaan, untuk digunakan jemaah.
Terkait jemaah yang berjalan kaki dari Muzdalifah ke Mina, Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kementerian Agama Hilman Latief menjelaskan, awal pemberangkatan jemaah haji dari Muzdalifah ke Mina sudah sesuai dengan kebijakan Pemerintah Arab Saudi, yaitu dimulai pukul 23.35 waktu Arab Saudi pada 10 Zulhijah 1446 H.
Namun, ketidakkonsistenan jadwal bus karena ada ribuan bus yang dioperasikan dan antrean yang panjang membuat penjemputan tersendat. ”Kondisi tersebut menyebabkan jemaah khawatir. Akhirnya, banyak yang memilih untuk keluar dari pintu Muzdalifah. Hal ini memunculkan arus pergerakan spontan tanpa kendali,” tutur Hilman.
Berdasarkan pantauan di Muzdalifah, saat bus terlambat datang, rombongan jemaah akhirnya bersepakat berjalan kaki. Keputusan ini diambil dengan pertimbangan saat itu masih pagi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/f9410c8c5f004b091b5650896f3e3447-IMG_20250606_WA0001.jpg)
Dalam suasana semacam itu, PPIH Arab Saudi mengingatkan jemaah lansia dan berisiko tinggi untuk tetap berada di Muzdalifah menunggu bus. Namun, karena bergerak dalam rombongan, jemaah lansia pun ikut memilih berjalan kaki.
”Pergerakan jemaah pejalan kaki berdampak pada kemacetan di jalur utama bus. PPIH menerima permintaan dari Kementerian Haji dan syarikah untuk menenangkan jemaah dan menghentikan arus jalan kaki. Namun, situasi sudah tidak dapat dikendalikan,” kata Hilman.
Ia menambahkan, Kemenag berkoordinasi dengan Kementerian Haji Arab Saudi. Salah satunya, meminta Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dan syarikah untuk segera melakukan intervensi dan mempercepat pengiriman bus ke Muzdalifah.
Selain itu, PPIH juga meminta Kementerian Haji agar mitra di Arab Saudi segera mengirimkan bantuan logistik berupa air minum, makanan ringan, dan payung atau pelindung panas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/06/9d5603cbe43e18841fe1fbc60ec56534-IMG_2494.jpeg)
”Alhamdulillah pada pukul 08.50 waktu Arab Saudi, empat kontainer bantuan datang di lokasi jemaah haji Indonesia di Muzdalifah. Koordinasi yang intensif berhasil meminimalisasi potensi dampak lebih buruk. Seluruh jemaah berhasil dievakuasi dari Muzdalifah pukul 09.40 waktu Arab Saudi,” kata Hilman.
Tahun ini, jemaah haji yang tiba di Tanah Suci tercatat 203.149 orang dan tergabung dalam 525 kelompok terbang (kloter). Sebenarnya kuota haji Indonesia adalah 221.000 orang, yang terdiri dari jemaah haji reguler sebanyak 203.320 orang dan sisanya jemaah haji khusus.
Akan tetapi, jemaah reguler yang tiba di Tanah Suci sebanyak 203.149 orang. Sisanya dinyatakan batal berangkat akibat berbagai alasan. Hingga Sabtu (7/6/2025), tercatat sebanyak 150 anggota jemaah wafat. Sebagian besar disebabkan serangan jantung.
Di luar berbagai persoalan yang muncul, PPIH Arab Saudi memastikan seluruh jemaah, bahkan yang sakit, telah menjalani rangkaian puncak ibadah haji. Ada yang ikut dalam skema murur dan ada pula safari wukuf.
Menjelang akhir fase Armuzna, sepanjang Sabtu hingga Minggu (8/6/2025), jemaah haji menuntaskan rangkaian lontar jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Ada yang mengambil nafar awal dan ada pula yang nafar tsani.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/07/520688da830961fcd1243ca2d0c73df9-IMG_2529.jpeg)
Yang mengambil nafar awal secara berangsur akan meninggalkan Mina menuju Mekkah pada hari ini. Sementara yang mengambil nafar tsani baru akan meninggalkan Mina pada 13 Zulhijah atau Senin (9/6/2025) sebelum matahari terbenam.
”Kami siapkan layanan bagi jemaah nafar awal maupun nafar tsani. Layanan, baik tenda maupun konsumsi, di Mina akan tetap diberikan hingga seluruh jemaah kembali ke hotel di Mekkah,” ucap Muchlis.
Penulis:
Reny Sri Ayu dari Mekkah, Arab SaudiEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Nanik Dwiastuti