Jempol Elon Musk yang Menggelisahkan Politik Dunia

Elon Musk gemar berkomentar soal politik di Amerika Serikat sekaligus negara-negara di Eropa. Dia membuat gerah banyak politikus.

09 Jan 2025 09:26 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Ibarat hantu, Elon Musk ada di mana-mana. Jempolnya tidak berhenti mengomentari semua isu tentang politik di media sosial X. Setelah sukses mendukung Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat, giliran cuitan-cuitan orang terkaya nomor satu di dunia ini mengusik politik Eropa.

”Tidak ada yang memercayai Starmer dan itu ada alasannya. Investor tidak akan berinvestasi tanpa kepercayaan. Ia telah menciptakan krisis keuangan bagi Inggris,” cuit Elon Musk di X, Rabu (8/1/2025).

Itu cuitan kesekian Musk yang menjatuhkan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Musk fokus pada politik Inggris sejak Partai Buruh yang berhaluan kiri-tengah terpilih pada Juli 2024. Dia menyebut Starmer sebagai pemimpin jahat yang memimpin negara polisi tirani.

Belakangan, Musk juga berbicara tentang kasus pelecehan anak di Inggris. Beberapa tahun lalu, serangkaian kasus mengguncang kota-kota di Inggris utara. Sekelompok laki-laki berlatar belakang Pakistan diadili atas pelecehan terhadap puluhan gadis yang kebanyakan berkulit putih. Aktivis sayap kanan mengaitkan kasus-kasus tersebut dengan imigrasi dan Islam.

Musk menuduh Starmer gagal membawa pelaku kejahatan tersebut ke pengadilan. Saat itu, Starmer menjabat sebagai Direktur Penuntutan Umum Inggris periode 2008-2013. Starmer membantah tuduhannya.

Di sela-sela kesibukannya, Musk yang juga CEO SpaceX dan Tesla menuntut pembebasan ekstremis anti-Islam Inggris, Tommy Robinson. Semua itu dia bagikan kepada 211,4 juta pengikutnya di X atau dulu Twitter, media sosial yang dibelinya pada 2022. Setiap ciutannya bisa menggaet jutaan views.

Tidak hanya Inggris, Musk bermanuver ke dunia politik Jerman yang akan menggelar pemilu pada 23 Februari 2025. Politik Jerman sedang gonjang- ganjing setelah koalisi tiga partai yang dipimpin Kanselir Olaf Scholz yang berhaluan kiri-tengah runtuh. Musk memilih untuk mendukung partai sayap kanan, AfD (Alternative for Germany), di Jerman.

Pada 20 Desember 2024, Musk mencuit, ”Hanya AfD yang dapat menyelamatkan Jerman”. AfD sedang dalam pengawasan badan intelijen domestik karena diduga melakukan ekstremisme. Pada Kamis (9/1) ini, Musk akan mengadakan obrolan langsung di X dengan salah satu pemimpin AfD, Alice Weidel.

German Chancellor Olaf Scholz delivers a speech at the congress of the Party of the European Socialists (PES) in Berlin on October 15, 2022. (Photo by Tobias SCHWARZ / AFP)

Jadi khawatir

Banyak politikus Eropa khawatir dengan cuitan Musk. Musk banyak mencuit ulang unggahan beraliran sayap kanan dan anti-imigran. Dia menggunakan bahasa kasar, seperti menyebut politikus dengan kata bodoh dan pengecut yang cengeng. Pada November 2024, ia menulis ”Olaf ist ein Narr” yang berarti Olaf (Scholz) itu bodoh. 

Pertanyaannya, apa yang harus politikus lakukan? Haruskah mereka mengabaikan atau membalas? Respons Scholz menunjukkan kegamangan itu.

Menurut Scholz, penting untuk tenang terhadap serangan pribadi, tetapi keterlibatan Musk dalam politik Jerman mengkhawatirkan. Dalam pesan Tahun Baru, Scholz menegaskan, jalan Jerman ke depan ”tidak akan diputuskan oleh pemilik saluran media sosial”, tetapi oleh pemilih Jerman.

Pada Senin (6/1), Presiden Perancis Emmanuel Macron memperingatkan tentang risiko yang ditimbulkan oleh kekuasaan yang tidak terkendali di tangan para miliarder teknologi. Ini juga bisa memberi dampak destabilisasi pada lembaga-lembaga demokrasi.

”Siapa yang dapat membayangkan, 10 tahun yang lalu, bahwa pemilik salah satu jaringan sosial terbesar di dunia akan campur tangan secara langsung dalam pemilihan umum, termasuk di Jerman?” tutur Macron.

Menteri Kesehatan Yunani Adonis Georgiadis mengatakan, perilaku Musk mengganggu. Tidak lucu sama sekali.

”Seseorang tidak bisa begitu saja menggunakan pelantar, kekayaan, dan koneksinya untuk mencoba mendikte bagaimana pemerintahan dibentuk di setiap negara. Ini menjadi semakin berbahaya,” kata Georgiadis kepada Parapolitika Radio.

Perdana Menteri Norwegia Jonas Gahr Store prihatin dengan pernyataan sang miliarder. ”Saya merasa khawatir bahwa seorang pria dengan akses yang cukup besar ke jaringan sosial dan sumber daya ekonomi yang signifikan secara langsung terlibat dalam urusan internal negara lain,” katanya kepada radio publik NRK.

(FILES) Tesla and SpaceX CEO Elon Musk gestures as he steps on stage during a rally for former US President and Republican presidential candidate Donald Trump at Madison Square Garden in New York, October 27, 2024. US President-elect Donald Trump on November 12, 2024, said Tesla and SpaceX CEO Elon Musk will lead a so-called Department of Government Efficiency alongside US entrepreneur Vivek Ramaswamy. (Photo by ANGELA WEISS / AFP)

Sebarkan pandangan

Musk merupakan pembela kebebasan berbicara yang rajin mengkritik upaya untuk mengatur media sosial. Dalam satu kesempatan, ia membandingkan langkah Inggris menyingkirkan misinformasi daring melalui Undang-Undang Keamanan Daring dengan penyensoran di Uni Soviet.

Kini, ia punya pengaruh lebih luas berkat dukungannya kepada Donald Trump. Secara pribadi, Musk menyumbang 200 juta dollar AS untuk kampanye Trump. Setelah Trump menang pada pilpres AS 2024, Musk mendapat jabatan ketua bersama pengusaha Vivek Ramaswamy di Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE).

Profesor Komunikasi Politik di Loughborough University, Andrew Chadwick, mengatakan, Musk menggunakan X layaknya seorang taipan surat kabar kuno. Musk ingin menyebarluaskan pandangan politiknya.

”Musk mulai menyelaraskan dirinya dengan gerakan internasional sayap kanan ekstrem. Jika melihat jenis orang yang didukung Musk di pelantarnya, ia mulai mengumpulkan sekelompok pemengaruh sayap kanan yang berbeda, banyak di antaranya memiliki banyak pengikut, dan menyajikan bukti mereka sebagai dasar intervensinya ke dalam politik Eropa,” ujar Chadwick.

Jika melihat sejarah cuitannya, Musk tidak selalu mendukung Partai Republik yang konservatif. Mengutip The New York Times, pada 2022, ia pernah mengaku independen dan dengan rekam jejak pernah mendukung beberapa politikus Demokrat.

Musk terlihat senang memancing politikus arus utama di media sosial. Akan tetapi, Chadwick berpendapat, masih harus dilihat apakah unggahannya mengubah sikap publik atau membantu tujuan yang ia perjuangkan.

Chadwick menyetujui, ada keraguan di pihak elite politik di Inggris untuk menanggapi pernyataan-pernyataan Musk yang sangat menghasut. Namun, Starmer terlihat mulai mengubah strateginya, Senin lalu. Adapun Inggris keluar dari Uni Eropa (UE) sejak 2020.

Starmer mengecam keras ”kebohongan dan misinformasi” serta menuduh politikus konservatif Inggris yang menggaungkan beberapa poin Musk untuk memperkuat yang dikatakan oleh kelompok sayap kanan. ”Saya menikmati politik yang dinamis, perdebatan sengit yang harus kita lakukan, tetapi itu harus berdasarkan fakta dan kebenaran, bukan kebohongan,” katanya.

Starmer menghadapi seruan untuk memperketat undang-undang Inggris tentang campur tangan asing. Pemerintah di seluruh dunia berada di bawah tekanan untuk meninggalkan X. Baik Pemerintah Inggris maupun Jerman sejauh ini tidak ingin meninggalkan pelantar itu sebab dinilai efektif dalam menyebarkan informasi.

FILE - President-elect Donald Trump poses for a photo with Dana White, Kid Rock and Elon Musk at UFC 309 at Madison Square Garden, Nov. 16, 2024, in New York. (AP Photo/Evan Vucci, File)

Aksi berisiko

Perancis mendesak Komisi Eropa untuk melindungi negara-negara anggotanya. ”Entah Komisi Eropa menerapkan hukum paling tegas untuk melindungi ruang publik kami atau tidak melakukannya, kalau begitu komisi harus setuju memberikan kembali kapasitas untuk melakukannya kepada negara anggota Uni Eropa,” ujar Menteri Luar Negeri Perancis Jean-Noel Barrot kepada radio France Inter.

UE tengah bergelut dengan cara menanggapi unggahan Musk di X. Jika UE berhadapan langsung dengan Musk, ada risiko bermusuhan dengan pemerintahan Trump. Tidak jelas apakah Musk bertindak atas keinginan sendiri atau dengan restu Trump.

Akan tetapi, baru-baru ini Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyebutkan, Musk berbicara sebagai warga negara biasa. ”Warga negara biasa di negara kami dapat mengatakan apa yang mereka inginkan. Dia, seperti warga Amerika lainnya, memiliki hak untuk mengungkapkan pandangannya,” kata Blinken.

Pejabat senior UE mengakui tantangan yang ditimbulkan Musk tentang politik kawasan tersebut. Namun, UE tetap bersikeras UU Layanan Digital (DSA) merupakan instrumen hukum yang cukup kuat.

”DSA secara eksplisit melindungi kebebasan berekspresi daring sebagai salah satu tujuan utamanya. Musk bebas mengekspresikan pendapatnya di UE secara daring dan luring, dalam batasan hukum,” kata Komisioner Eropa untuk Demokrasi, Keadilan, Aturan Hukum, dan Perlindungan Konsumen Michael McGrath.

Selama setahun lebih, Komisi Eropa tengah menyelidiki X berkenaan isu pengekangan kebencian, disinformasi, dan konten berbahaya di media sosial. UE telah melayangkan proses hukum terhadap X berdasarkan UU Layanan Digital.

Juru Bicara UE Thomas Regnier menyatakan akan mengamati wawancara Musk dengan Weidel dari Afd nanti. UE akan mencermati apakah ada perlakuan istimewa yang tidak pantas pada partai tersebut selama periode prapemilu.

Dari segi bisnis, cuitan-cuitan Musk berisiko pula. Komentarnya diawasi ketat oleh investor Tesla karena bisa saja menjauhkan pembeli mobil yang tidak setuju dengan pandangan politiknya.

Kabar Tesla sedang tidak baik-baik saja di Eropa. Pendaftaran baru untuk kendaraan listrik itu turun 13 persen dalam sembilan bulan pertama tahun 2023, menurut penelitian otomotif Jato Dynamics. Di Jerman, pendaftaran Tesla turun 44 persen.

Analis senior Jato Dynamics, Felipe Munoz, mengatakan, keterusterangan Musk jarang terjadi dan berisiko bagi pemilik perusahaan publik meskipun mungkin saja langkah itu membuahkan hasil.

”Eropa menuju ke kanan. Lihat apa yang terjadi di AS. Taruhannya (Musk) pada Trump berhasil. Dia memainkan permainan yang sama di Eropa,” kata Munoz. (AP/AFP/Reuters)


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .