HAMAS-ISRAEL

Jenazah Sandera Terakhir Dipulangkan, Gencatan Senjata Gaza Masuki Tahap Rumit

Babak pertukaran sandera sudah selesai. Babak selanjutnya akan lebih rumit, seperti transisi ke struktur pemerintahan baru di Gaza.

27 Jan 2026 09:30 WIB · Internasional

AFP/Omar AL-QATTAA

Oleh Luki Aulia

JERUSALEM, SELASA — Jenazah sandera terakhir di Gaza sudah diidentifikasi bernama Ran Gvili dan dibawa pulang ke Israel. Kini gencatan senjata antara Israel dan Hamas memasuki tahapan baru yang lebih rumit, termasuk transisi ke struktur pemerintahan baru di Gaza.

Kantor berita Associated Press, Selasa (27/1/2026), menyebutkan, jenazah Gvili, seorang polisi, ditemukan di sebuah pemakaman di Gaza utara, tepat di seberang ”garis kuning” yang membagi Gaza di sisi Israel. Ia tewas saat serangan Hamas pada Oktober 2023.

Tahapan gencatan senjata selanjutnya kemungkinan adalah pembukaan kembali perbatasan Gaza dengan Mesir.

This undated photo provided by the Hostages and Missing Families Forum shows Israeli hostage Ran Gvili, who was abducted and brought to Gaza in the Hamas attack on Oct. 7, 2023. (Hostages and Missing Families Forum via AP)

Dengan membuka perbatasan, warga Palestina bisa kembali bebas bepergian dan memungkinkan lebih banyak bantuan masuk ke Gaza. Rencana tahap kedua gencatan senjata meliputi pengerahan pasukan keamanan internasional, pelucutan senjata Hamas, penarikan tentara Israel, dan pembangunan kembali Gaza.

Namun, warga Palestina di Gaza mempertanyakan apakah gencatan senjata tahap berikutnya akan memperbaiki kondisi hidup mereka. Mereka merujuk pada masih terjadinya pertumpahan darah dan tantangan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling mendasar.

Juru bicara Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Stephane Dujarric, mendorong penerapan kesepakatan gencatan senjata selanjutnya. Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan sudah bertemu dengan para pejabat Hamas di Ankara untuk membahas tahap kedua gencatan senjata.

Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, mengingatkan, kembalinya sandera terakhir menunjukkan komitmen Hamas pada gencatan senjata. ”Ini komitmen Hamas terhadap semua persyaratan perjanjian gencatan senjata di Jalur Gaza, termasuk proses pertukaran tahanan dan penutupannya secara menyeluruh sebagaimana diatur dalam perjanjian,” ujarnya.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menganggap ini pencapaian luar biasa bagi Israel dan pasukannya. Israel berulang kali menuduh Hamas mengulur-ulur waktu dalam pencarian Gvili. Sementara Hamas mengatakan sudah memberikan semua informasi yang dimiliki dan berbalik menuding Israel yang menghalangi upaya itu.

Gvili (24) termasuk di antara sandera pertama yang dibawa ke Gaza. Mesir, Qatar, dan Turki ikut membantu proses berbicara dengan Hamas terkait jenazah Gvili.

Pembebasan semua sandera yang tersisa, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal, merupakan bagian penting dari tahap pertama gencatan senjata di Gaza.

Sebelum jenazah Gvili ditemukan, 20 sandera yang masih hidup dan jenazah 27 orang lainnya sudah dikembalikan ke Israel sejak gencatan senjata. Israel sudah membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina berdasarkan kesepakatan gencatan senjata.

Banyak dari tahanan itu ditangkap Israel selama perang dua tahun dan ditahan tanpa dakwaan. Israel juga sudah mengembalikan 300 jenazah warga Palestina ke Gaza dan mayoritas sulit diidentifikasi.

Kantor Netanyahu, Minggu, menyatakan, setelah pencarian Gvili selesai, Israel akan membuka penyeberangan Rafah antara Gaza dan Mesir. Penyeberangan itu sebagian besar ditutup sejak Mei 2024, kecuali untuk periode singkat pada awal tahun lalu.

”Tahap selanjutnya adalah pelucutan senjata Hamas dan demiliterisasi Jalur Gaza. Tahap selanjutnya bukan rekonstruksi,” kata Netanyahu.

Wakil Direktur Eksekutif Unicef Ted Chaiban mengatakan, tahapan selanjutnya perlu mencakup upaya membawa lebih banyak pasokan bantuan kemanusiaan. Selain itu, diperlukan material untuk membangun tempat tinggal permanen dan perbaikan infrastruktur.

Seorang pejabat AS yang tak mau disebutkan namanya meyakini bahwa pelucutan senjata Hamas akan disertai dengan semacam amnesti bagi Hamas. Para pejabat di AS yakin Hamas akan mau melucuti senjatanya.

(FILES) Egyptian army soldiers guard their side of the Rafah crossing, closed since early May, on July 4, 2024, as the conflict between Israel and the Palestinian Hamas movement continues. Israel said on January 26, 2026, it would only allow pedestrians to travel through the Rafah crossing between Gaza and Egypt as part of its "limited reopening" once it has recovered the remains of the last hostage in the Palestinian territory. (Photo by Giuseppe CACACE / AFP)

”Kami mendengarkan banyak orang berbicara tentang pelucutan senjata. Kami pikir mereka akan melakukannya. Jika tidak melucuti senjata, mereka melanggar kesepakatan. Kami pikir soal pelucutan senjata disertai dengan semacam amnesti dan terus terang kami memiliki program yang sangat baik untuk melucuti senjata,” kata pejabat itu.

Kedutaan Besar Israel di Washington tidak menanggapi pertanyaan tentang apakah Israel akan menyetujui amnesti untuk anggota Hamas jika mereka menyerahkan senjata. Berdasarkan rencana Gaza 20 poin yang digagas Presiden AS Donald Trump, setelah semua sandera dikembalikan, anggota Hamas yang berkomitmen untuk hidup berdampingan secara damai dan melucuti senjata mereka akan diberikan amnesti. Berdasarkan rencana itu, anggota Hamas yang ingin meninggalkan Gaza akan diberikan jalan aman ke negara penerima. (REUTERS/AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra