Tidak seperti pernyataan Kepala Basarnas, sejumlah wilayah terdampak di Aceh, terutama di Tanah Gayo, masih terisolasi. Warga menjerit berharap bantuan segara tiba.
03 Des 2025 15:41 WIB · Lingkungan
DOK RELAWAN PEMUDA GAYO-BANDA ACEH
Berbeda dengan pernyataan Kepala Badan SAR Nasional M Syafi’I yang menyebut sudah tidak ada wilayah terisolasi akibat bencana hidrometeorologi di Sumatera, warga terdampak bencana di Tanah Gayo, Aceh, justru mengaku masih terisolasi dari akses transportasi dan telekomunikasi. Menurut warga di sana, bantuan sebutir beras pun belum mereka terima.
”Sekarang, masyarakat bertahan dengan sisa makanan yang selamat dari bencana. Ada juga yang mencari makanan dari kebun yang selamat, seperti pisang dan ubi. Tapi, stok makanan mereka rata-rata hanya untuk tiga hari lagi. Lebih dari itu tanpa bantuan, korban mungkin akan berjatuhan karena kelaparan dan sakit,” ujar Relawan Pemuda Gayo-Banda Aceh, Miko Munthe, kepada Kompas, Rabu (3/12/2025).
Sebelumnya, dilansir dari Kompas.com, Syafi’i dalam wawancara di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (2/12/2025), mengklaim akses ke wilayah terdampak yang terisolasi sudah terbuka. Buktinya, tidak ada lagi laporan bahwa ada wilayah yang terisolasi. ”Saat ini, sudah tidak ada laporan tentang itu,” ujarnya.
Syafi’i menyatakan, tidak ada wilayah yang benar-benar terisolasi. Sebab, wilayah yang akses daratnya terputus masih bisa dikirimkan bantuan melalui udara atau laut. ”Tidak ada kata-kata daerah terisolasi karena kita bisa menjangkau entah itu dengan pesawat ataupun dengan kapal,” katanya.
Menurut Syafi’i, suatu wilayah disebut terisolasi jika akses transportasi darat dan jaringan telekomunikasinya putus. ”Daerah terisolasi itu karena sarana darat tidak bisa masuk, listrik padam, dan komunikasi terputus,” tuturnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/03/29d9dfc8-891f-4818-8f7b-54e21f734b50.jpg)
Miko mengatakan, pernyataan Syafi’i itu sangat menyayat hati masyarakat di wilayah pegunungan Aceh atau Tanah Gayo, meliputi Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues. Pasalnya, hingga saat ini, ribuan masyarakat Gayo yang terpencar di sejumlah desa atau kecamatan di tiga kabupaten tersebut masih terisolasi.
”Bukan hanya warga umum yang tinggal di desa, kecamatan, ataupun kota yang terisolasi. Bahkan, tentara yang tinggal di barak juga ada yang terisolasi, antara lain tentara di kompi pamar yang berada di perbatasan Aceh Tengah dan Pidie,” ungkapnya.
Menurut Miko, pihaknya berhasil berkomunikasi dengan sejumlah warga Gayo yang masih bisa memanfaatkan jaringan internet dari perangkat Starlink yang dinyalakan menggunakan panel surya. Perangkat Starlink dan panel surya itu merupakan barang milik kantor desa yang berada di wilayah terpencil yang selamat dari bencana.
”Sebenarnya, hampir tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang di sana. Sebab, jaringan komunikasi mereka masih sangat susah. Saat ini, kami hanya menunggu saja kabar dari mereka ketika mereka dapat jaringan untuk berkomunikasi,” ucapnya.
Dengan jaringan internet yang sangat tidak stabil, warga Gayo yang terdampak bencana berusaha menyampaikan informasi secara bertahap ke Banda Aceh. Mereka mengisahkan, hampir semua wilayah terdampak di Tanah Gayo masih terisolasi.
Akses transportasi darat putus, listrik padam, dan jaringan komunikasi lumpuh. Mereka setengah mati menyampaikan kabar ke orang-orang di luar, terutama ke Banda Aceh.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/02/91df5d38-9727-430f-9cc4-7dd47a5d6953.jpg)
Hingga saat ini, menurut Miko, warga Gayo mengaku belum menerima bantuan apa pun. Bahkan, bantuan sebutir beras pun belum mereka terima. Sebaliknya, bantuan melalui udara yang katanya sudah mulai didistribusikan, ternyata hanya menjangkau wilayah tertentu saja.
”Helikopter pembawa bantuan hanya sekali singgah ke Takengon, Aceh Tengah. Itu pun ke wilayah kota. Belakangan diketahui, itu ternyata bantuan untuk salah satu partai politik. Mereka dapat Starlink dan beberapa bahan pokok. Selain itu, sempat masuk helikopter pembawa bantuan ke Bener Meriah. Setelah itu, belum ada lagi helikopter yang singgah membawa bantuan,” papar Miko.
Saat ini, Miko menyampaikan, warga Gayo di wilayah terdampak berusaha bertahan dengan sisa makanan yang selamat dari bencana. Ada pula yang mencari sisa makanan di kebun, seperti pisang, ubi-ubian, dan buah-buahan hutan.
Warga tidak bisa mencari pertolongan ke wilayah lain. Sebab, hampir semua akses jalan darat terputus, baik jalan antardesa, antarkecamatan, antarkabupaten, maupun antarprovinsi. Akses jalan darat terputus karena banyak jalan yang rusak akibat amblas, tertutup longsor, serta jembatan penghubung yang ambruk.
Berjalan kaki menembus hutan juga bukan pilihan gampang. Pasalnya, jika melalui jalan darat dengan kondisi normal, waktu tempuh antara desa dan pusat kecamatan saja bisa mencapai 1 jam. Jika melalui hutan, jarak tempuh akan lebih jauh dan medan perjalanan juga sangat sulit serta berbahaya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/03/7f5513aa-09f5-4c7b-8928-5cd53587a120.jpg)
Oleh karena itu, kata Miko, situasi di Tanah Gayo disebut sudah sangat darurat. Masyarakat tidak bisa menunggu bantuan datang lebih lama lagi. Sebab, stok makanan yang tersisa hanya untuk tiga hari ke depan. Lebih dari itu, mereka akan kelaparan dan kahausan.
Bahkan, bukan tidak mungkin bakal timbul korban karena warga kelaparan dan sakit. ”Sekarang, tolong antarkan makanan minimal beras dahulu untuk warga di sana. Mereka sudah tidak sanggup menunggu. Jangan sampai nanti timbul korban karena warga kelaparan ataupun sakit,” kata Miko penuh harap.
Dia menambahkan, demi mendapatkan perhatian dari armada helikopter ataupun pesawat yang mengirim bantuan, sejumlah warga Gayo pun membuat tanda dengan ukuran besar di darat. Salah satunya, mereka membuat huruf H berukuran besar yang identik sebagai tanda untuk landasan helikopter. Tujuannya, agar ada helikopter pembawa bantuan yang mendarat di sana.
Di sisi lain, sejumlah akun media sosial mengenai Gayo berulang kali mengunggah pernyataan satir dengan meminta pertolongan kepada Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Mereka berharap dua pemimpin negara itu mengirimkan helikopter ataupun bantuan ke wilayah Gayo.
Pernyataan itu dibuat karena masyarakat Gayo sudah pesimistis dengan perhatian dari pejabat tinggi Indonesia. ”Ada banyak helikopter atau pesawat di Sumatera Utara dan Sumatera Barat, tetapi kenapa sangat terbatas untuk Aceh. Tolong tambah armada udara untuk pengirim bantuan ke Aceh supaya bantuan bisa segera diberikan ke wilayah yang masih terisolasi, terutama di Gayo,” tutur Miko.
Terkait jumlah korban akibat bencana di Tanah Gayo, Miko menuturkan, jumlahnya belum diketahui persis karena proses pendataan dan pelaporan masih terkendala jaringan komunikasi. Yang pasti, jumlah korban meninggal, hilang, luka-luka, ataupun sakit diprediksi sangat besar. ”Sebagai gambaran, ada satu desa di kawasan Delung Sekinel Jamat, Kecamatan Linge, Aceh Tengah, yang rata dengan tanah karena hanyut disapu banjir bandang,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/02/03fa752fab4e8e1b02eabf303eb8f810-20251202TOK6.jpg)
Juru Bicara Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh Murthalamuddin tidak membantah bahwa banyak wilayah terdampak bencana yang masih terisolasi, terutama di Tanah Gayo. Alasannya, banyak jalan dan jembatan yang putus. Ada jalan yang amblas, ada jalan yang tertimbun longsor, dan ada jembatan yang hanyut.
Proses pembukaan akses yang terputus itu pun bukan perkara mudah. Pasalnya, akses yang terputus sangat luas dan banyak. Contohnya, saat berhasil membuka akses jalan nasional, ternyata masih ada jalan provinsi, jalan kabupaten, jalan kecamatan, ataupun jalan desa yang putus.
Jika pun ada wilayah yang bisa dikunjungi melalui udara, seperti ke Bandara Rembele di Bener Meriah, perjalanan dari bandara ke lokasi di sekitarnya belum bisa dilakukan karena banyak jalan dan jembatan yang putus. Itu membuat proses pembukaan akses yang terputus masih butuh waktu yang cukup panjang. ”Semua pihak terus bekerja mati-matian untuk membuka akses yang terputus,” kata Murthalamuddin.
Ia mengatakan, terputusnya banyak akses jalan itu semakin menyulitkan proses evakuasi ataupun pendistribuan bantuan. Saat ini, proses evakuasi dan pendistribusian bantuan mengandalkan armada udara milik TNI, yakni helikopter dan pesawat.
Namun, petugas udara belum bisa berkoordinasi sepenuhnya dengan warga di darat dalam menentukan titik koordinat karena jaringan komunikasi masih terganggu. Hal itu membuat petugas udara tidak tahu pasti harus membawa ataupun menjatuhkan bantuan ke mana.
Semua pihak terkait terus berusaha memulihkan jaringan komunikasi. Mereka sudah mengirim bantuan perangkat internet Starlink dan genset untuk menyalakan Starlink ke sejumlah wilayah terdampak. Akan tetapi, belakangan bahan bakar minyak (BBM) sulit didapat. Akibatnya, genset tidak bisa dioperasikan dan Starlink tidak bisa dinyalakan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/01/7490a86db3f83f1379f33b58b3946219-antarafoto_kondisi_sungai_pascabanjir_bandang_di_aceh_tenggara_1764573999.jpg)
Di sisi lain, PLN dan Pertamina kemungkinan tidak bisa mengatasi semua kendala itu dalam waktu dekat. Perbaikan jaringan listrik PLN harus dilakukan dengan membangun menara jaringan listrik baru karena yang lama sudah ambruk ataupun rusak parah.
Material bangunan itu tidak bisa dibawa melalui akses darat sehingga harus diangkut secara bertahap dengan transportasi udara. Karena itu, target jaringan listrik pulih pada Sabtu (6/12/2025) dirasa sulit untuk tercapai.
Demikian juga dengan Pertamina. Penambahan stok BBM mungkin bisa berjalan lancar di wilayah pesisir. Akan tetapi, saat akan disalurkan ke wilayah lain, terutama di Tanah Gayo, hal itu masih terkendala karena terputusnya sejumlah akses jalan darat.
”Dampak yang ditimbulkan akibat terputusnya akses jalan darat sangat kompleks. Tapi, yang paling utama harus segera dibenahi adalah jaringan listrik. Dengan pulihnya jaringan listrik, petugas bisa berkoordinasi dengan masyarakat agar bantuan bisa didistribusikan secara cepat dan tepat,” tutur Murthalamuddin.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/03/d138a589-9236-4d2e-9820-0326c56c6b38.jpg)
Mengenai stok bantuan, Murthalamuddin menuturkan, jumlahnya mencukupi. Hingga Selasa malam, ada stok yang mencapai 22.000 ton. Namun, karena terkendala akses untuk pendistribusian, stok bantuan itu masih tertahan di sejumlah tempat penyimpanan atau penampungan, antara lain di Banda Aceh dan Lhokseumawe.
Meski demikian, proses pendistribusian bantuan tetap dilakukan semaksimal mungkin. Selain menggunakan transportasi udara dan laut, pendistribusian pun tetap diusahakan melalui akses darat, salah satunya dengan membuat rantai manusia.
”Ada sejumlah akses menuju wilayah terdampak yang masih digenangi lumpur ataupun tumpukan sampah cukup tinggi. Untuk menyalurkan bantuan ke wilayah tersebut, tim gabungan membentuk rantai manusia guna mengangkut bantuan secara bergantian,” ujarnya.
Dampak yang ditimbulkan akibat terputusnya akses jalan darat sangat kompleks. Tapi, yang paling utama harus segera dibenahi adalah jaringan listrik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/29/24bde1973721d3b247df8a8cb11c0d51-antarafoto_penyisiran_daerah_terdampak_banjir_di_pidie_jaya_1764401916.jpg)
Asisten II Sekretaris Daerah Aceh Zulkifli mengatakan, hingga Selasa (2/12/2025) pukul 20.00 WIB, ada 3.310 kampung dari total 6.497 kampung di Aceh yang terdampak bencana. Semua kampung yang terdampak itu tersebar di 229 kecamatan di 18 kabupaten/kota dari total 23 kabupaten/kota di Aceh.
Bencana itu telah menimbulkan banyak korban jiwa dan kerusakan yang sangat masif. Setidaknya, tercatat 249 orang meninggal, 227 hilang, 403 jiwa luka berat, dan 1.435 jiwa luka ringan. ”Kita perlu mempercepat proses evakuasi, khususnya terhadap korban luka-luka yang berada di wilayah yang belum terjangkau tim pencarian dan pertolongan (SAR),” kata Zulkifli.
Bencana itu juga menyebabkan 157.321 keluarga atau 660.642 jiwa mengungsi. Mereka tersebar di 828 titik pengungsian. Keadaan mereka semakin sulit karena sejumlah fasilitas di sekitarnya mengalami kerusakan yang turut menyebabkan akses dari dan menuju wilayah terdampak terisolasi.
Berdasarkan data, setidaknya 77.049 rumah, 139.444 hektar sawah, dan 12.012 hektar kebun mengalami kerusakan, serta 182 ternak mati. Kerusakan turut melanda 201 sekolah, 138 perkantoran, 51 tempat ibadah, dan 4 pondok pesantren. Adapun 302 titik jalan dan 152 jembatan putus.
Sejauh ini, pemerintah Aceh menerima 8.703 item logistik atau 51.216 ton dan yang sudah disalurkan sebanyak 6.656 item atau 28.605 ton. Sisanya sekitar 2.047 item atau 22.711 ton masih tersimpan di berbagai tempat.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/11/30/4b14036c-1243-4dec-be81-19de77e17a7f.jpg)
Bantuan yang masih tersisa itu diminta segera didistribusikan. Sebab, masih ada lokasi yang belum mendapatkan bantuan sama sekali. ”Kita perlu segera identifikasi secara jelas mengenai kendala yang terjadi di lapangan agar penyaluran bantuan bisa dipercepat, terutama ke wilayah yang masih terisolasi dan titik pengungsian padat,” tutur Zulkifli.
Keberadaan wilayah terdampak bencana yang masih terisolasi merupakan fakta. Terbukti, masyarakat di Tanah Gayo menjerit karena segenap akses dari dan menuju wilayah terdampak di sana masih terputus. Fakta itu diharapkan mengetuk hati pihak-pihak yang berempati untuk segera memberikan pertolongan ke semua wilayah yang masih terisolasi.
Penulis:
Adrian FajriansyahEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra