Jet Tempur Turki ”KAAN”, antara Penguasaan Teknologi dan Kemandirian Dalam Negeri

Keunggulan berupa teknologi siluman digadang-gadang jadi faktor menentukan. Peluang apa yang bisa diperoleh Indonesia dengan membeli jet tempur siluman KAAN?

29 Jul 2025 23:59 WIB · Politik & Hukum

Oleh Norbertus Arya Dwiangga Martiar

Indonesia telah menyetujui pembelian 48 jet tempur KAAN buatan industri pertahanan Turki, Turkish Aerospace Industries. Dengan demikian, Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang membeli jet tempur siluman tersebut. Untuk mendukung fitur siluman, KAAN dirancang memiliki tempat tersembunyi di dalam badan pesawat.

Namun, untuk beberapa fitur masih membutuhkan improvement. Di sisi lain, Turki telah dikeluarkan dari program pengembangan jet F-35 oleh Amerika Serikat. Lantas, apakah pemilihan KAAN tetap strategis bagi Indonesia?

Kerja sama pengembangan dan produksi bersama jet tempur dengan Turkish Aerospace Industries akan dilakukan oleh PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Direktur Utama PT DI Gita Amperiawan mengatakan, keterlibatan PT DI nanti diharapkan mencakup partisipasi dalam program transfer teknologi utama, yang memosisikan Indonesia untuk mendapatkan manfaat dari kemampuan jet tempur canggih, avionik generasi terdepan, dan fitur desain yang mutakhir. 

Quote

Keterlibatan PT DI nantinya diharapkan mencakup partisipasi dalam program transfer teknologi utama.

Untuk itu, PT DI telah menandatangani kerja sama dalam kerangka framework agreement untuk keterlibatan industri nasional dalam pengembangan dan produksi komponen strategis jet tempur besutan Turkish Aerospace Industries.  

”Kolaborasi ini juga akan membuka jalan bagi PT DI untuk memperkuat kapabilitas engineering dan manufaktur di sektor pesawat jet tempur sekaligus meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri dalam rantai pasok global,” kata Gita sebagaimana dikutip dalam keterangan tertulis.

Jet tempur generasi lima milik Turki, KAAN.

Dipaksa membangun lengkap

Adapun jet tempur KAAN dikembangkan sejak 2010. Nama KAAN berarti ”penguasa”. Mengutip laman bussinesinsider.com, pada mulanya, KAAN dimaksudkan untuk melengkapi F-35 yang sedianya akan diterima Turki dari AS.

Dalam program tersebut, Turki merupakan mitra tier ketiga. Di situ, perusahaan-perusahaan Turki menyediakan sekitar 900 komponen untuk pesawat F-35, termasuk saluran masuk udara, panel eksterior untuk badan pesawat, pintu ruang senjata, serta komponen dan struktur lainnya. 

Masih dalam program F-35, Turkish Aerospace Industries juga disebut sebagai pemasok badan pesawat bagian tengah F-35. Ini merupakan struktur penting yang menghubungkan sayap ke badan pesawat dan sebagian menampung tangki bahan bakar jet, ruang senjata, serta sebagian avionik.

Dengan dikeluarkannya Turki dari program F-35, hal itu memaksa Turki untuk mengembangkan jet tempur KAAN menjadi pesawat tempur generasi kelima yang lengkap. Replika skala penuh jet tempur KAAN dipamerkan pada 2019 di ajang Paris Air Show. Kemudian, prototipe pertama KAAN melakukan penerbangan perdana pada Februari 2024.

Jet tempur KAAN dirancang memiliki kemampuan untuk melakukan pertempuran udara ke udara dan serangan ke darat. Untuk mendukung fitur siluman, KAAN dirancang memiliki tempat tersembunyi di dalam badan pesawat dan mampu membawa seluruh jenis rudal buatan Turki. Menurut rencana, pengujian senjata akan dimulai pada 2026.

Selain itu, KAAN dirancang sebagai jet tempur siluman bermesin ganda yang dikembangkan Turkish Aerospace Industries sejak 2010 untuk menggantikan F-16 Turki. Posisi KAAN bagi Turki menjadi semakin strategis setelah Turki dikeluarkan dari program F-35 pada 2019 oleh AS karena membeli sistem pertahanan udara Rusia, S-400.  

Direktur Utama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) Gita Amperiawan di dalam ajang pameran pertahanan internasional (IDEF) 2025 di Istanbul, Turki.

Sebenarnya, teknologi siluman bukanlah hal baru. Misalnya, pesawat pengebom B-2 Spirit yang menjatuhkan bom ke tiga fasilitas nuklir di Iran merupakan pesawat siluman yang dirancang di era 1980-an dan terbang perdana pada 1997. Sementara itu, jet tempur siluman F-22 Raptor sudah mulai dioperasikan Angkatan Udara AS sejak 2005.

Bagi negara yang tidak menguasai teknologi jet tempur siluman, membeli dari negara lain merupakan jalan satu-satunya. Namun, membeli dari negara lain juga memiliki keterbatasan, seperti harus mengikuti ketentuan yang dibuat negara produsen dan adanya beberapa teknologi yang tidak bisa diakses. 

Hal itu yang sempat dihadapi Turki hingga akhirnya memilih untuk membangun jet tempur sendiri, yakni KAAN. Demikian pula Korea Selatan dengan jet tempur KF-21. Dengan konsistensi yang dilakukan, diyakini negara-negara yang mulai membangun pesawat tempur akan segera menyusul negara tradisional produsen jet tempur siluman, seperti AS dengan jet tempur F-22 dan F-35, Rusia dengan jet tempur Su-57, dan China dengan jet tempur J-20.

Quote

Dengan konsistensi yang dilakukan, diyakini negara-negara yang mulai membangun pesawat tempur akan segera menyusul negara tradisional produsen jet tempur siluman, seperti AS.

Bahkan, kabarnya, selain Indonesia, ada beberapa negara lain yang disebut melakukan perundingan untuk pengembangan pesawat KAAN. Misalnya Azerbaijan disebut telah menandatangani kerja sama untuk mengembangkan dan memproduksi jet tempur KAAN bersama Turki. Pakistan juga disebut sedang berdiskusi untuk mendirikan pabrik bersama untuk memproduksi jet tempur KAAN. 

Sementara, Mesir dan Malaysia disebut telah ditawari untuk ambil bagian dalam program KAAN sebagai mitra produksi. Adapun Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Ukraina disebut-sebut berminat untuk membeli jet tempur tersebut meski belum ada realisasi lebih lanjut.

Purwarupa perdana pesawat pembom B-21 ditunjukkan kepada umum di hangar Northrop Grumman, California, Jumat (2/12/2022) malam. pesawat B-21 Raider disebut lebih canggih dibanding jet tempur F-35.

Jangka waktu 120 bulan

Minat banyak negara untuk memiliki jet tempur generasi kelima semakin besar. Keunggulan berupa teknologi siluman digadang-gadang menjadi faktor yang menentukan dalam medan tempur modern. Sebab, suatu operasi dapat dilakukan secara senyap, presisi, dan mematikan karena bisa menyasar langsung ke jantung pertahanan.

Walakin, segera setelah jet tempur KAAN diterima, Indonesia bakal menjadi operator pertama jet tempur KAAN di luar Turki. Hal ini bisa terjadi berangkat dari penandatanganan kontrak pembelian antara Pemerintah RI dan Pemerintah Turki dalam rangkaian pameran pertahanan internasional (IDEF) 2025 di Istanbul, Turki, Sabtu (26/7/2025).

Penandatanganan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan pemerintah kedua negara yang telah ditandatangani pada 11 Juni 2025, yakni pada saat Indo Defence Expo and Forum dilangsungkan di Jakarta.

Nilai kontrak yang ditandatangani untuk 48 jet tempur KAAN adalah 10 miliar dollar AS atau sekitar Rp 164,1 triliun. Jika tidak ada aral melintang, Turkish Aerospace Industries akan mengirimkan pesawat tersebut secara bertahap dalam jangka waktu 120 bulan, mulai 2028 sampai 2035.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan Frega Wenas mengatakan, momen penandatanganan kesepakatan tersebut menegaskan komitmen kedua negara untuk memperkuat pengembangan teknologi bersama dan membangun kapasitas industri pertahanan di Indonesia (Kompas.id, 28/7/2025).

Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Kementerian Pertahanan KOMPAS/IWAN SETIYAWAN (SET) 30-01-2025

Hadapi tantangan

Untuk mesin, di tahap awal KAAN akan ditopang dua mesin F110-GE-129, dua mesin jet buatan General Electric yang juga digunakan pada jet tempur buatan AS, yakni F-16 dan F-15. Namun, penggunaan mesin tersebut sekaligus menimbulkan pertanyaan terhadap fitur siluman jet tempur KAAN. Sebab, mesin tersebut tidak dirancang khusus untuk mengurangi jejak inframerah dan pantulan radar sebagaimana digunakan di mesin jet siluman.

Untuk mengantisipasi hal itu, Turki tengah mengembangkan mesin TF-X buatan dalam negeri. Direncanakan kedua mesin itu akan diintegrasikan secara penuh ke jet tempur KAAN pada 2032. Dengan demikian, ketergantungan terhadap pihak luar dapat diantisipasi.

Quote

Peluang bagi Indonesia untuk bisa ikut serta dalam proses transisi teknologi ketika mesin buatan Turki mulai diintegrasikan.

Pengamat pertahanan dari Institute for Security and Strategic Studies, Khairul Fahmi, saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (29/7/2025), berpandangan, jet tempur KAAN generasi awal memang masih menggunakan beberapa komponen yang diproduksi AS. Dengan demikian, meski platform pesawat dibuat Turki, masih ada ketergantungan terhadap komponen strategis dari AS.

"Ini yang disebut risiko ketergantungan berlapis. Tapi saya kira kita tidak terlalu khawatir karena ini hal lumrah dalam fase awal pengembangan teknologi alutsista pesawat generasi kelima. Mesin lokalnya kan sedang dikembangkan dan akan digunakan sebelum 2032," tutur Khairul.

Menurut Khairul, yang perlu dilihat adalah konteks besarnya. Produksi massal KAAN akan dimulai pada 2028 dan kontrak Indonesia akan dijalankan selama 10 tahun. Dengan demikian, masih ada ruang strategis bagi Indonesia untuk mengelola risiko tersebut sedari awal. Sementara Turki sedang menyiapkan mesin baru yang ditargetkan siap sebelum 2032.

”Hal itu menjadi peluang bagi Indonesia untuk bisa ikut serta  dalam proses transisi teknologi ketika mesin buatan Turki mulai diintegrasikan. Dengan masuk lebih awal, justru akan memberi kita posisi tawar yang lebih baik, seperti menegosiasikan jaminan pasokan, termasuk mendorong keterlibatan industri nasional lebih jauh,” kata Khairul.

Sebuah foto yang dikeluarkan Kementerian Pertahanan Korea Selatan memperlihatkan pesawat pembom B-52 milik Angkatan Udara Amerika Serikat bersama sejumlah jet tempur F-22 dan pesawat logistik pengangkut C-17 melintas di atas Semenanjung Korea pada latihan militer udara bersama, 20 Desember 2022. (South Korean Defense Ministry via AP)

Oleh karena itu, sambung Khairul, keputusan pembelian ini dinilai bukan keputusan yang reaktif, melainkan rencana jangka panjang yang matang. Pemerintah dinilai juga sudah aktif mencari peluang kerja sama untuk industri dalam negeri.

Bagaimanapun, seperti diungkapkan Marsekal (Purn) Chappy Hakim, KSAU periode 2002-2005, dalam bukunya, Keamanan Nasional dan Penerbangan, bahwa kemajuan teknologi pasti akan berpengaruh langsung pada sistem pertahanan keamanan negara. Karena kemajuan teknologi perkembangan begitu cepat, maka proses pengadaan sistem senjata, khususnya pesawat terbang, harus berorientasi penuh pada upaya mengatasi ketertinggalan teknologi.

”Pengadaan pesawat terbang sebagai sistem senjata harus mengacu pada proses usaha lompatan teknologi,” ujarnya.

Selain membeli 48 jet tempur KAAN asal Turki, sebelumnya Indonesia juga menandatangani kontrak pembelian 48 jet tempur Rafale asal Perancis dan juga membangun kerja sama dengan Korea Selatan dalam program pesawat tempur KFX/IFX. Harapan besar pun digantungkan agar pembangunan pertahanan ini diiringi dengan merajut kemandirian industri dalam negeri. 


Kerabat Kerja

Penulis:

Norbertus Arya Dwiangga Martiar
 | 

Editor:

Madina Nusrat
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan