Keikutsertaan Iran di Piala Dunia 2026 terancam. Selain persiapan tim terganggu, Amerika Serikat juga berpotensi tidak memberikan visa masuk untuk skuad Iran.
01 Mar 2026 16:36 WIB · Olahraga
KOMPAS/MUHAMMAD IKHSAN MAHAR
Serangan koalisi Amerika Serikat dan Israel ke sejumlah wilayah di Iran berpotensi memengaruhi partisipasi tim nasional sepak bola Iran di Piala Dunia 2026. Ancaman terhadap keikutsertaan Iran bukan sekadar persiapan ”Tim Melli” yang terganggu, melainkan juga indikasi AS untuk memblokir kehadiran Iran di Amerika Utara pada musim panas nanti.
Iran—yang akan menjalani partisipasi ketujuh di Piala Dunia—tergabung di Grup G Piala Dunia 2026 bersama Selandia Baru, Belgia, dan Mesir. Salah satu duta Asia itu akan memulai persaingan pada 16 Juni pukul 08.00 WIB dengan menghadapi Selandia Baru.
Dua laga awal Iran di Piala Dunia 2026 akan berlangsung di Stadion SoFi, Inglewood, Los Angeles, AS. Laga pamungkas Iran di babak penyisihan bakal berlangsung di Stadion Lumen Field, Seattle, AS.
Tentu tidak ada jaminan dari Pemerintah AS untuk memberikan visa kepada pemain dan staf pelatih Iran untuk Piala Dunia 2026. Meskipun FIFA menjamin semua pemain dan ofisial peserta akan mendapat visa untuk masuk wilayah AS, nasib skuad Iran benar-benar berada di tangan AS.
Sebagai contoh, Presiden Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) Mehdi Taj tidak bisa menuju AS pada undian babak grup Piala Dunia 2026, Desember 2025, akibat masalah visa. Hal serupa dialami beberapa petinggi FFIRI.
Taj menyebut bahwa Iran berpeluang besar untuk tidak bermain di Piala Dunia 2026 akibat serangan yang terjadi pada Sabtu (28/2/2026). Hal itu disampaikan Taj dalam keterangan di televisi nasional Iran di Teheran, Minggu (1/3/2026).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/11/30/6a271501-2fa2-432d-8be1-d18157f80b23.jpg)
”Dengan apa yang sudah terjadi hari ini dan serangan dari Amerika Serikat, tampaknya kami tidak akan menuju Piala Dunia. Petinggi olahraga dunia yang harus memutuskan (nasib Iran) itu,” ujar Taj.
Seandainya tidak ada dorongan untuk mundur dari FIFA, Iran kemungkinan besar akan berjuang untuk tetap tampil di Piala Dunia 2026. Situasi serupa dialami Iran pada Piala Asia Futsal 2026 di Jakarta, Januari lalu.
Di tengah kekacauan dan kondisi dalam negeri yang kalut, skuad futsal Iran asuhan Vahid Shamsaee tetap datang ke Jakarta. Dalam dua konferensi pers terakhir sebelum dan sesudah partai final, Shamsaee mengungkapkan situasi timnya yang tidak ideal.
”Seandainya kami diizinkan, kami lebih baik berada di negara kami untuk bersama keluarga. Kami tengah mengalami situasi yang sulit, jadi kehadiran kami (di Piala Asia Futsal) adalah wujud penghormatan kami kepada futsal Asia,” tutur Shamsaee seusai laga final, 7 Februari lalu.
Situasi itu membuat potensi Iran mundur dari Piala Dunia 2026 secara sukarela menjadi opsi paling terakhir. Kemungkinan besar absennya Iran di pesta sepak bola dunia tahun ini lebih disebabkan masalah visa atau izin masuk wilayah AS.
Dalam sejarah Piala Dunia sejak 1930, baru ada satu tim yang mundur setelah memastikan lolos ke babak utama akibat situasi perang. Hal itu dialami Austria pada edisi Perancis 1938.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/17/fdc700a500de997495b875c8b6df30d6-20260117_GKT_Piala_Dunia_dan_Konflik_mumed.png)
Sebagai salah satu wakil Eropa yang dihuni tim terbaik dalam sejarah dengan sebutan ”Wunderteam”, Austria harus mundur akibat aneksasi Nazi pada 12 Maret 1938. Independensi dan otoritas Austria pun hilang setelah diambil alih Nazi.
Pada akhir Maret 1938, Federasi Sepak Bola Austria kala itu mengirim telegram kepada FIFA yang berbunyi, ”Maaf, kami membatalkan keikutsertaan di Piala Dunia. Federasi sepak bola Austria sudah tiada.”
Meskipun belum melakukan undian, FIFA memutuskan tidak mengganti Austria pada turnamen di Perancis. Piala Dunia edisi ketiga hanya diikuti 15 tim dari 16 peserta yang direncanakan.
Namun, seandainya nama Iran tereliminasi sebagai salah satu dari 48 peserta Piala Dunia 2026, Grup G tentu akan mengalami penyesuaian. Dengan pertimbangan persaingan hingga aspek komersial, FIFA tidak akan membiarkan Grup G hanya diikuti tiga tim.
Seburuk-buruknya UEA dan Irak terdampak perang di kawasan, Indonesia belum masuk daftar tunggu.
Kondisi itu akan memaksa FIFA mencari pengganti Iran. Calon pengganti Iran kemungkinan berasal dari duta Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Tim dengan peringkat tertinggi dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia akan menjadi calon kuat pengganti Iran. Irak dan Uni Emirat Arab (UEA) adalah duta Asia yang paling berpotensi untuk mengisi slot Iran. Hal itu merujuk pada performa mereka di putaran keempat kualifikasi Piala Dunia 2026.
Irak dan UEA bertarung di putaran kelima untuk memperebutkan tiket ke playoff interkonfederasi. Irak unggul agregat 3-2 dalam pertarungan pada November 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/11/20/256a928d36857147183970e2ce75528c-Iraq_UAE_WCup_Soccer_2_.jpeg)
Irak masih akan bertarung di playoff interkonfederasi, Maret mendatang. Jika Irak melaju ke Piala Dunia 2026 melalui jalur playoff, UEA sangat berpeluang menggantikan Iran.
Lalu, bagaimana dengan kans Indonesia untuk menggantikan Iran? Peluangnya sangat tipis, jika tidak ingin disebut nyaris tiada. Sebab, seburuk-buruknya UEA dan Irak terdampak perang di kawasan, Indonesia belum masuk daftar tunggu.
Di bawah Irak dan UEA, masih ada Oman yang tampil lebih baik di putaran keempat berkat koleksi satu poin di Grup A. Tanpa mendoakan hal buruk bagi tim Timur Tengah, satu-satunya peluang Indonesia bisa menggantikan Iran adalah jika perang memengaruhi tiga tim tersebut, yakni Irak, UEA, dan Oman.
Situasi keamanan yang tidak menentu dapat membuat tiga negara itu juga berpikir panjang untuk hadir di Piala Dunia 2026. Apalagi, Oman dan UEA merupakan tetangga Iran dan telah merasakan imbas dari serangan rudal balasan Iran ke pusat militer AS di kawasan dan Israel.
Terlepas dari aturan yang ada, pergantian peserta itu pun harus melalui pertimbangan FIFA. Jika butuh pergantian peserta, keputusan tim pengganti sepenuhnya menjadi hak prerogatif FIFA.
Sekali lagi, peluang skuad ”Garuda” menuju Piala Dunia 2026 ibarat membutuhkan keajaiban, bak ”durian runtuh” dari langit. Namun, patutkah kita berharap memetik hikmah di tengah jatuhnya korban jiwa di belahan dunia lain?
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Nur Adji