Eropa Timur ketar-ketir. Rusia bertekad akan balas menyerang jika ada yang menyerangnya lebih dahulu. Situasi semakin sensitif.
28 Sep 2025 15:00 WIB · Internasional
NEW YORK, SABTU — Tidak ada niat Rusia sama sekali untuk menyerang Eropa. Namun, jika diserang lebih dulu, Rusia akan membalas dengan lebih keras.
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengutarakan pernyataan tersebut di tengah meningkatnya ketegangan baru antara Rusia dengan negara-negara anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa. Ketegangan semakin memanas setelah pesawat-pesawat tak berawak terbang ilegal ke wilayah udara NATO.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/15/0e51b5c3-ed62-4c40-83e0-dc5b9a76c221_jpg.jpg)
”Rusia tidak pernah dan tidak punya niat menyerang negara-negara Eropa atau NATO. Namun, setiap agresi terhadap negara saya akan ditanggapi dengan respons yang tegas. Seharusnya tidak ada keraguan soal ini di antara NATO dan Uni Eropa,” kata Lavrov saat berbicara dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, Sabtu (27/9/2025).
Rusia membantah pesawat jet tempurnya memasuki wilayah udara Estonia. Sementara Estonia menyatakan, ada tiga pesawat Rusia terbang ke wilayahnya dan bertahan di satu titik selama 12 menit. Lavrov juga menegaskan pesawat nirawak Rusia tidak menargetkan Polandia.
Sementara itu, sekutu Rusia, Belarus, bersikukuh bahwa pengacauan sinyal Ukraina-lah yang sudah membuat pesawat-pesawat nirawak itu keluar jalur. Namun, para pemimpin Eropa menilai insiden itu sebagai upaya provokatif Rusia yang disengaja untuk mengguncang NATO dan melihat respons negara-negara anggotanya.
NATO sudah memperingatkan Rusia bahwa mereka akan menggunakan segala cara untuk mempertahankan diri dari pelanggaran wilayah udaranya. Negara-negara di Eropa Timur resah dan khawatir oleh pesawat-pesawat Rusia, terutama setelah pesawat-pesawat jet NATO menembak jatuh pesawat nirawak di wilayah udara Polandia. Bagi Eropa Timur, Rusia dianggap sebagai ancaman terbesar sejak Perang Dingin berakhir.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/08/14/63c7cd3f-4603-4376-a73c-0d5c3e65cce6_png.png)
Harapan akan berakhirnya perang Rusia pun di Ukraina meredup. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendukung gagasan menembak jatuh pesawat-pesawat jet Rusia yang melanggar wilayah udara NATO. Retorika Trump bergeser mengejek kinerja militer Rusia di Ukraina dan menyebutnya macan kertas.
Merespons Trump, Lavrov memperingatkan akan membalas jika ada upaya menjatuhkan benda terbang apa pun di wilayah udara Rusia. Ia mengatakan, hanya orang ”buta politik” yang berharap Ukraina suatu hari nanti akan kembali ke perbatasannya sebelum Rusia menginvasi pada Februari 2022.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/02/28/19fd92dd-5fcd-4b86-801a-80920a0bc42d_png.png)
Lavrov juga menyoroti Kanselir Jerman Friedrich Merz, merujuk pada apa yang disebutnya sebagai ”retorika militeristik”. Rusia khawatir dengan pernyataan para politisi di Uni Eropa dan NATO tentang ancaman Perang Dunia III sebagai ”skenario yang mungkin terjadi”.
Meskipun menyasar NATO dan Uni Eropa, Lavrov menegaskan Rusia tetap berharap untuk ”dialog terbuka” dengan AS. AS dan Rusia direncanakan mengadakan perundingan putaran ketiga dalam beberapa bulan mendatang untuk meningkatkan operasi kedutaan masing-masing.
Ketika kepentingan AS dan Rusia tidak sejalan, hal terpenting adalah mencegah hal itu tidak berujung pada konfrontasi atau benturan, terutama konfrontasi panas.
Lavrov mengatakan beberapa negara Eropa yang tidak disebutkan namanya telah mengubah diplomasi menjadi upaya ”menjilat teman-teman mereka dari Washington”. Ia yakin AS akan terus mendukung Ukraina dan mengganti diplomasi dengan sanksi.
”Ini seperti jalan tanpa harapan. Tidak akan berhasil. Perlu dialog yang jujur tentang masalah apa pun. Nanti kita lihat saja apakah AS siap untuk itu, dan kami juga siap untuk melaksanakannya,” ujarnya.
Tiga pekan sebelumnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan Rusia dan AS memiliki kesepahaman bersama dan pemerintahan Trump mendengarkan Rusia. Pada awal Agustus, Trump dan Putin bertemu di Alaska, tetapi tidak mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/02/8de7f222-32fe-4d52-8b44-a6bb2c0c4d9e_jpg.jpg)
Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper sempat menegur Lavrov dan mengecam perang agresi tak beralasan yang dilancarkan Rusia. ”Distorsi dunia fantasi palsu, misinformasi, dan propaganda dari perwakilan Rusia tentang penyebab perang tidak akan meyakinkan siapa pun,” ujarnya.
Pasukan Rusia menduduki sekitar 20 persen wilayah Ukraina dan pertempuran berkecamuk di wilayah timur negara itu selama lebih dari 3,5 tahun terakhir. Kepala kebijakan luar negeri Eropa Kaja Kallas meminta komunitas internasional untuk memberikan tekanan internasional terhadap Rusia.
”Tidak ada tanda-tanda bahwa tujuan Rusia untuk menaklukkan Ukraina telah berubah,” ujarnya. (REUTERS/AFP/AP)
Penulis:
Luki AuliaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Nur Adji