Akhir-akhir ini ada tren senyap tanpa unggahan baru di media sosial. Tren ini merayakan lagi JOMO "joy of missing out". Ternyata, absen "posting" itu sehat dan seru!
23 Agt 2025 13:00 WIB · Kolom
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/06/39928bac1933d63dc5018a585a7bb435-cropped_image.png)
Apa yang jamak dilakukan ketika hendak dan tengah menjalani aktivitas sehari-hari yang sama sibuknya antara dunia digital dan dunia maya? Selalu tampak segar dan percaya diri di setiap pertemuan daring ataupun luring, itu pasti. Tidak lupa foto dengan senyum lebar bersama kolega dengan latar layar besar bertuliskan seminar beserta tajuknya. Mengambil foto diri dalam berbagai pose yang tampak profesional, sembari membuka laptop, serius mendengarkan para pembicara, atau terlihat cerdas ketika berbicara di depan publik.
Di tempat lain, ada yang sibuk menata hidangan di meja restoran, mengatur pencahayaan, berkali-kali mengambil gambar dan video. Lalu, menghabiskan beberapa waktu memilih foto, menentukan filter. Tag lokasi pun jangan sampai terlewat.
Urusan teks atau caption penyerta bukan berarti tanpa usaha keras. Bolak-balik membuat kalimat dan ungkapan-ungkapan yang dianggap paling menarik juga sebuah perjuangan. Setelah mengedit beberapa kali dan menimbang-nimbang lagi sampai benar-benar yakin, baru klik tombol unggah.
Seusai terunggah, fokus justru kian terbelah. Antara melanjutkan pekerjaan, tugas, bersantap bersama yang terkasih, dan tetap sibuk mengecek gawai. Jika hujan likes datang bertubi, hari itu rasanya sempurna. Jika likes apalagi komentar seret datang, hati kebat-kebit dan hujan tanya dalam diri. Apa kurang menarik, kurang keren, bos dan kolega tidak terkesan, teman-teman mencibir?
Terhanyut dalam rasa senang atau galau hanya karena unggahan bisa berkepanjangan. Pasta, pizza, kopi, dan bakso pun bisa berkurang kehangatannya ketika akhirnya disantap. Teman atau keluarga yang duduk satu meja pun bisa tak saling menyapa, sibuk semua dengan gawainya.
Di balik unggahan di media sosial yang tampak ringan, memang ada kerja fisik dan emosional yang tidak kasatmata. Bermenit-menit, bahkan bisa berjam-jam untuk mengolah satu unggahan saja. Tanpa disadari menguras energi untuk mengatur emosi, memoles impresi, juga mengorbankan kenyamanan dan kenikmatan nyata yang seharusnya didapatkan. Belum lagi biaya untuk memiliki gawai maupun peralatan terbaik demi konten terbaik pula.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/05/28/deac14f7-7da4-41a1-854d-299ad8f0bb92_jpg.jpg)
Istilah kerja emosial (emosional labor) dikenalkan Arlie Russel Hochschild lewat karya klasiknya The Managed Heart, Commercialization of Human Feeling (1983). Hochschild kala itu menggambarkan bagaimana pekerja layanan jasa yang berhubungan langsung dengan konsumen harus pandai mengatur perasaan agar sesuai dengan ekspektasi pelanggan.
Di era media sosial, kerja emosional itu bergeser dari sebelumnya dipraktikkan di jam kerja saja menjadi melebar mencakup ke semua aspek kehidupan sehari-hari. Waktu kerja emosional kini tak terbatas.
Dalam jurnal ”How social media fatigue feigning and altering emotion discourage the use of social media” (2024), Chao-Min Chiu dan rekan-rekannya meneliti social media fatigue (SMF) yang dapat berujung kelelahan (exhaustion) dan kehilangan minat (disinterest). SMF ini dapat disebabkan karena penggunaan strategi surface acting (pengelolaan ekspresi) dan deep acting (pengelolaan perasaan). Untuk tampil di akun medsosnya, seseorang sering kali berakting agar tampak senang, bahkan memaksakan mengubah perasaannya menjadi bahagia.
Para peneliti dalam jurnal itu mengemukakan bahwa dari 364 pengguna platform jejaring sosial mendukung sebagian besar hipotesis mereka. Pertama, sebagian besar aturan tampilan (display rules) memengaruhi pilihan deep atau surface acting. Pengelolaan ekspresi dan perasaan itu menyebabkan kelelahan.
Selain kerja emosional dan potensi kelelahan yang ditimbulkan, media sosial dan perkembangan dunia digital juga membuat kita menjadi pekerja digital gratis. Menyarikan dari Christian Fuchs dalam bukunya Digital Labour and Karl Max (2014), setiap foto, teks, atau komentar yang dibuat setiap pengunggah di media sosial menjadi bahan bakar ekonomi platform terkait.
Beberapa riset lain memperkuat pendapat Fuchs, di antaranya menegaskan, ada hubungan erat antara pekerja gratis dan eksploitasi di dunia digital. Media sosial beroperasi dengan cara memonetisasi energi setiap penggunanya melalui atensi, kreativitas, bahkan interaksi sehari-hari.
Di balik angka-angka likes dan komentar, ada kerja tak terlihat yang sering terlupakan oleh siapa saja, termasuk pemilik akun atau pengunggah konten. Literatur tentang invisible labour menyebut aktivitas seperti memberi label pada gambar untuk melatih akal imitasi (AI), memoderasi konten, atau sekadar mengisi engagement sebagai bentuk kerja yang tak pernah diakui.
Kita tidak sadar bahwa setiap hari, setiap saat, telah menjadi bagian dari kerja raksasa itu tanpa dibayar. Memang ada pemengaruh, artis, selebritas, atau orang tertentu yang dapat memonetisasi setiap unggahannya. Namun, uang yang didapat tak seberapa dibandingkan keuntungan pemilik platform. Dibandingkan jumlah total pengguna media sosial, mereka yang mampu menangguk untung dari unggahannya bisa dikatakan hanya segelintir.
Di titik ini, muncul pertanyaan di benak banyak orang, mengapa mau terus kelelahan di dunia nyata dan maya? Mengapa pula harus bekerja gratis untuk algoritma? Mengapa energi personal saya harus jadi mesin profit bagi perusahaan teknologi raksasa?
Namun, godaan tetap ada. Rasa iri melihat teman yang panen tanda jempol, terasa makin normal menghinggapi siapa saja. Terlebih urbanis yang rata-rata pekerjaan dan kesehariannya kini memang melibatkan aktivitas di dunia nyata dan maya. Ada dorongan untuk ikut aktif, berharap mendapat pengakuan serupa.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/27/27e8a8fb-4fe4-4dbb-a7c0-125f5cdc69cb_jpg.jpg)
Di sinilah konsep hope labor atau kerja berharap menjadi relevan. ”Hope Labor: The Role of Employment Prospects in Online Social Production” (2013), riset dari Kathleen Kuehn, and Thomas F Corrigan ini menunjukkan banyak orang rela bekerja tanpa bayaran, seperti mengunggah tanpa henti, dengan harapan mendapat pengakuan, peluang, atau jejaring di masa depan.
Ironisnya, kita tahu bahwa likes bukan ukuran nyata nilai diri. Namun, persaingan di kota besar membuat jebakan konsep kerja berharap ini semakin kuat. Foto liburan, pencapaian karier, dan secangkir kopi saja bisa berubah jadi simbol status.
JOMO kemudian lahir dan dianut banyak orang sebagai cara sederhana untuk menghindari tekanan kerja emosional dan kerja berharap yang tak berujung. Akan tetapi, bukan berarti benar-benar melepas ikatan dengan keduanya. JOMO, joy of missing out atau kesenangan karena melewatkan sesuatu ini strategi untuk mengembalikan kendali ke diri sendiri, bukan orang lain, apalagi algoritma.
Christina Crook dan Anil Dash adalah dua sosok yang memopulerkan istilah JOMO sejak lebih dari 10 tahun silam ketika tren media sosial mulai memuncak.
Crook penulis buku The Joy of Missing Out: Finding Balance in a Wired World (2015) dan Good Burdens (2022), menegaskan bahwa di era digital ini, kita tidak perlu mencari cara memutus hubungan dengan gawai atau trik-trik untuk mengerjakan sesuatu lebih cepat. Ia mengajak belajar berhenti hidup didikte oleh algoritma. ”Mulai jalani hidup yang bebas dan indah, penuh sukacita, hingga layar-layar di hadapanmu tampak redup dibandingkannya,” katanya seperti dikutip dari situs resminya.
Dash menegaskan bahwa menjadi orang yang mengendalikan apa yang menggerakkan dirinya, apa yang membuat merasa berkewajiban melakukannya, dan attachment macam apa yang dimiliki terhadap berbagai pengalaman adalah otoritas yang tidak mau ia serahkan kepada kemauan sembarangan dari aplikasi di ponsel.
”Saya rasa semakin banyak orang akan merebut kembali agensi ini atas perasaan mereka tentang bersosialisasi. Dan itu hal yang membahagiakan," ujarnya seperti tertulis di situs resmi Dash.
Dalam kota yang anonim, dengan interaksi dangkal dan ritme cepat, keterhubungan otentik justru semakin mahal. JOMO memberi ruang untuk menata ulang prioritas, memilih kualitas dibanding kuantitas, memilih relasi nyata dibandingkan angka digital.
Memilih puasa media sosial selama beberapa waktu, teguh untuk tidak selalu ”on” menatap dan scrolling layar gawai, mengatur privasi dan akses ke media sosialnya, atau berekspresi jujur apa adanya di dunia maya yang memanen tanggapan dari lingkaran teman terdekat saja. Itu pula mengapa tren Instagram tanpa unggahan baru sempat ramai akhir-akhir ini.
Jadi, JOMO bukan sikap antisosial atau antimedia sosial. JOMO kearifan urban untuk mengalokasikan energi secara lebih sehat dan lebih manusiawi di tengah tekanan kota modern. Bukan strategi untuk mundur dari dunia, melainkan hadir lebih penuh untuk hal-hal yang benar-benar berarti.
Ada kebahagiaan yang lahir ketika kita berani absen. Di kota yang sibuk, kadang justru dengan ”tidak hadir”, kita bisa benar-benar hadir untuk diri sendiri, orang-orang terdekat, dan kehidupan nyata yang tak butuh filter.
Penulis:
Neli TrianaEditor:
Gesit AriyantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase