Revolusi Senyap ”Laundry” Kiloan

Akhir pekan waktunya apa? Sebelum jalan-jalan, ini waktunya merapat ke kios ”laundry” kiloan terdekat. Rutinitas yang tanpa sadar menjadi kebiasaan umum warga kota.

09 Agt 2025 13:00 WIB · Artikel Opini

Oleh Neli Triana

Neli Triana (NEL)

Di tengah kampung hingga basemen hunian jangkung di perkotaan, papan bertulisan ”Laundry Kiloan” kini begitu mudah ditemukan. Sudah seakrab warteg, kios usaha cuci pakaian menjadi pemandangan sehari-hari. Yang dulunya dianggap kemewahan kaum urban elite itu turun takhta merakyat hingga di gang sempit. Perkembangan pesat tanpa bising berarti dari bisnis laundry kiloan telah memicu revolusi diam-diam dalam kehidupan urban Indonesia.

Kebiasaan memilah pakaian kotor, gemuruh suara mesin cuci, jemuran memenuhi halaman, lambat laun mulai ditinggalkan. Ritual itu berubah menjadi transaksi sederhana, masukkan pakaian ke dalam tas laundry, bayar dengan aplikasi QRIS per kilogram, tunggu beberapa jam atau satu-dua hari, setumpuk cucian terlipat rapi, wangi, siap ambil. Tren laundry self service juga makin dikenal. Lebih murah dan lebih cepat, cucian kering terasa hangat beraroma segar. Tinggal dibawa pulang untuk dilipat dan disimpan.

Mencoba memahami fenomena ini dengan teori dari buku Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979) karya Pierre Bourdieu, habitus atau kebiasaan masyarakat adalah praktik sosial yang dapat berubah seiring waktu. Untuk menunjukkan seseorang bagian dari kelas sosial tertentu, maka ia berperilaku tertentu pula.

Yang terjadi dengan laundry kiloan adalah transformasi kebiasaan yang begitu masif. Mencuci pakaian dari rutinitas internal rumah tangga yang cukup panjang dan melelahkan menjadi solusi praktis yang tidak lagi dikaitkan dengan tanggung jawab domestik. Orang yang mencucikan bajunya ke usaha laundry seakan masuk ke kelas sosial tertentu yang cenderung dinilai lebih modern, bergaya hidup cerdas, dan memiliki manajemen waktu maupun keuangan lebih baik.

Adopsi teknologi yang mengejutkan

Everett M Rogers dalam Diffusion of Innovations menjelaskan bahwa adopsi teknologi atau inovasi baru biasanya melalui tahapan yang panjang. Namun, diterimanya secara luas bisnis laundry kiloan dapat diartikan bagian dari adopsi teknologi dalam usaha mikro dan kecil yang luar biasa cepat di Indonesia. Benarkah demikian?

Bukti yang langsung terlihat, yaitu ada keuntungan nyata dengan penggunaan mesin canggih dan relatif mahal. Namun, ketika diterapkan sebagai mesin usaha, meskipun itu skala mikro maupun kecil, laundry kiloan menjadi bisnis menjanjikan yang tidak kekurangan konsumen. Perhitungan modalnya sangat bisa disesuaikan bagi tiap tingkat pengusaha.

Aktivitas di Diva Laundry, Jalan Bojong Raya, Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat, 6 Januari 2020.
Aktivitas di tempat "laundry self service " pada 7 Oktober 2019.

Bagi konsumen, itu memberikan solusi langsung untuk masalah nyata bagi keluarga kelas pekerja yang sibuk, juga bagi pekerja atau mahasiswa yang masih sendiri. Selain itu, ada keselarasan dengan gaya hidup urban. Kehidupan kota yang serba cepat dan padat membuat waktu amat berharga. Menghabiskan 2-3 jam untuk mencuci dan menjemur baju di rumah, belum menyetrika dan melipat, menjadi kerugian yang tidak bisa ditolerir lagi.

Kemudian kompleksitas adopsi teknologi untuk mengelola dan sebagai konsumen laundry kiloan dinilai rendah. Tidak perlu belajar teknologi baru atau mengubah perilaku drastis. Cukup bawa kantong berisi pakaian kotor, serahkan ke mas atau mbak laundry atau cuci sendiri secara cepat di kios cucian swalayan.

Yang paling menarik, adopsi ini tidak mengenal kelas sosial. Dari mahasiswa dengan kantong ketat hingga pekerja berpenghasilan puluhan juta rupiah, semua dapat menggunakan jasa yang sama. Jasa laundry berhasil membumikan kemewahan layanan untuk semua kalangan.

Di balik kepraktisan dan kepuasan konsumen itu, laundry kiloan menciptakan ekosistem ekonomi mikro mencengangkan. Data Badan Pusat Statistik pada 2024 menunjukkan konsumsi rumah tangga tumbuh 4,94 persen dan bagian dari pertumbuhan ini diserap oleh sektor jasa skala mikro dan kecil, termasuk bisnis laundry.

Rantai bisnis laundry ini semakin solid karena sekarang ada pemasok mesin cuci dan pengering untuk usaha sampai setingkat rumah tangga. Ada jasa perawatan dan perbaikan mesin sampai jual beli mesin cuci dan pengering bekas yang juga masih bisa untuk membuka usaha laundry pemula. Bisnis laundry ini serupa dengan air isi ulang, mampu menciptakan ”ekonomi tetangga”—di mana layanan dibutuhkan dan disediakan dalam radius yang sangat dekat.

Manuel Castells dalam trilogi bukunya, The Information Age: Economy, Society, and Culture, di antaranya menggarisbawahi bahwa teknologi tidak hanya mampu mengubah cara kita bekerja, tetapi bahkan dapat membuat cara kita hidup dan berinteraksi bergeser 180 derajat. Laundry kiloan menjadi contoh sempurna bagi teori Castells itu.

Kaus kaki yang hilang

Di luar sisi bisnisnya yang terlihat menjanjikan, kehadiran kios-kios laundry sampai ke tengah kawasan hunian padat menciptakan drama dan ritual baru warga kota secara jamak.

Drama kaus kaki yang hilang. Masuk sepasang, keluar satu. Ke mana yang satu lagi? Misterinya tidak pernah terpecahkan. Hingga muncul teori konspirasi yang bahkan dikenal secara global, ”Pasti ada dimensi lain khusus untuk kaos kaki hilang”.

Fenomena laundry hopping. Ada yang setia dengan satu tempat. Ada yang selalu mencari yang termurah. Ada yang pindah-pindah karena penasaran dengan kualitas tempat lain. Setiap orang punya polanya sendiri. Ada yang rutin tiap akhir pekan ke laundry. Ada yang menunggu sampai baju bersih habis total. Ada yang baru pergi dengan penuh kepanikan karena besok ada acara penting tapi baju kerja atau seragam lupa dicuci.

Khususnya di kios-kios laundry swalayan, perkembangannya kini begitu pesat. Setidaknya di Jabodetabek, kios cuci swalayan ini menawarkan tarif kompetitif, Rp 10.000 untuk 8-10 kg untuk penggunaan satu mesin cuci dan satu mesin pengering. Jika berat melebihi ketentuan, harus menambah mesin yang digunakan dan tagihan berlipat dua. Jika kita menitipkan mencuci dan mengeringkan ke penjaga kios, akan ada tambahan biaya. Demikian juga jika membeli sabun cuci dan pewangi dari kios.

Konsep swalayan ini menawarkan pengalaman hibrida unik, yaitu kontrol penuh atas proses mencuci tetapi dengan teknologi mesin industrial.

Selama proses mencuci dan mengeringkan baju yang memakan waktu sekitar 1 jam, kios laundry pun menjadi ruang ketiga dadakan yang menciptakan dinamika sosial kompleks.

Di ruang tunggu laundry, terjadi pertunjukan identitas skala kecil. Ada yang pamer merek detergen, ada yang show off pakaian bermerek, obrolan saling membanggakan diri sampai saling melempar canda. Tak asing pula menemukan konsumen yang asik menyendiri dengan telepon pintarnya atau membaca buku diiringi dengung mesin cuci.

Self-service laundry tanpa sengaja menjadi cara murah meriah disertai alasan tepat untuk keluar rumah di tengah tekanan ekonomi yang mengimpit. Berbeda dengan nongkrong di mal yang sering dinilai sekadar senang-senang tetapi konsumtif dan tak produktif.

Revolusi senyap

Seiring dengan target Kementerian Koperasi dan UKM untuk meningkatkan UMKM digital menjadi 30 juta unit pada 2024, industri laundry pun dipercaya bakal terus berkembang. Kini ada spektrum lengkap pilihan bisnis ini, mulai dari yang masih mengandalkan jasa mencuci, menyetrika, dan melipat, kemudian yang swalayan. Jasa cuci premium tetap memiliki pangsa pasarnya tersendiri.

Ada perusahaan besar yang terjun di bidang cuci pakaian ini sejak lama. Kini, pemain baru bermodal tebal ikut terjun dengan memanfaatkan kemajuan teknologi hingga aplikasi lokal. Mereka menawarkan layanan antar jemput dan pelacakan status cucian. Evolusi berikutnya mungkin laundry dengan sistem berlangganan berbasis akal imitasi (AI) yang bisa memprediksi kapan baju kotor akan habis.

Dalam rentang waktu kurang dari sepuluh tahun, laundry kiloan telah mengubah cara kita memandang pekerjaan rumah tangga, mengelola waktu, memahami makna kemewahan. Tak lupa, ada isu lingkungan menguat, seperti tudingan penggunaan air dan detergen berlebihan, serta munculnya polemik sosial lain yang butuh solusi.

Namun, apa pun, laundry kiloan memang fenomenal, sebuah revolusi. Revolusi tidak selalu datang dengan kegaduhan melibatkan kekuatan massa. Kadang ia datang diam-diam, melalui kebutuhan sehari-hari yang sederhana. Aroma segar baju bersih dari kios laundry kiloan menyebar memikat dan mengikat kaum urban satu demi satu sampai kini semuanya nyaris terjangkit.

Ritual pagi di akhir pekan yang riuh dengan suara mesin cuci di rumah adalah masa lalu. Kini kita hidup dalam era drop and go—serahkan pakaian kotor, ambil yang sudah bersih, lanjutkan hidup. Simpel, praktis, dan revolusioner.


Kerabat Kerja

Penulis:

Neli Triana
 | 

Editor:

Gesit Ariyanto