POLYTRON INDONESIA TERBUKA 2026

Jonathan Christie Versus Generasi Baru

Pengalaman menjadi harta paling berharga bagi Jonatan Christie di Indonesia Terbuka 2026. Berkat itu, dia berhasil mencapai prestasi terbaik di turnamen itu.

06 Jun 2026 19:59 WIB · Olahraga

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN

Oleh Kelvin Hianusa, rebiyyah salasah

JAKARTA, KOMPAS — Di ruang konferensi pers Indonesia Terbuka 2026, Jonatan Christie memberikan nuansa layaknya sosok mantan pemain yang datang bukan untuk bertanding. Tunggal putra andalan tuan rumah itu memberikan wejangan kepada pemain-pemain muda lain yang juga merupakan para pesaingnya di turnamen tersebut.

Sebelas tahun setelah debut di Indonesia Terbuka, Jonatan akhirnya menembus partai puncak turnamen paling bergengsi di Tanah Air itu untuk pertama kali di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Sudah lebih dari satu dekade dia menanti. Saking lamanya, pemain berusia 28 tahun itu terasa seperti berada di dunia baru.

Jonatan melaju ke final dengan menaklukkan tunggal 21 tahun asal Thailand, Panitchaphon Teeraratsakul, 16-21, 21-10, 21-12. Di final, dia akan ditantang wakil 21 tahun asal Kanada, Victor Lai. Menariknya, sebelum turnamen berlangsung, Jonatan tidak pernah memiliki rekor pertemuan terhadap dua pemain tersebut.

Pebulu tangkis putra Indonesia Jonatan Christie menghadapi pebulu tangkis putra Thailand Panitchaphon Teeraratsakul dalam babak semifinal Polytron Indonesia Terbuka 2026 di Istora Senayan, Jakarta, Sabtu (6/6/2026). Pebulu tangkis putra Indonesia Jonatan Christie melaju ke final usai menang dari pebulu tangkis putra Thailand Panitchaphon Teeraratsakul 16-21, 21-10, 21-12.

KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK) 06-06-2026

Dalam perjalanan ke final, Jonatan juga melewati para pemain yang lebih muda darinya. Mulai dari pemain Jepang, Yushi Tanaka (26); wakil Singapura, Jason Teh Jia Teh (25)'; hingga yuniornya, Alwi Farhan (21). Hanya Jason, 112 ajang, pemain yang mampu mendekati jumlah turnamen yang diikuti Jonatan (193 ajang). 

Sah jika dikatakan Jonatan bertarung menghadapi generasi baru. ”Mereka mungkin punya kecepatan, kekuatan, semangat, dan keinginan yang sangat besar. Namun, ada yang mereka tidak punya, yaitu pengalaman. Mereka mungkin baru beberapa tahun bermain di top level,” kata Jonatan soal alasan bisa melaju ke final untuk pertama kali.

Sejauh ini, pengalaman Jonatan mampu berbicara banyak. Di semifinal, misalnya, dia sempat tertinggal satu gim dulu akibat permainan super ofensif dari Teeraratsakul. Jonatan terlalu sering mengangkat bola sehingga membuatnya dihujani smash bertubi-tubi. Pertahanan Jonatan yang terkenal kokoh bisa ditembus dengan mudah oleh pemain kidal itu.

Jonatan tidak panik. Di gim dua, dia mengubah pola permainan dengan lebih berani beradu net. Seperti diketahui, Jonatan merupakan salah satu yang terbaik saat bermain di depan net. Hasilnya sangat efektif. Teeraratsakul tidak mendapatkan banyak kesempatan untuk melakukan smash, lalu terpaksa mengangkat bola.

Kedewasaan Jonatan juga terlihat dari insting predatornya. Setelah bertubi-tubi mengeluarkan smash sejak gim satu, Teeraratsakul mulai mengendur di gim penentu. Jonatan mencium ”bau darah”, lalu mempercepat tempo setelah bola mati. Dia langsung mengambil bola, dan memulai kembali permainan secepat mungkin.

Jonatan mengatakan, faktor pengalaman juga berpengaruh dalam mengubah perspektifnya. ”Sekarang, saya lebih mau menikmati permainan saja. Memang ada ekspetasi, mungkin dari masyarakat Indonesia, pencinta bulu tangkis, dan bahkan saya sendiri untuk juara. Namun, saya ingin berusaha menikmati momen dan berusaha semaksimal mungkin,” tuturnya.

Tunggal Thailand Teeraratsakul terjatuh saat menghadapi Jonatan Chistie. Indonesia berhasil memastikan tiket final tunggal putra Polytron Indonesia Terbuka 2026, setelah Jonathan Chistie menang atas tunggal Thailand Panitchaphon Teeraratsakul dengan skor 16-21, 21-10, 21-12, Sabtu (6/6/2026).

Sosok Jonatan yang lebih dewasa itu pula yang membuatnya tidak pelit berbagi ilmu.  Sang juara All England 2024 tidak khawatir memberikan masukan kepada para pemain muda yang merupakan pesaingnya. Dia memercayai, semua pemain memiliki era dan waktu untuk bersinar masing-masing. Semuanya membutuhkan proses.

”Jangan berekspektasi terlalu tinggi dulu karena masih muda. Justru ini waktunya kalian mengejar pemain senior, pemain top. Jadi it's okay kalau kalah, wajar kok karena belum banyak pengalaman. Justru ketika bisa melewati momen itu, melihat apa yang di depan dan mau belajar, ke depan akan bagus. Jangan pernah menyerah dan tetap rendah hati,” tutur Jonatan.

Jonatan berharap pengalamannya yang segudang bisa mengantar ke puncak singgasana Indonesia Terbuka untuk pertama kali pada Minggu nanti. Dia akan berhadapan dengan Lai, peringkat ke-14 dunia, yang lolos ke final setelah menumbangkan pemain veteran asal Taiwan, Chou Tien-chen.

Lai sempat berkata sebelum semifinal, cukup beruntung karena mundurnya pemain unggulan Kunlavut Vitidsarn. Dia bisa terhindar dari nama-nama besar. Namun, perkataan itu dibantah sendiri olehnya di semifinal dengan menumbangkan Chou yang berstatus unggulan keenam dan runner-up Indonesia Terbuka 2025. 

Di final, Lai akan menghadapi tantangan baru. Dia berhadapan dengan wakil tuan rumah di Istora. ”Ini adalah pertama kalinya saya bermain di Istora. Beberapa laga terakhir merupakan yang paling berisik yang pernah saya mainkan. Sangat-sangat sulit untuk fokus. Anda tidak bisa mendengar pelatih, bahkan pikiran Anda sendiri,” jelas Lai. 

Sebelumnya, prestasi terbaik Jonatan di Indonesia Terbuka adalah mencapai semifinal pada 2021. Dia gagal lolos ke partai puncak setelah ditaklukkan tunggal ternama Denmark, Viktor Axelsen. Kali ini, Jonatan berhasil terhindar dari para pemain unggulan, mulai dari Shi Yu Qi hingga Anders Antonsen yang tersingkir di babak awal.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa, rebiyyah salasah
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto