Juara ATP London, Alcaraz Siap untuk Wimbledon

Bertanding di turnamen ATP 500 London tanpa target tinggi, Carlos Alcaraz justru menjadi juara. Ini menjadi gelar kedua beruntun setelah Perancis Terbuka.

23 Jun 2025 08:22 WIB · Olahraga

Oleh Yulia Sapthiani

LONDON, MINGGU — Carlos Alcaraz menunjukkan diri bahwa dia layak diberi predikat sebagai favorit juara Wimbledon 2025. Dengan kemampuan beradaptasi cepat dari turnamen lapangan tanah liat ke rumput, petenis Spanyol itu menjuarai turnamen ATP 500 London.

Alcaraz juara di lapangan Queen’s Club, London, Inggris, untuk kedua kali, setelah 2023, seusai mengalahkan Jiri Lehecka pada laga final, Minggu (22/6/2025). Alcaraz menang dengan skor 7-5, 6-7 (5), 6-2. Kemenangan tersebut merupakan yang ke-18 beruntun setelah dia menjuarai ATP Masters 1000 Roma dan Grand Slam Perancis Terbuka.

Roma Masters dan Perancis Terbuka berlangsung di lapangan tanah liat dengan karakter yang bertolak belakang dengan lapangan rumput Queen’s Club. Lapangan tanah liat memantulkan bola dengan pelan dan tinggi sehingga sering kali terjadi reli panjang dalam perebutan poin. Petenis sulit untuk mendapat poin dengan cepat meski memiliki pukulan keras.

Sebaliknya, lapangan rumput membuat bola memantul sangat cepat dan rendah. Tak jarang, petenis harus mengembalikan pukulan lawan dengan cara berlutut. Permukaan lapangan yang berbeda membuat footwork yang harus dikuasai pun berbeda.

Kecepatan Alcaraz dalam menyesuaikan diri dengan berbagai faktor itulah yang membuatnya bisa menjuarai ATP London. Dia melakukannya kurang dari dua pekan setelah mempertahankan gelar juara Perancis Terbuka di lapangan tanah liat Roland Garros.

Carlos Alcaraz melakukan pukulan ”forehand” saat menghadapi Jiri Lehecka pada final ATP 500 London, Minggu (22/6/2025). Alcaraz berhasil menjadi juara di turnamen pemanasan Wimbledon ini.

”Sebenarnya sangat rumit ketika harus beradaptasi dari lapangan tanah liat ke rumput dengan cepat, hanya dalam beberapa hari. Saya hanya punya waktu dua hari berlatih di sini,” kata Alcaraz.

Berdasarkan hal itulah, petenis berusia 22 tahun tersebut tak menetapkan target tinggi di ATP London. Tujuannya adalah tampil dalam dua-tiga pertandingan agar bisa beradaptasi di rumput, lalu meningkatkan cara main dari pertandingan tersebut untuk Wimbledon.

”Ternyata, saya bisa beradaptasi dengan sangat cepat, tetapi bukan dalam konteks bisa juara, melainkan dalam bertanding. Saya bisa bermain dengan nyaman dalam waktu yang cepat dan saya senang bisa melakukan hal itu,” tutur petenis yang telah memiliki lima gelar Grand Slam tersebut.

Perkembangan selama sepekan di London membuat Alcaraz layak disebut sebagai favorit juara Wimbledon. Grand Slam sebagai puncak persaingan di lapangan rumput tersebut akan berlangsung 30 Juni-13 Juli.

Jika bisa memenangi tujuh babak dalam format best of five sets selama dua pekan, Alcaraz akan mencetak hattrick juara. Dia mengikuti jejak Novak Djokovic, petenis terakhir yang menjuarai Wimbledon sebelum Alcaraz, yaitu pada 2018, 2019, 2021, dan 2022. Adapun Wimbledon 2020 tak digelar karena pandemi Covid-19.

Alcaraz memiliki waktu sepekan untuk memoles kekurangannya sebelum kembali ke All England Club. Dia akan tetap berada di London alih-alih pulang ke Villena, Spanyol, atau Ibiza, tempatnya berlibur singkat bersama teman-temannya setelah menjuarai Perancis Terbuka.

Britain Queens Club Tennis

”Seandainya saya bisa kembali ke Ibiza, ha-ha-ha…. Saya adalah petenis yang memerlukan momen bersama teman dan keluarga untuk melupakan tenis sejenak agar bisa menyegarkan pikiran. Namun, ini bukan saatnya kembali ke sana atau pulang. Saya akan tetap di London, menikmati waktu sejenak, lalu kembali ke persiapan Wimbledon,” tuturnya.

Bublik taklukkan Medvedev

Alcaraz menjadi satu-satunya petenis top dunia yang menjuarai turnamen pemanasan Wimbledon yang digelar di Inggris dan Jerman pada 16-22 Juli. Dalam turnamen lain untuk petenis putra di Halle, Jerman, gelar juara didapat Alexander Bublik yang mengalahkan Daniil Medvedev, 6-3, 7-6 (4) di final. Ini menjadi gelar kedua Bublik di Halle setelah 2023.

Kecuali pada babak pertama saat bertemu Alexandre Muller, Bublik mengalahkan petenis unggulan pada empat babak berikutnya. Dia menyingkirkan petenis nomor satu dunia, Jannik Sinner, pada babak kedua, diikuti Tomas Machac (unggulan ketujuh) pada perempat final, lalu Karen Khachanov (8/semifinal), dan Medvedev (3) di final.

Perjalanan Bublik pada 2025 bagai roller coaster. Setelah kalah pada babak pertama dalam tiga turnamen secara beruntun, yaitu di ATP 500 Doha, Dubai, dan ATP Masters 1000 Indian Wells, Bublik memilih turnamen level kecil, ATP Challenger, sebagai agenda berikutnya. Hasil buruk secara beruntun tersebut membuat rankingnya anjlok, dari posisi ke-33 pada awal tahun menjadi ke-82 pada Maret.

Peraih medali perak ganda putra Asian Games Jakarta Palembang 2018 (bersama Denis Yevseyev) untuk Kazakahstan itu memilih turnamen kecil untuk memperbaiki performa pada persaingan yang lebih rendah. Dia pun berharap hasil baik bisa menumbuhkan rasa percaya diri. Bublik mencapai final ATP Challenger Phoenix meski kalah dari Joao Fonseca, petenis Brasil berusia 18 tahun.

Germany Tennis

Momen itu menjadi titik balik bagi petenis kelahiran Rusia tersebut. Setelah Phoenix, dia meraih beberapa pencapaian terbaik meski belum pada tahap konsisten. Bublik mencapai babak keempat Madrid Masters bertahan hingga perempat final Perancis Terbuka (dengan mengalahkan Alex de Minaur dan Jack Draper), lalu menjuarai ATP Halle.

”Saya menjalani momen berat sejak Wimbledon 2024 hingga berpikir untuk pensiun karena merasa sulit untuk menikmati tenis. Lalu, saya berjanji kepada pelatih untuk bertahan dan tetap latihan. Kami berdiskusi tentang langkah-langkah berikutnya. Sekarang, setelah perempat final Perancis Terbuka, saya juara di sini. Sulit untuk mengekspresikan perasaan saya,” kata Bublik dalam laman resmi ATP.

Turnamen lain di Jerman untuk petenis putri, yaitu WTA 500 Berlin, dijuarai Marketa Vondrousova. Atlet yang menyingkirkan petenis nomor satu dunia, Aryna Sabalenka, di semifinal ini mengalahkan Wang Xin Yu dalam perebutan gelar juara. Vondrousova menang dengan skor 7-6 (10), 4-6, 6-2.

Setelah turnamen di Berlin, Halle, dan London, sebagian petenis akan melanjutkan persiapan Wimbledon dalam sisa sepekan pada turnamen lain, 22-28 Juni. Iga Swiatek, yang absen di Berlin, akan bertanding di WTA 500 Bad Homburg, Jerman, bersama petenis ranking sepuluh besar lain, seperti Jessica Pegula, Jasmine Paolini, dan Mirra Andreeva.

Sementara sebagian besar petenis top putra memilih berlatih di London. Hanya Taylor Fritz dan Ben Shelton yang tetap bertanding pada turnamen berbeda di Inggris. (AP/AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .