PROLIGA 2026

Juara Bertahan yang Menang dan Tumbang di Pembuka Empat Besar Proliga 2026

Hari pertama final four Proliga 2026 di Surabaya, panggung kemenangan juara bertahan Jakarta Bhayangkara Presisi, tetapi kekalahan Jakarta Pertamina Enduro.

03 Apr 2026 06:23 WIB · Olahraga

Kompas/Bahana Patria Gupta

Oleh Ambrosius Harto

SURABAYA, KOMPAS — Perbedaan nasib dialami juara bertahan Proliga, kompetisi bola voli tertinggi Indonesia ini. Tim putra Jakarta Bhayangkara Presisi memang telak, sedangkan tim putri Jakarta Pertamina Enduro kalah tipis.

Drama itu terjadi pada hari pertama empat besar (final four) Proliga di Jawa Pos Arena, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/4/2026) malam. Sejumlah evaluasi bakal dilakukan tim yang menelan kekalahan.

Bhayangkara Presisi mempermalukan tuan rumah Surabaya Samator dengan skor 3-0 (26-24, 25-16, 25-16). Sebaliknya, Pertamina Enduro tumbang di tangan Jakarta Electric PLN Mobile dengan skor 2-3 (25-15, 22-25, 23-25, 25-21, 11-15).

Hal itu mengindikasikan ketatnya pertarungan delapan tim terbaik babak reguler di empat besar. Setelah seri Surabaya, empat besar berlangsung di Surakarta dan Semarang. Perebutan di empat besar demi pertarungan puncak di final utama (grand final) di seri Yogyakarta.

Dalam duel Bhayangkara versus Samator, penyerang silang (opposite hitter) Bardia Saadat (23) menjadi bintangnya. Dia berkontribusi paling besar, 21 poin, bagi tim milik korps kepolisian itu.

Bardia ialah pilar asal Iran yang memenangi Kejuaraan Dunia U-21 pada 2019. Di Proliga 2026, Bardia ditarik sementara dari Top Volley Cisterna (Italia) ke Bhayangkara menjelang empat besar menggantikan Khan Aimal (35) dari Pakistan.

Dari 21 poin itu, mayoritas disumbang 17 kekuatan pukulan (spike). Selanjutnya, 2 poin blok dan 2 poin servis. Dari pertandingan ini terlihat kejelian manajemen Bhayangkara karena Bardia segera padu dengan permainan tim.

Kontribusi besar berikutnya diberikan penyerang luar (outside hitter) Martin Atanasov (30). Pevoli senior Bulgaria ini memberikan 11 poin terdiri atas 8 poin pukulan, 2 poin servis, dan 1 poin blok.

Selanjutnya, ada pemain nasional dan pemblok (middle blocker) Ahmad Gumilar (23) serta penyerang luar Rendy Tamamilang (30) masing-masing menyumbang 9 poin.

Bagi Samator, kekalahan telak itu menguji keteguhan prinsip bersandar pada pemain binaan. Kontribusi terbesar dari penyerang silang Rama Fauzan (23) dengan 15 poin terdiri atas 14 poin pukulan dan 1 poin blok. Berikutnya, sumbangan 9 poin pukulan dari penyerang luar Jordan Susanto (23).

Sebagai informasi, kedua tim kerap disebut ssbagai ”mantan saudara”. Alasannya, kurun 2016-2022, kedua tim ini pernah membentuk Surabaya Bhayangkara Samator.

Pada 2023, kerja sama berakhir karena Jakarta Bhayangkara Presisi berdiri sendiri dengan didukung mayoritas pemain Samator, salah satunya Tamamilang.

Bahkan, pelatih Bhayangkara ialah mantan bintang Samator, yakni Reidel Toiran asal Kuba. Toiran adalah arsitek yang mengantarkan Bhayangkara sebagai juara Proliga 2024 dan 2025 sejak bergabung pada 2023 sebagai pelatih kepala.

Saat membela Samator, Toiran berposisi pemblok dan dijuluki ”sang jimat” terutama dengan rentetan gelar juara Proliga 2014, 2016, 2018, dan 2019.

Pemain Jakarta Bhayangkara Presisi protes ke wasit saat melawan Surabaya Samator  dalam Final Four Proliga 2026  di Jawa Pos Arena, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/4/2026).  Jakarta Bhayangkara Presisi menang 3-0. 

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)
Penonton  pertandingan antara Jakarta Bhayangkara Presisi lawan Surabaya Samator  dalam Final Four Proliga 2026  di Jawa Pos Arena, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/4/2026).  Jakarta Bhayangkara Presisi menang 3-0. 

Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Meski kalah, Samator sebenarnya tidak bermain buruk. Di set pertama, Samator memberi perlawanan sengit terhadap Bhayangkara.

Kejar-mengejar angka terjadi amat ketat sampai skor 16-16. Bahkan, Samator sempat unggul 24-23 seolah set pertama akan digenggam.

Namun, Bhayangkara memperlihatkan mental baja. Serangan balik yang dibangun Nizar Zulfikar membuat Bhayangkara menyamakan skor 24-24. Selanjutnya, momentum berbalik dan menjauh dari Samator sehingga kalah 24-26.

Di set kedua, perlawanan sengit Samator hanya bertahan sampai skor 5-5. Setelah itu, Bhayangkara mendapat momentum menjauh dan menjaganya sampai kemenangan 25-16. Di sinilah kehadiran Bardia dan Atanasov menjadi pembeda yang dominan.

Kehilangan dua set jelas memukul Samator. Set ketiga yang dicoba untuk kebangkitan ternyata meleset.

Dominasi Bhayangkara gagal dibendung sehingga Samator kalah lagi 16-25. Margin poin kekalahan yang tajam itu jelas memperlihatkan diferensiasi ibarat langit dan bumi.

Manajer Samator Hadi Sampurno mengakui kekalahan telak itu. Namun, perlawanan di set pertama menjadi catatan positif meskipun situasi berubah di titik kritis.

”Dewi fortuna menjadi tidak berpihak,” katanya dalam jumpa pers seusai pertandingan.

Pemblok Samator Tedi Oka (25) juga mengakui penampilan dirinya dan teman-teman kurang baik. Melawan Bhayangkara yang solid, mereka sepatutnya tidak berbuat banyak kesalahan dalam servis dan penerimaan. Mereka kesulitan membaca gaya bermain lawan.

”Kami melakukan banyak kesalahan sendiri,” kata Tedi yang menyumbang 4 poin.

Kesalahan yang dimaksud Tedi itu memberikan keuntungan sampai 22 poin bagi Bhayangkara. Lebih banyak daripada kesalahan Bhayangkara yang memberikan 17 poin bagi Samator.

Toiran mengatakan, kemenangan telak itu juga perlu diberi catatan, terutama set pertama. ”Penampilan tim tetap perlu mendapat evaluasi. Pemain asing kami masih bisa lebih optimal,” ujarnya.

Tamamilang menambahkan, keberadaan Baidar, pemain asing baru, langsung terasa positif. Ini bukti adaptasi sang pemain baru dapat dengan cepat dirasakan oleh tim.

”Kami mudah berkomunikasi,” kata Tamamilang.

Pemain Jakarta Electric PLN Kara Jane Bajema smes ke arah pemain Jakarta Pertamina Enduro dalam Final Four Proliga 2026  di Jawa Pos Arena, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/4/2026).
  
Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)
Pemain Jakarta Pertamina Enduro Wilma Alishanova smes ke arah pemain Jakarta Electric PLN  dalam Final Four Proliga 2026  di Jawa Pos Arena, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (2/4/2026).
  
Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Duel tim pelat merah

Dalam duel tim pelat merah, kekalahan Pertamina dari PLN terasa menyesakkan. Juara bertahan ini unggul dalam total poin, yakni 106 atas 101. Namun, panggung kemenangan tetap menjadi milik PLN.

Keunggulan PLN disumbang soliditas trio penyerang luar Neriman Ozsoy (37), Kara Bajema (28), dan Ersandrina Devega (26).

Ozsoy berkontribusi 28 poin serangan, Bajema menyumbang 24 poin serangan dan 1 poin blok, dan Devega memberikan 7 poin serangan, 2 poin blok, dan 2 poin servis.

Di sisi Pertamina, kekalahan itu ternyata disumbang secara signifikan dari kesalahan yang memberikan 30 poin bagi lawan. Bandingkan dengan kesalahan PLN yang memberikan 19 poin bagi Pertamina.

Akumulasi poin dari kesalahan itu akhirnya menekan kontribusi luar biasa trio bintang Pertamina.

Penyerang luar Irina Voronkova (30) menyumbang 30 poin serangan, 2 poin servis, dan 1 poin blok. Penyerang luar Wilma Salas (35) memberikan 19 poin serangan dan 3 poin blok. Bintang nasional Megawati Hangestri (26) menyumbang 22 poin serangan.

Setelah balas-membalas sehingga skor 2-2, titik balik pertandingan terjadi di set kelima. Di sinilah, PLN berani begitu fokus sehingga unggul atas Pertamina. Meskipun Pertamina sempat unggul 3-1, situasi berbalik menjadi 4-8, lalu 8-12, dan ditutup 11-15 untuk PLN.

Pelatih Pertamina Bullent Karsioglu mengatakan, tim membuat banyak kesalahan. ”Kami sebenarnya telah bertarung baik, tetapi banyaknya kesalahan sendiri menjadikan kami kalah tipis,” ujarnya.

Karsioglu mengatakan akan segera mengevaluasi tim secara menyeluruh. Ada inkonsistensi dalam permainan menghadapi PLN. Evaluasi juga akan berlaku bagi Voronkova yang baru bergabung untuk empat besar.

Asisten 2 Pelatih PLN Judianto amat bersyukur atas kemenangan dalam laga amat ketat itu. ”Lawan lebih banyak melakukan kesalahan sehingga menutupi kekurangan kami,” ujarnya.

Pengatur serangan (setter) PLN Afra Hasna menambahkan, set pertama menandakan permainan timnya terburu-buru. Namun, mereka mampu berubah, menemukan fokus dan ritme. Set kelima yang menentukan, PLN lebih mampu menjaga konsistensi dan menekan kesalahan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ambrosius Harto
 | 

Editor:

Cornelius Helmy Herlambang
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nur Adji