Judi ”Online” yang Mengadiksi hingga Merusak Fungsi Otak

Kondisi kecanduan judi daring sudah masuk sebagai kategori gangguan jiwa. Dampaknya bahkan bisa lebih buruk dari kecanduan narkoba.

23 Nov 2024 09:00 WIB · Nasional

Oleh Deonisia Arlinta

Judi daring atau judi online telah dianggap sebagai bencana sosial. Dampaknya luas hingga merusak seluruh tatanan hidup masyarakat. Setiap satu orang yang mengalami adiksi judi, sebanyak tujuh orang lain juga akan terdampak.

Judi daring pun tidak hanya berdampak pada keuangan, tetapi juga pada aspek kesehatan, sosial, hukum, budaya, dan ekonomi. Dampak kecanduan judi daring enam kali lebih besar daripada dampak yang diakibatkan oleh kecanduan narkoba.

Judi daring semakin menjadi masalah karena lingkungan masyarakat kini masih memberikan kemudahan akses pada tindakan tersebut. Iklan-iklan judi daring muncul di berbagai platform media sosial. Akses pinjaman daring juga sangat mudah.

Selain itu, laman web untuk judi daring selalu terbuka bebas. Jika ada satu laman yang diturunkan oleh pemerintah, ribuan lainnya akan muncul. Mati satu, tumbuh seribu. Masalah judi daring memang kompleks sehingga penanganannya harus serius.

Merusak fungsi otak

Kepala Departemen Medik Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Kristiana Siste Kurniasanti saat ditemui pada pertengahan November 2024 menuturkan, dampak kecanduan judi daring dengan kecanduan narkoba sama parahnya.

Itu sebabnya, tata laksana yang diberikan pun hampir sama. Selain dukungan psikologis, terapi obat juga perlu diberikan kepada orang yang sudah kecanduan judi daring. Kerusakan fungsi otak yang ditemukan pada orang yang kecanduan judi hampir sama dengan orang yang kecanduan narkoba. Faktor genetik turut memengaruhi.

Quote

Dampak dari kecanduan judi daring dengan kecanduan narkoba sama parahnya.

Kristiana menyampaikan, remaja dan dewasa muda merupakan kelompok usia yang paling rentan mengalami kecanduan. Ini dipengaruhi oleh area bagian otak depan yang disebut dengan cortex prefrontal. Area otak depan ini merupakan area otak yang terakhir matang (mature).

Pada perempuan, area otak ini baru matang pada usia 20 tahun, sementara pada pria di usia 21 tahun. Cortex prefrontal ini berfungsi untuk mengendalikan perilaku. Area otak ini yang memberikan sinyal pada tubuh untuk menghentikan suatu perilaku yang sudah berlebihan.

”Pada remaja dan dewasa muda, bagian otak yang sudah matang adalah bagian pengatur emosi. Jadi, ketika emosi sedang labil, tetapi otak bagian depan belum matang akan memicu terjadinya perilaku impulsif untuk memperbaiki emosi tersebut yang salah satunya bisa lewat judi online,” kata Kristiana.

Perilaku adiksi atau kecanduan bukan merupakan proses yang sederhana. Berbagai fungsi otak terdampak saat orang sudah mengalami kecanduan. Itu mulai dari bagian otak yang berfungsi untuk mengontrol diri, bagian otak yang berfungsi untuk membuat keputusan, serta bagian otak yang berfungsi untuk mengatur keinginan dan memori.

Lantas mengapa orang yang sudah mengalami kecanduan judi daring sulit untuk menghentikan perilakunya? Kristiana menjelaskan, bagian otak yang disebut hipokampus memiliki fungsi untuk menyimpan memori jangka panjang.

Petugas menyiapkan barang bukti yang berhasil disita untuk diperlihatkan kepada wartawan saat konferensi pers terkait tindak pidana perjudian daring di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta, Sabtu(2/11/2024). Bareskrim Polri membongkar sindikat judi daring jaringan internasional yang dikendalikan warga negara China. Bareskrim menyita uang tunai lebih dari Rp 70 miliar. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO (TOK) 02-11-2024

Ketika seseorang yang melakukan judi daring menang taruhan dengan nominal besar, memori itulah yang terus diingat. Memori ini pula yang akhirnya mendorong seseorang untuk kembali bermain judi.

”Pada judi online ini, ada juga yang disebut dengan temporal memory. Jadi, hanya kemenangan itu saja yang diingat terus, sementara ketika kalah itu tidak diingat. Ini menimbulkan pikiran yang salah, seperti adanya memori akan menang ketika pakai baju merah atau menang setelah empat kali main. Orang pun tidak akan berhenti main sekalipun sudah kalah,” tuturnya.

Masalah serius

Kondisi kecanduan judi daring sudah masuk sebagai kategori gangguan jiwa. Kecanduan judi daring bisa didiagnosis dan secara resmi sudah terdapat kode tertentu dari kondisi gangguan jiwa. Kecanduan judi daring masuk dalam kategori gangguan jiwa dengan kode DSM-5 dan ICD-11.

Secara epidemiologi, angka kasus judi daring cukup besar. Berdasarkan riset Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, prevalensi adiksi judi daring diperkirakan 2 persen pada 2021. Angka ini lebih besar daripada prevalensi adiksi narkoba yang dicatat oleh BNN sebesar 1,95 persen.

Riset FKUI memperlihatkan pula bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan. Polusi adiksi judi pada perempuan sebesar 48,7 persen dan laki-laki sebesar 51,3 persen. Sementara itu, 68,9 persen dari kasus adiksi judi ditemukan pada usia 18-25 tahun. Sebanyak 67,4 persen menggunakan telepon pintar untuk berjudi.

Menurut Kristiana, persoalan yang cukup serius adalah ada 18,5 persen kasus adiksi judi tidak sadar bahwa perilakunya sudah mengarah pada kondisi adiksi. ”Ini PR buat kita karena mereka yang merasa tidak ada problem cukup banyak jumlahnya. Padahal, mereka sudah memiliki berbagai gejala adiksi judi,” katanya.

Infografik Jajak Pendapat Judi Online bagian 2

Adiksi judi daring memiliki beban kesehatan yang besar. Berdasarkan waktu hidup sehat yang hilang karena disabilitas (YLD), adiksi akibat judi daring punya beban enam kali lebih besar dari kondisi penyalahgunaan zat atau narkoba. Beban tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan kondisi diabetes melitus dan stroke.

Dampak secara umum dari kecanduan judi daring paling banyak terkait dengan keuangan. Namun, itu juga bisa meluas pada masalah relasi, psikologis, depresi, kesehatan fisik, dan kriminal. Pada beberapa kasus juga ditemukan adanya pikiran untuk mengakhiri hidup.

”Jadi ternyata judi online, kecanduan judi online berdampak pada seluruh aspek kehidupan manusia,” tutur Kristiana.

Proses adiksi

Pada awalnya, orang mulai melakukan judi daring hanya untuk bermain atau mencari kesenangan. Namun, saat proses judi berlangsung, muncul adrenalin yang mendorong orang kembali berjudi. Hal ini kemudian membentuk suatu kebiasaan hingga muncul pola yang membuat orang tersebut terbiasa melakukan judi.

Ketika seseorang mulai terbiasa melakukan sesuatu, ia cenderung bisa melakukan aktivitas tersebut secara otomatis tanpa berpikir panjang. Pada kondisi inilah seseorang sudah dikatakan mengalami kecanduan. Orang merasa gelisah dan cemas jika tidak melakukan aktivitas tersebut.

Itu sebabnya, orang yang sudah kecanduan judi daring akan sulit untuk menghentikannya. Sekalipun pada beberapa orang sebenarnya sudah muncul adanya konflik internal diri yang mendorongnya untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Namun, adiksi yang terjadi membuat dirinya ingin kembali bermain dan bertaruh dalam judi.

Kristiana menjelaskan, ada dua hal yang bisa dilihat sebagai tanda bahwa judi sudah bermasalah, yakni adanya kebohongan dan pertaruhan. Jika seseorang sudah berbohong ketika berjudi, misalnya dengan menyembunyikan fakta bahwa ia telah berjudi serta sudah merasa perlu bertaruh melebihi kemampuan finansialnya, itu sudah bisa menjadi tanda bahwa judi yang dilakukan sudah bermasalah.

Terapi adiksi judi

Kondisi kecanduan judi daring termasuk sebagai penyakit kronik sehingga bisa terjadi kekambuhan yang berulang. Oleh karena itu, terapi pencegahan kekambuhan tersebut sangat penting untuk dilakukan.

Kristiana menuturkan, terapi yang diberikan pada orang dengan adiksi judi daring meliputi penanganan gejala, perbaikan komorbiditas (kesakitan) dan efek samping, serta perbaikan fungsi diri secara umum, baik fungsi sosial, fisik, maupun mental.

Rantai dan borgol mengikat para tersangka kasus perjudian yang dihadirkan bersamaan dengan gelar kasus di Kantor Polisi Daerah Jawa Tengah, Kota Semarang, Senin (22/8/2022). Dalam sepekan ini perjudian daring menjadi isu besar setelah munculnya dugaan adanya pejabat polisi yang turut sebagai pelindungnya. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 22-08-2022

Selain itu, terapi obat juga bisa diberikan untuk mengatasi kerusakan bagian otak yang terdampak. Diharapkan, terapi ini bisa membantu meningkatkan kembali kualitas hidup pasien.

Namun, penanganan orang yang mengalami adiksi judi daring masih menghadapi tantangan. Jumlah fasilitas kesehatan yang mampu memberikan terapi adiksi judi daring masih sedikit. Bahkan, jumlah psikiater khusus adiksi di Indonesia pun hanya sekitar 50 orang. Adanya perluasan akses terapi sangat dibutuhkan.

Terkait hal itu, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar yang ditemui seusai kunjungannya ke klinik adiksi di RS Cipto Mangunkusumo, Jumat (15/11/2024) mengatakan, layanan untuk terapi adiksi judi daring akan diperluas. ”Kami akan minta beberapa kementerian, termasuk Kementerian Kesehatan, untuk mendeteksi di seluruh rumah sakit. RSCM baru langkah awal yang nanti akan diteruskan ke daerah-daerah,” ucapnya.

Masalah judi daring perlu semakin disadari sebagai masalah serius yang berdampak luas pada berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dampak kerusakan yang terjadi amat kompleks. Akan tetapi, upaya pencegahan lebih penting untuk dilakukan. Selama faktor lingkungan masih mendukung orang-orang untuk melakukan judi daring, seperti maraknya iklan judi daring dan akses yang mudah menuju laman web judi daring, persoalan ini sulit diselesaikan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan