Jumlah Siswa Diduga Keracunan Paket MBG di Cianjur Jadi 165 Orang

Sebanyak 165 siswa  diduga mengalami keracunan akibat mengonsumsi paket makanan Program MBG di Cianjur, Jawa Barat.

26 Apr 2025 09:52 WIB · Nusantara

Oleh Fabio Maria Lopes Costa

BANDUNG, KOMPAS — Jumlah siswa yang diduga keracunan seusai mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, mencapai 165 orang. Data ini berdasarkan temuan Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur di dua sekolah.

Sebanyak 165 korban yang mengalami gejala keracunan merupakan siswa dari dua sekolah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dua sekolah itu adalah Madrasah Aliyah Negeri 1 Cianjur dan SMP PGRI 1 Cianjur.

Para korban di dua sekolah tersebut mengonsumsi paket makanan MBG pada Senin pagi. Di SMP PGRI 1 Cianjur, siswa mengonsumsi paket makanan MBG yang terdiri dari nasi, mi goreng, ayam suwir, tempe mendoan, dan semangka.

Selang beberapa jam, para korban mengalami gejala yang sama, seperti muntah, pusing, dan diare. Mereka pun dirawat di sejumlah rumah sakit, klinik, dan puskesmas setempat.

Tampak salah satu dari 78 siswa yang mengalami keracunan di salah satu rumah sakit di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin (21/4/2025).  Diduga siswa mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis.

”Dinkes Cianjur mendata 971 siswa yang mengonsumsi paket MBG di dua sekolah. Hasilnya ditemukan 165 siswa yang mengalami keracunan,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jabar Rochady Hendra Setya Wibawa di Bandung, Sabtu (26/4/2025).

Rochady memaparkan, 92 siswa yang menjadi korban keracunan menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Umum Daerah Sayang Cianjur, Rumah Sakit Bhayangkara, empat puskesmas dan satu klinik. Sementara 73 korban lainnya dirawat di rumah karena mengalami gejala ringan.

Adapun Dinkes Cianjur telah mengambil sampel makanan dari dapur pihak yang melaksanakan program MBG untuk dua sekolah tersebut. Sampel sedang diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah Jabar di Bandung.

”Pemeriksaan untuk mengetahui kuman di makanan yang memicu siswa yang mengalami keracunan. Kami akan mengumumkan hasilnya dalam waktu dekat,” tuturnya.

Kepala bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jawa Barat, Rochady Hendra Setia Wibawa di Kota Bandung, Rabu (20/3/2024).

Ia menambahkan, pihak pengelola dapur MBG untuk ke depannya harus memiliki sertifikasi dari Dinkes Cianjur tentang cara penyediaan makanan yang higienis. ”Mereka harus mengikuti arahan dari dinkes sehingga kejadian ini tak terulang lagi,” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kabid Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Cianjur Frida Laila Yahya menyatakan, produksi makanan MBG di dapur tersebut dihentikan sementara. Upaya ini untuk menanti hasil pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Kesehatan Daerah Jabar.

”Pemerintah Kabupaten Cianjur juga telah menetapkan status kejadian luar biasa kasus keracunan masal yang menimpa para siswa,” katanya.

Lakukan penyelidikan

Polisi telah menyelidiki keracunan masal yang mengakibatkan 165 siswa menjadi korban. Polres Cianjur telah mengambil informasi dari sejumlah saksi terkait penyediaan MBG di dua sekolah tersebut.

Kepala Satuan Reskrim Polres Cianjur Ajun Komisaris Tono Listianto menunjukkan barang bukti dalam kasus keracunan makanan masal di Cianjur yang meyebabkan 165 siswa menjadi korban pada Rabu (23/4/2025) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

”Tim Satreskrim Polres Cianjur dan polsek telah melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengumpulkan bahan keterangan serta beberapa sampel makanan penyebab keracunan,” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Cianjur Ajun Komisaris Tono Listianto.

Tono menuturkan, pihaknya telah meminta klarifikasi 10 orang yang terkait program MBG di kecamatan tempat dua sekolah tersebut. Mereka ini berasal dari pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), seperti ahli gizi, tim pengemasan, dan pengantar makanan.

”Hingga kini kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah dalam peristiwa ini. Kami masih menanti hasil pemeriksaan sampel makanan di Labkesda Jabar,” ucapnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fabio Maria Lopes Costa
 | 

Editor:

Rini Kustiasih
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari