Jusuf Kalla menegaskan pentingnya keberanian global untuk menghentikan perang dan membangun perdamaian sejati.
27 Okt 2025 19:04 WIB · Internasional
Dokumentasi tim media Jusuf Kalla
JAKARTA, KOMPAS — Di tengah ketidakpastian dan konflik yang masih berkecamuk di banyak belahan dunia, Indonesia menegaskan keberpihakannya pada perdamaian. Sikap tersebut dinyatakan oleh Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla, Senin (27/10/2025), di Roma, Italia.
Kalla menegaskan, hanya perdamaian, bukan perang, yang mampu menjamin masa depan umat manusia. ”Dalam keadaan damai, anak-anak menguburkan ayah mereka karena sebab-sebab alami. Dalam perang, ayah menguburkan anak-anaknya karena sebab-sebab buatan manusia. Hanya perdamaian yang dapat menunjukkan keindahan masa depan,” kata Kalla saat berpidato dalam Pertemuan Internasional untuk Perdamaian yang digelar oleh Komunitas Sant’Egidio.
Dalam forum yang dihadiri oleh perwakilan dari beragam negara itu Kalla menegaskan pentingnya keberanian global untuk menghentikan perang dan membangun perdamaian sejati. Ia mengungkapkan bahwa dunia masih belum sepenuhnya belajar dari sejarah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/22/840912c493dc2c4d0002ce5e9dc953e0-000_723B2VK.jpg)
Kalla lantas menyoroti berbagai konflik yang kini masih berkecamuk, seperti perang Rusia-Ukraina, hingga krisis kemanusiaan di Gaza. Ia mengingatkan, perang selalu mengorbankan mereka yang lemah, khususnya perempuan dan anak-anak. Warga sipil selalu menjadi korban utama konflik-konflik itu.
”Perang memecah manusia menjadi ’kami’ dan ’mereka’, menumbuhkan rasa curiga, dan menghancurkan harmoni kehidupan. Tidak ada yang menang dalam perang. Kemanusiaan selalu menjadi pihak yang kalah,” tegasnya.
Terkait upaya bina damai, Kalla menyoroti peran besar Amerika Serikat untuk perdamaian di Timur Tengah. Ia menilai, inisiatif untuk menekan pihak-pihak yang berkonflik agar berunding harus menjadi prioritas dunia. ”Saya selalu mengatakan, hanya keberanian politik yang bisa menghentikan perang. Jika Amerika Serikat sungguh mau menghentikan perang, maka perdamaian bisa tercapai,” ujarnya.
Kalla kemudian menegaskan kembali sikap dan dukungan Indonesia pada solusi dua negara. Menurut dia, solusi dua negara adalah solusi terbaik untuk menyelesaikan konflik Israel-Palestina. Ia pun menilai bahwa rekonsiliasi faksi-faksi di Palestina, terutama Hamas dan Fatah, adalah kunci perdamaian di Palestina.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/16/25d67688-bef8-45fc-bc38-bb2b095cf6af_jpg.jpg)
”Sebagai bangsa dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, Indonesia akan tetap konsisten: jika Israel mengakui kemerdekaan Palestina, maka Indonesia akan mengakui Israel sebagai negara merdeka,” kata Kalla menegaskan.
Menutup pidatonya, ia menegaskan bahwa perdamaian adalah puncak peradaban manusia, sedangkan perang adalah kegagalan terbesar umat manusia. ”Perang selalu merendahkan nilai kehidupan manusia. Hanya perdamaian yang dapat membangun peradaban dan menjaga martabat umat manusia,” kata Kalla.
Sebelum menutup pidato itu, Kalla memberikan perhatian pada isu penyalahgunaan teknologi komunikasi. Penyebaran berita bohong di dunia digital kerap menjadi bahan bakar atau pemicu konflik. ”Teknologi yang seharusnya mempersatukan manusia justru sering digunakan untuk memecah belah. Karena itu, kebijaksanaan, pengendalian diri, dan regulasi tegas menjadi kunci menjaga perdamaian digital,” kata Kalla.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/09/05/73e38984-dab3-42a8-879e-5f7f5f693fdd_jpg.jpg)
Hadir dalam rangkaian acara yang digelar oleh komunitas Sant’Egidio adalah Menteri Agama Nasaruddin Umar. Merujuk laman resmi Kementerian Agama RI disebutkan, Nasaruddin akan berbicara tentang ”Mengenang Paus Fransiskus” dalam pertemuan tersebut.
”Selama kunjungan Yang Mulia, saya memiliki pertemuan yang sangat berkesan dengan beliau saat kami menandatangani Deklarasi Istiqlal—yang bertujuan untuk mengadvokasi kemanusiaan, dialog, dan perlindungan lingkungan. Semangat kemanusiaan itu, dan bahwa kemanusiaan hanya memiliki satu warna, tetap hidup setelah wafatnya Paus Fransiskus,” kata Nasaruddin, Minggu, di Vatikan. ”Semangat kemanusiaan dan keberagaman agama serta budaya ini telah menjadi warisan Indonesia sebagaimana tecermin dalam semboyan Bhinneka Tunggal Ika”.
Saat berada di Roma, Nasaruddin Umar didampingi Duta Besar RI untuk Takhta Suci Michael Trias Kuncahyono, berziarah ke makam Paus Fransiskus, di Basilika St. Maria Maggiore, Roma, Senin pagi pukul 09.00 dan dilanjutkan ke Basilika St. Petrus, Vatikan.
Di Basilika St. Maria Maggiore, Menteri Agama mendapat izin khusus untuk bisa mendekat ke makam. Bahkan, meletakkan rosario warna biru-hijau, di pusara. Tidak semua orang, menurut petugas jaga bahkan seorang kardinal pun, diperkenankan mendekat ke nisan Paus Fransiskus. Tetapi, Menteri Agama dan Dubes RI untuk Takhta, diperbolehkan mendekat dan menyentuh pusaranya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/28/4075f567b970dc269b8e3c32d0c83086-WhatsApp_Image_2025_10_28_at_09.15.52_1_.jpeg)
"Saya sangat bersyukur dan terharu, bersama Pak Dubes, diperbolehkan mendekat k makam. Bahkan mengusapnya," kata Menteri Nasaruddin Umar penuh haru.
Merujuk pernyataan pers KBRI Takhta Suci, Paus Fransiskus yang berpulang pada tanggal 21 April 2025, adalah sahabat Menteri Agama Nasaruddin Umar. Hubungan mereka bukan sekadar diplomatik. Keduanya menjalin hubungan personal yang kuat.
Sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar pernah menerima langsung kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal, Jakarta. Di tempat itu, mereka menandatangani Deklarasi Istiqlal, pada 5 September 2024.
Ketika Paus Fransiskus bertemu Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar dan para pemimpin agama yang lain, seperti mengulang sejarah peristiwa di Abu Dhabi. Di kota itu Paus Fransiskus bertemu Imam Besar Al Azhar, Cairo, Mesir, Ahmed el-Tayed. Di kota itu mereka menandatangani Document on Human Fraternity for World Peace and Common Coexistence atau Dokumen Abu Dhabi.
Melihat dan merasakan tanggapan masyarakat Indonesia saat itu, di Masjid Istiqlal Paus Fransiskus mengatakan, "Sono felice di trovarmi qui, nella piu grande Moschea dell'Asia, insieme a tutti voi. Saluto il Grande Imam e lo ringrazio per le parole che mi ha rivolto.... Saya senang berada di sini, di masjid terbesar di Asia Tenggara, bersama Anda semua.
Saat berada di Roma, Nasaruddin menyempatkan diri bertandang ke KBRI untuk Takhta Suci Vatikan. Ia disambut oleh Duta Besar Michael Trias Kuncahyono. Nasaruddin turut menyaksikan pentas budaya yang disajikan oleh Komunitas Kebaya Menari. Pentas Budaya ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan ulang tahun ke-75 Hubungan Diplomatik Republik Indonesia dan Takhta Suci.
Penulis:
Bonifasius Josie Susilo HEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Retma Wati