Juventus Marah Besar, Benarkah ”Si Nyonya Besar” Paling Dirugikan Wasit?

Juventus adalah tim paling banyak kehilangan poin akibat keputusan keliru wasit. AC Milan dan Napoli pun alami hal serupa, sedangkan Inter Milan nihil eror wasit.

15 Feb 2026 12:17 WIB · Olahraga

AP

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

MILAN, MINGGU — Derbi Italia di Stadion Giuseppe Meazza, Minggu (15/2/2026) WIB, dimenangi Inter Milan 3-2 atas Juventus. ”I Nerazzurri” kian kokoh dan tak terusik di puncak klasemen. Di satu sisi, Juve pulang dengan kemurkaan tentang sistem perwasitan di Liga Italia.

Pendukung Juventus dan pencinta netral Liga Italia umumnya menyoroti peran wasit Federico La Penna yang ikut memengaruhi hasil laga. La Penna mengganjar bek kanan Juve, Pierre Kalulu, kartu kuning kedua pada menit ke-42. Itu menyebabkan I Bianconeri bermain dengan 10 pemain sejak akhir babak pertama.

Situasi itu diprotes keras oleh Pelatih Juve Luciano Spalletti serta dua petinggi Juve, Giorgio Chiellini (Direktur Strategi Sepak Bola) dan Damien Comolli (CEO). Mereka mencegat La Penna di tangga lorong ruang ganti stadion pada jeda babak.

Teriakan Chiellini paling terdengar dari rekaman video insiden itu yang viral di jagad maya. Salah satu mantan bek terbaik Juve dan timnas Italia itu dikenal kalem ketika bertanding, tetapi kemarahannya pecah.

”Tidak ada, tidak ada,” ucap Chiellini di hadapan La Penna dan dua asistennya seusai babak pertama.

Chiellini merujuk pelanggaran Kalulu kepada bek Inter, Alessandro Bastoni. Kalulu hanya melakukan kontak ringan untuk menghalau Bastoni dengan tangannya.

Juventus' French midfielder #19 Khephren Thuram-Ulien controls the ball during the Italian Serie A football match between Sassuolo and Juventus at the Mapei - Città del Tricolore stadium in Reggio Emilia, on January 6, 2026. (Photo by Marco BERTORELLO / AFP)

Bastoni terjatuh hingga La Penna tak ragu memberikan Kalulu kartu kuning kedua. Pada menit ke-32, La Penna juga sudah mencatat nomor punggung Kalulu di kolom daftar penerima kartu kuning. Spalletti juga berteriak kepada La Penna, ”Pertandingan palsu”.

”Jelas ada kelompok wasit yang tak berkompeten memimpin pertandingan. Ini memalukan, kita harus ubah (sistem perwasitan) sekarang,” tutur Chiellini kepada Sky Sports seusai pertandingan.

Ia melanjutkan, ”Gianluca Rocchi harus mundur. Kejadian ini memalukan sepak bola Italia karena seluruh dunia melihat”.

Comolli pun sependapat dengan Chiellini. Menurut dia, ketidakadilan yang ditampilkan La Penna membuat makna sepak bola terkikis. Ia menyebut Juve sudah melakukan protes resmi ke Asosiasi Perwasitan Italia (AIA) sejak awal musim, tetapi hal itu tidak digubris.

”Apa yang terjadi (terhadap Kalulu) tidak bisa diterima. Hal itu adalah ketidakadilan sejati,” kata Comolli, yang sebelumnya berkarier di Inggris dan Perancis, seperti dikutp Diretta.

”Kami tidak peduli ini terjadi kepada kami atau tim lain, tetapi sistem ini harus dibenahi. VAR harus diperbaiki. Orang-orang yang ditugaskan di pertandingan juga harus memiliki kecakapan agar tidak ada lagi kerugian pada laga-laga besar,” tambahnya.

Juventus' Italian coach Luciano Spalletti gestures during the UEFA Champions League league phase day 8 football match between AS Monaco and Juventus at the Stade Louis II in the Principality of Monaco on January 28, 2026. (Photo by FREDERIC DIDES / AFP)

Sementara itu, Spalletti menolak melakukan wawancara dengan pemilik hak siar resmi setelah pertandingan. Ia juga tidak menghadiri konferensi pers setelah pertandingan. Selain Spalletti, pemain-pemain Juve tidak ada yang berhenti dan menyambut permintaan wawancara di zona campuran sebelum meninggalkan stadion.

Selain menyoroti La Penna, Comolli dan Chiellini menyoroti pula perubahan aturan VAR. La Penna tidak membahas kartu kuning kedua dengan para asistennya di ruang VAR karena insiden itu bukan kartu merah langsung.

Kalulu sudah menerima kartu kuning sehingga VAR tidak melakukan intervensi. VAR laga itu merujuk aturan bahwa keterlibatan mereka hanya pada salah satu situasi, yakni potensi kartu merah akibat pelanggaran berat.

Luca Marelli, mantan wasit Liga Italia yang mengamati laga di DAZN, menyebut La Penna melakukan kesalahan besar. Ia pun menyebut aturan VAR yang hanya bisa berperan pada kartu merah langsung adalah absurd.

”Keputusan itu eror yang serius. La Penna tertipu dengan respons Bastoni (setelah ada sentuhan dengan Kalulu),” kata Marelli.

Adapun Pelatih Inter Cristian Chivu mengakui kontak ringan yang dilakukan Kalulu kepada Bastoni. ”Tetapi, Kalulu sebagai pemain profesional seharusnya lebih berhati-hati karena sudah menerima kartu kuning,” kata Chivu, dilansir Corriere dello Sport.

Inter Milan's head coach Cristian Chivu reacts at the end of a Serie A soccer match between Inter Milan and Pisa, in Milan, Italy, Friday, Jan. 23, 2026. (AP Photo/Luca Bruno)

Kehilangan poin

Kartu merah yang diterima Kalulu menyebabkan Inter mampu mendominasi laga di babak kedua. Sebelum turun minum, duel imbang 1-1 yang didasari dua gol bek Juve, Andrea Cambiaso. Ia salah mengantisipasi sepakan pemain sayap Inter, Luis Enrique, di menit ke-17. Kesalahan itu ditebus Cambiaso dengan gol penyama skor di menit ke-26.

Pada babak kedua, drama tersaji di atas lapangan. Penyerang muda Inter, Francesco Pio Esposito, membawa timnya unggul di menit ke-76, lalu kapten dan gelandang Juve, Manuel Locatelli, mencetak gol melalui sepakan di muka gawang Inter di menit ke-83.

Inter mencetak gol penentu raihan tiga poin berkat tembakan jarak jauh Piotr Zielinski pada menit ke-90. Hasil itu menjaga tren kemenangan I Nerazzurri menjadi enam laga di Liga Italia.

Nirpoin dari Giuseppe Meazza mengancam posisi Juve di zona empat besar. Mereka bisa turun ke peringkat kelima jika AS Roma terhindar dari kekalahan dalam duel di kandang Napoli, Senin (16/2/2026) dini hari WIB. Juve dan Roma sama-sama memiliki 46 poin.

Jika Kalulu tidak menerima kartu merah, Juve memang tidak terjamin bisa menang. Kontroversi wasit yang tersaji di Derbi Italia itu menambah daftar protes Juve terhadap keputusan wasit di kompetisi musim 2025-2026.

Setidaknya sudah ada tiga pertandingan Liga Italia yang ditutup Juve dengan protes terbuka kepada wasit. Pertama, momen itu tersaji ketika bertandang ke kandang Verona, 20 September 2025. Federico Gatti, bek Juve, disikut penyerang, Gift Orban, tetapi VAR tidak melakukan intervensi.

Juventus' Kenan Yildiz in action during the Serie A soccer match between Cagliari Calcio and Juventus FC in Cagliari, Italy, Saturday, Jan. 17, 2026. (Gianluca Zuddas/LaPresse via AP)

Pada pekan lalu, Juve juga memprotes keputusan wasit menghadapi Lazio. Salah satu insiden yang diprotes adalah anulir gol Teun Koopmeiners karena dianggap ada pemain Juve yang berada dalam posisi off-side dan mengganggu jarak pandang kiper Lazio, Ivan Provedel. Dalam tayang ulang, Khephren Thuram, gelandang Juve, tidak berdiri di arah bola sepakan Koopmeiners.

Merujuk perhitungan Superscommesse yang rutin memperbarui kasus kesalahan wasit di laga-laga Liga Italia, Juve adalah tim yang paling dirugikan atas keputusan kelompok arbitrase di musim 2025-2026.

Superscommesse, per 15 Februari 2026, menyebut Juve seharusnya memiliki 51 poin jika tidak ada kesalahan wasit dalam 24 pertandingan Liga Italia musim ini. Itu menunjukkan Juve kehilangan lima poin akibat keputusan wasit yang keliru.

Dua tim di atas Juve, yakni AC Milan dan Napoli, juga dinilai kehilangan dua poin akibat kekeliruan wasit. Jadi, Milan dan Napoli masing-masing seharusnya memiliki 52 poin dan 51 poin.

Adapun Superscommesse justru menyebut Inter mendapat keuntungan dua poin akibat keputusan keliru wasit. Dibandingkan dengan poin nyata 58 poin saat ini, Inter seharusnya memiliki 56 poin. Calciomercato, merujuk Open VAR, menyebut Inter adalah satu-satunya tim posisi lima besar Serie A saat ini yang tidak mengalami kesalahan keputusan wasit. (AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto