Pengumuman kenaikan suku bunga AS menambah kombinasi tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Tidak menutup kemungkinan rupiah dapat menembus Rp 18.000 per dolar AS.
17 Sep 2026 12:43 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO
JAKARTA, KOMPAS — Nilai tukar rupiah bergerak melemah seusai bank sentral Amerika Serikat, The Fed, memutuskan untuk mengerek suku bunga acuannya. Selain suku bunga, rupiah juga menghadapi risiko tekanan dari lonjakan harga minyak.
Pada Kamis (17/9/2026) dini hari, The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin (bps) ke level 3,75-4 persen. Keputusan pertama kali dalam tiga tahun terakhir ini diambil sebagai upaya untuk meredam inflasi menuju target sebesar 2 persen.
Menyusul kabar tersebut, nilai tukar rupiah melemah. Mengutip data Bloomberg, rupiah bergerak ke level Rp 17.763 per dolar AS, melemah 0,38 persen dibanding penutupan hari lalu. Secara tahun kalender berjalan, kurs rupiah tercatat melemah 6,49 persen.
Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Syafruddin Karimi menjelaskan, kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 bps telah memperbesar tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia. Kondisi ini membuat investor global kembali melirik imbal hasil aset AS.
”Kenaikan suku bunga The Fed mendorong ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, lalu investor meminta return lebih besar untuk memegang aset emerging market,” ujarnya saat dihubungi dari Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/15/5930d3c9569c512400f1efb189b21dd9-cropped_image.jpg)
Akibatnya, ia melanjutkan, imbal hasil obligasi Pemerintah AS (US Treasury) tetap tinggi, selisih terhadap surat berharga negara (SBN) menyempit, arus modal menjadi kian selektif, dan permintaan dolar AS meningkat. Hal ini membuat rupiah, imbal hasil SBN, dan valuasi saham tertekan.
Berdasarkan data Trading Economics, tingkat imbal hasil obligasi Pemerintah AS tenor 10 tahun telah menyentuh level 5 persen, terpaut 2,14 persen poin dibandingkan SBN tenor 10 tahun yang tercatat sebesar 7,14 persen. Ini menyempit dibanding pada awal September 2026 yang sebesar 2,21 persen poin.
Yield AS yang tinggi membuat investor global menuntut ’return’ lebih besar daripada aset rupiah, sedangkan minyak mahal meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia melalui impor energi. Kombinasi itu menekan sisi pasokan dan permintaan dolar secara bersamaan.
Menurut Syafruddin, tekanan terhadap nilai tukar tidak hanya berasal dari permintaan dolar AS. Sebaliknya, rupiah berisiko menghadapi tekanan hingga akhir 2026 apabila imbal hasil obligasi AS dan harga minyak bertahan di level yang tinggi.
”Yield AS yang tinggi membuat investor global menuntut return lebih besar daripada aset rupiah, sedangkan minyak mahal meningkatkan kebutuhan devisa Indonesia melalui impor energi. Kombinasi itu menekan sisi pasokan dan permintaan dolar secara bersamaan,” tuturnya.
Saat ini, harga minyak mentah Brent tercatat sebesar 105,75 dolar AS per barel. Selama sepekan terakhir, harga minyak tersebut bertahan tinggi di atas level 100 dolar per barel. Perkembangan ini terjadi setelah konflik di Timur Tengah antara AS dan Iran kembali memanas.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/09/45c95c53a01814cd66255a1469ee294a-20260909_H01_GKT_Harga_Minyak_dan_Neraca_mumed.jpg)
Ia memperkirakan kurs rupiah berpotensi bergerak ke kisaran Rp 17.400-Rp 18.000 per dolar AS dalam skenario dasar (baseline scenario). Risiko menuju level Rp 18.000 per dolar AS pun kian besar bila imbal hasil obligasi AS bertahan di 5 persen dan harga minyak Brent tetap di atas 100 dolar AS per barel.
Dalam kondisi tersebut, depresiasi nilai tukar rupiah dapat meningkatkan risiko inflasi barang impor (imported inflation). Alhasil, ruang penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) kian sempit, biaya pendanaan membengkak, serta pada akhirnya menahan laju pertumbuhan kredit dan investasi.
Maka dari itu, BI sebaiknya tetap mempertahankan suku bunga kebijakannya di level 5,75 persen. Sebaliknya, instrumen suku bunga akan relevan jika depresiasi rupiah mulai memicu pelebaran credit default swap (CDS), lonjakan tajam imbal hasil SBN, dan memburuknya ekspektasi inflasi domestik.
Kami mempertahankan perkiraan BI Rate pada akhir tahun di level 6,25 persen, dengan intervensi valuta asing dan langkah-langkah non-suku bunga kemungkinan besar tetap menjadi lini pertahanan utama.
Di sisi lain, Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengatakan, tekanan terhadap nilai tukar upiah kemungkinan masih akan berlanjut pada hari ini seiring dengan tingginya harga minyak mentah Brent, imbal hasil obligasi AS, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
”Namun, indeks DXY (dolar AS terhadap mata uang utama global) yang relatif stabil dan kuatnya aliran masuk dana asing ke pasar obligasi pemerintah diperkirakan dapat menjadi penahan terhadap pelemahan rupiah yang berlebihan,” ujarnya.
Ia memperkirakan nilai tukar rupiah pada hari ini akan bergerak pada kisaran Rp 17.590–Rp 17.685 per dolar AS. Namun, pelemahan rupiah tersebut cenderung terbatas seiring dengan masuknya aliran modal asing ke pasar obligasi dan pergerakan indeks DXY yang stabil.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/15/c46e85e596faa8a43412dbf4bfc34cfd-20260615RZF26.JPG)
Sementara itu, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz berpendapat, ketatnya kondisi keuangan AS akan menjadi kendala bagi BI. Imbal hasil obligasi AS yang lebih tinggi dan penguatan kurs dolar AS berisiko membatasi aliran masuk portofolio dan menekan rupiah.
Ditambah lagi tingginya harga minyak dunia turut menambah tekanan bagi stabilitas ekternal melalui jalur berdagangan dan transaksi berjalan. Ini mengingat defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat sebesar 12,5 miliar dolar AS atau 3,3 persen dari produk domestik bruto (PDB) pada Juni 2026.
”Kami mempertahankan perkiraan BI Rate pada akhir tahun di level 6,25 persen, dengan intervensi valuta asing dan langkah-langkah non-suku bunga kemungkinan besar tetap menjadi lini pertahanan utama,” kata Irman.
Penulis:
Agustinus Yoga PrimantoroEditor:
Muhammad Fajar MartaPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto