Kelas menengah Indonesia sedang kecewa terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan politik dalam negeri. Itu mendorong mereka mempertimbangkan migrasi.
21 Feb 2025 18:30 WIB · Opini
Film dokumenter Eksil (2022, Lola Amaria) melacak nasib sebagian dari banyak sarjana Indonesia yang kehilangan kewarganegaraan. Mengapa? Pertengahan tahun 1960-an mereka studi lanjut ke berbagai benua dengan restu pemerintahan Soekarno yang berideologi kiri. Sebagian dari mereka pendukung partai atau organisasi profesi akademik yang kiri.
Setelah pembantaian 1965, militer merebut kekuasaan Soekarno. Para sarjana di rantau itu didesak menandatangani pernyataan mengecam Soekarno dan mendukung militer. Yang menolak, paspornya dibekukan. Berpuluh tahun mereka tidak bisa pulang ke Tanah Air. Indonesia sendiri dirugikan oleh lenyapnya sebagian terbaik dari generasi kaum terpelajar itu.
Kalau kita lebih senang sehabis lulus tidak harus pulang. Kalau dilarang pulang, malah kebetulan, ha-ha-ha.
Tahun 2024, film Eksil dipertunjukkan di Melbourne. Di antara penonton, hadir sejumlah mahasiswa pasca-sarjana dari Indonesia. Kebanyakan dari mereka penerima beasiswa, seperti para tokoh di film yang ditonton. Seusai acara pertunjukan dan diskusi, ada yang bercanda: ”Kalau kita lebih senang sehabis lulus tidak harus pulang. Kalau dilarang pulang, malah kebetulan, ha-ha-ha”. Yang lain terbahak.
Tahun lalu ada wacana pejabat negara agar penerima beasiswa Indonesia yang selesai studi di luar negeri tidak wajib segera pulang. Para mahasiswa di Melbourne itu bagian dari warga bangsa yang sudah akrab dengan plesetan ”Indonesia Emas 2045” jadi ”Indonesia Cemas”. Banyak dari mereka yang dikecewakan oleh proses maupun hasil Pemilu 2024. Mereka akrab ikon bergambar ”Peringatan Darurat” yang minggu ini bersambung dengan ikon ”Indonesia Gelap”.
Sebulan terakhir #KaburAjaDulu jadi tagar paling viral di berbagai media. Banyak yang menafsirkan tagar itu sebagai ungkapan putus asa warga terhadap kondisi ekonomi, hukum, dan sosial di Tanah Air. Elite politik dianggap tidak peduli kesulitan hidup sehari-hari masyarakat luas. Kaum elite terlalu sibuk dengan sesamanya berebut dan tawar-menawar jatah kuasa dan harta dalam aneka bentuk perselingkuhan. Kas negara menipis sehingga anggaran belanja dipangkas.
Pandangan umum itu tidak salah, tapi terlalu sempit. Merantau menjadi tradisi panjang dalam sejarah Nusantara. Ribuan tahun lalu nenek moyang penduduk Indonesia adalah perantau yang kabur dari sejumlah pelosok dunia. Meninggalkan Tanah Air demi perbaikan ekonomi bukan gejala baru. Sudah lebih dari setengah abad terjadi gelombang besar tenaga kerja migran (TKI/TKW) Indonesia ke mancanegara. Migrasi itu masih berlanjut.
Namun, dulu tidak ada gegap gempita semboyan semacam #KaburAjaDulu. Bahkan, tidak juga di saat parahnya krisis ekonomi 1997. Apa yang sekarang berbeda? Apakah Indonesia lebih parah? Saya ragu.
Mungkinkah status kelas menengah terpelajar sedang merosot mendekati status TKI/TKW? Apakah #KaburAjaDulu hanya gairah baru melanjutkan migrasi lama kaum TKI? Bedanya kini pelakunya kelas menengah yang suaranya nyaring di ruang publik? Mereka sama-sama mengejar karier lebih baik di negeri asing, karena kurang dihargai di tanah air?
Mungkin #KaburAjaDulu menandakan bangkitnya cita-cita dan selera kelas menengah terdidik. Mereka sadar kesejahteraan rekan-rekan mereka seprofesi di negara-negara lain lebih baik.
Dalam ilmu sosial ada jargon proletarisasi, yakni merosotnya kedudukan kelas menengah menjadi mirip kaum proletariat (kelas jelata korban eksploitasi). Mereka bisa saja berdasi, bergelar pendidikan tinggi, bergaji menengah atau besar, tetapi nasibnya di tempat kerja tidak berbeda jauh dari pekerja kasaran. Di tempat kerja mereka tak punya otonomi. Mereka hanya didikte dan diperintah. Suara mereka tidak dihargai atasan. Jadwal kerjanya tidak fleksibel. Ruang gerak dipersempit. Hak-hak mereka sebagai pekerja profesional tidak dilindungi serikat profesi dan sering dilecehkan.
Bisa juga sebaliknya. Mungkin #KaburAjaDulu menandakan bangkitnya cita-cita dan selera kelas menengah terdidik. Mereka sadar kesejahteraan rekan-rekan mereka seprofesi di negara-negara lain lebih baik. Mereka merasa berhak setara. Mereka yakin mampu berprestasi kerja dengan standar internasional. Jika demikian, #KaburAjaDulu menandakan suksesnya pendidikan yang mereka tempuh. Ini kabar baik, yakni bangkitnya kesadaran potensi dan kepercayaan pada diri sendiri di lingkup global.
Sayang, meningkatnya pendidikan warga ini tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas pelayanan negara. Bakat, dedikasi, dan kebutuhan mereka tidak tertampung. Aspirasi global warga bangsa ini tidak disertai kekuatan paspor Indonesia di tingkat global. Ada yang ingin berganti kewarganegaraan.
Berbagai faktor itu bisa berkelindan dalam kombinasi yang bervariasi. Sebagian profesional muda sudah mendapatkan kerja di negara dan di bidang yang menjadi pilihannya. Tetapi, jumlah mereka sangat kecil. Bagi sebagian besar kelas menengah, #KaburAjaDulu masih sebuah angan-angan. Bukan gelombang eksodus besar-besaran.
Jika tidak kabur dari Tanah Air, mereka bisa pasrah pada kondisi, atau berjuang memperbaiki kondisi itu.
Secara global, presentase kelas menengah Indonesia mutakhir yang hidup di negara lain relatif kecil. Jumlahnya sulit dipastikan, tetapi diperkirakan hanya 3,2 persen dari total populasi, lebih rendah dari rata-rata di tingkat global 3,6 persen. Lagi pula, sebagian besar dari migran Indonesia itu bukan tenaga profesional, tetapi tenaga berketerampilan rendah, termasuk pekerja domestik.
Australia termasuk negara di dunia dengan persentase besar penduduk yang lahir di luar negeri (30,7 persen). Secara geografis, tetangga terdekatnya adalah Indonesia, negara berpenduduk terbesar keempat di dunia. Australia menempati urutan teratas negara yang dituju kelas menengah Indonesia untuk melanjutkan studi. Tapi orang Indonesia yang menetap di Australia hanya sekitar 0,4 persen dari penduduk di sana. Jauh di bawah warga jiran dari Filipina (1,4 persen), Vietnam (1,1 persen), atau Malaysia 0,7 persen.
Berpindah kerja ke negara lain tidak mudah dalam hal finansial, birokratis ataupun kultural. Apalagi sejak berjayanya populisme politik kanan yang rasis dan anti-migran di banyak negara besar. Jika mayoritas kelas menengah tidak kabur, mungkin karena kondisi mereka tidak sejelek yang dialami kaum jelata. Jika tidak kabur dari Tanah Air, mereka bisa pasrah pada kondisi, atau berjuang memperbaiki kondisi itu. Jika dipaksa keadaan, manusia sering memperlihatkan kemampuan luar biasa untuk mengatasi masalahnya.
Penulis:
Ariel HeryantoEditor:
Moh. Hilmi FaiqPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .