#KaburAjaDulu, Saran dari Ilmuwan dan Diaspora untuk Anak Muda

Bagaimana suara ilmuwan dan diaspora Indonesia di luar negeri soal #KaburAjaDulu dan ancaman ”brain drain”?

18 Feb 2025 15:12 WIB · Humaniora

Oleh Ahmad Arif

Dorongan untuk hengkang dari Indonesia semakin ramai dibicarakan di media sosial, terutama X, dengan penanda #KaburAjaDulu. Tagar itu semakin menguat ketika beberapa pejabat mempertanyakan nasionalisme para diaspora dan kekhawatiran terjadinya brain drain dari Indonesia.

”Kalau saya masih muda dan menyadari bahwa kepakaran yang dimiliki sulit dapat ruang di negeri sendiri, ya, kabur aja dulu,” kata Herawati Supolo Sudoyo, Ketua Komisi Kedokteran Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), menanggapi ramainya seruan tagar #KaburAjaDulu, di Jakarta, Senin (18/2/2025).

Herawati, guru besar bidang genetika populasi, turut merintis pendirian Lembaga Biologi Molekuler Eijkman. Dia adalah salah satu murid Sangkot Marzuki di Monash University, Australia, yang direkrut saat mendirikan Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman di bawah Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi saat itu.

Quote

Kalau saya masih muda dan menyadari bahwa kepakaran yang dimiliki sulit dapat ruang di negeri sendiri, ya, kabur aja dulu.

Selama puluhan tahun bekerja di Eijkman, Herawati telah keliling hampir ke seluruh pelosok Tanah Air untuk mengumpulkan data genetik populasi berbagai etnis di Indonesia. Selama itu pula, dia banyak bekerja dengan peneliti dari sejumlah negara, termasuk mengirim anak-anak muda Indonesia untuk belajar ke luar negeri.

Hera berharap, saat mengirim anak-anak muda ke luar negeri, mereka bisa pulang kembali untuk memajukan riset dan lembaga di Indonesia. Namun, dia juga tidak mewajibkan mereka cepat pulang, terutama setelah LBM Eijkman ditutup dan kemudian dilebur ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada 2022.

Prof Herawati Supolo Sudoyo (tengah) dan tim Lembaga Eijkman tengah menuju Kampung Somlak, Distrik Joutu, Kabupaten Asmat, Papua untuk pengambilan DNA, Kamis (15/8). Kajian ini untuk melengkapi pemetaan asal-usul dan migrasi manusia Indonesia, selain mempelajari kerentanan dan daya tahan terhadap berbagai penyakit terkait genetik.

”Jadi, sebelum muncul tagar ini, saya sudah menyuruh anak-anak muda untuk kabur dulu, untuk sekolah dan membangun jaringan,” kata Herawati. Saat ini, Herawati tak terlalu banyak berharap para peneliti muda yang sekarang masih berada di luar negeri bisa segera kembali. ”Nasihat saya, mungkin, lebih baik mereka jangan pulang dulu, karena kita tidak punya lagi tempat dan cukup uang untuk menghargai kemampuan mereka,” lanjutnya.

Saran itu juga berlaku terhadap cucunya yang beranjak dewasa dan mulai bermimpi untuk sekolah dan bekerja di luar negeri. ”Itu sepertinya jadi suara banyak anak muda saat ini. Kalau bisa keluar, pasti akan keluar,” ujarnya.

Menurut Herawati, dirinya dari dulu tidak pernah mempersoalkan urusan nasionalisme sempit, karena lingkungan dan keluarganya banyak yang tinggal di luar negeri, bahkan sebagian pindah warga negara, dengan berbagai alasan. ”Termasuk untuk alasan pendidikan anak-anak dan keluarga mereka. Tetapi, saya merasa mereka tetap Indonesia, tuh, dengan berbagai kontribusinya,” ucapnya.

Herawati juga tidak sepakat dengan pandangan bahwa orang Indonesia yang berkarier di luar negeri bakal kesulitan mencapai puncak karier, khususnya di bidang akademik. ”Banyak contoh talenta Indonesia mendapat posisi sangat penting di bidang riset dan akademik di luar negeri. Jadi, kalau ada peluang, kejarlah,” katanya.

Membangun profesionalitas

Gludhug A Purnomo, mantan peneliti LBM Eijkman yang sekarang menetap di Australia dan bekerja sebagai peneliti di Clinical Bioinformation South Australia Pathology, misalnya. Ia meninggalkan Eijkman untuk melanjutkan studi doktoralnya di Adelaide University pada 2018. Namun, begitu selesai kuliah, lembaga riset tempatnya bekerja telah ditutup sehingga ia memilih untuk berkarier di negeri tetangga.

Jadi, bagi Gludhug, keputusannya untuk tinggal di luar negeri adalah soal kesempatan dan keterbatasan pilihan karier di dalam negeri. ”Untuk bidang penelitian fundamental, memang Indonesia masih tertinggal, ya. Terutama setelah dibubarkannya Eijkman, kecewa pasti ada, dan apalagi melihat perkembangan dunia riset di Indonesia akhir-akhir ini, rasanya memang ekosistem riset fundamental kurang memadai dan kurangnya penghargaan terhadap periset,” tuturnya.

Namun, menurut dia, kondisi riset di luar negeri itu juga penuh tantangan. ”Riset-riset fundamental di sini juga kurang dilirik. Tapi, setidaknya ada fasilitas, jaringan dan apresiasi yang lebih baik,” katanya.

Sekalipun bekerja di luar negeri, Gludhug tidak memutus hubungan dengan jaringan di Indonesia. Dia masih terafiliasi dengan salah satu lembaga riset swasta di Indonesia. ”Keinginan balik ke Indonesia tentu masih ada. Secara pribadi masih mengikuti berita di Indonesia supaya tahu ekosistemnya, baik dari media maupun cerita peneliti yang masih berkarya di Indonesia, sebagai pertimbangan untuk membuat keputusan. Tapi, kapan akan balik, ya, belum tahu,” ujarnya.

Gludhug A Purnomo, peneliti Mochtar Riady Institute for Nanotechnology (MRIN) yang juga kandidat doktor bidang paleogenomik dari Adelaide University (kanan), mempresentasikan tentang penghunian manusia di Indonesia, dalam diskusi di Pusat Riset Arkeologi, Prasejarah, dan Sejarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Selasa (2/8/2022).

Menurut Gludhug, peluang kerja sebagai peneliti di luar negeri juga penuh tantangan. ”Profesionalitas dan penghargaan kerja di sini bagus. Begitu di luar jam kerja, ya, santai. Ada work-life balance. Tapi, jenjang karier untuk saat ini lumayan susah karena statusnya sebagai temporary resident. Jadi, jatuhnya sebagai pegawai kontrak 1-2 tahun atau sampai masa berlaku visa,” katanya.

Peluang karier, lanjutnya, bakal lebih terbuka jika pindah kewarganegaraan. Namun, untuk sekarang dia belum berencana pindah kewarganegaraan. ”Untuk saat ini fokus dulu berusaha belajar dan meningkatkan kemampuan profesional dan pengalaman di luar negeri, termasuk membangun jaringan. Syukur-syukur bisa kasih kesempatan beasiswa buat orang Indonesia,” tuturnya.

Jaringan diaspora

Berbeda dengan Gludhug, Septian Hartanto, fisikawan MRI senior, akhirnya memutuskan pindah menjadi warga negara Singapura. Septian merupakan anggota tim Indonesia dan peraih medali perunggu dalam Olimpiade Matematika Internasional tahun 2003, sebelum kemudian mendapatkan beasiswa kuliah di Singapura pada tahun yang sama. ”Setelah lulus, ada kewajiban kerja minimal tiga tahun di Singapura untuk memenuhi kewajiban dari pemberi beasiswa. Nah, pertimbangannya saat itu, apakah balik ke Indonesia atau tidak,” ujarnya.

Septian kemudian melihat bahwa pekerjaan saat ini belum tersedia di Indonesia. ”Setiap saya pulang ke Indonesia, saya justru lebih bingung mau kerja apa dengan keahlian yang saya miliki saat ini. Jadi, keputusan untuk pindah ke Singapura lebih ke ketiadaan pekerjaan yang sesuai,” katanya.

Setelah mempertimbangkan sejak tahun 2020, Septian akhirnya memutuskan pindah warga negara. Berdasarkan pengalaman dan pergulatannya, ia sangat memahami munculnya tagar #KaburAjaDulu yang saat ini ramai di kalangan anak muda Indonesia. ”Ini akar masalahnya di antaranya keterbatasan lapangan pekerjaan yang berkualitas di Indonesia, yang mengakibatkan rasa frustrasi dan keinginan mencari penghidupan lebih baik di luar negeri,” katanya.

Sekalipun demikian, menurut Septian, migrasi ke tempat asing tidak pernah mudah, di antaranya jauh dari sistem pendukung yang ada. Selain itu, mesti mulai segala sesuatu dari nol, gegar budaya, iklim, makanan, dan banyak lagi. ”Tapi, bagi sebagian orang, tidak bermigrasi itu lebih sulit lagi untuk apa pun alasannya. Karena itu, jangan kecil hati, kalau sudah niat mesti kerja keras,” ujarnya.

Berdasarkan pengalaman Septian, komunitas migran Indonesia di Singapura sangat beragam. ”Lingkungan ibadah saya, yang terdiri dari mahasiswa, pekerja rumah tangga, pelaut, dan pekerja profesional lain, sangat mendukung para perantau dari Indonesia dan dengan senang hati akan menolong dalam beradaptasi,” ungkapnya.

Nonton Bareng -- Para WNI dan diaspora di Singapura datang untuk menonton bareng episode pertama serial film horor Jurnal Risa, yang akan tayang sepanjang tahun 2023 di platform streaming film berbayar Disney Plus Hotstar. (Kompas/ Wisnu Dewabarata)

Sekalipun telah pindah kewarganegaraan, Septian mengaku masih merasa terikat dengan Indonesia dan melakukan kerja sukarela untuk membantu. Dia, misalnya, terlibat aktif sebagai sukarelawan selama masa Covid-19 dengan tergabung dalam gerakan Kawal Covid dan Kawal Pemilu bersama diaspora lain.

”Saya meyakini bahwa komunitas diaspora yang kuat pada akhirnya akan menguntungkan bagi Indonesia itu sendiri, sebagaimana juga kita lihat dari contoh komunitas diaspora negara lain,” katanya.

Meski demikian, sekalipun peluang kerja, termasuk penghasilan, hingga jaminaan bagi pendidikan anak dan kesehatan keluarga di luar negeri lebih menjanjikan, baik Gludhug maupun Septian mengingatkan untuk mempersiapkan diri dengan baik sebelum memutuskan ke luar negeri. ”Yang pasti, jangan pernah lewat jalur ilegal dan sesuaikan dengan tipe visa. Tetap hargai budaya setempat. Sebelum pergi, hitung dulu minimum standar hidup, hak pekerja termasuk cuti, gaji minimal, hingga asuransi untuk kecelakaan kerja,” ujar Gludhug.

Dia juga menyarankan untuk tetap berusaha mengembangkan diri selama di luar negeri. Jangan terjebak dalam zona nyaman saja karena telah mendapat uang banyak. Contohnya di South Australia, pekerjaan di pertanian cukup menjanjikan secara gaji, tetapi pekerjaan fisik menguras tenaga apakah untuk jangka panjang atau batu loncatan saja dengan risiko cedera yang panjang. ”Jangan lupa, pertimbangkan juga pilihan untuk jadi profesional (white collar) bagi yang punya pengalaman atau edukasi lebih,” imbuhnya.

Lebih penting lagi, keputusan untuk pergi ke luar negeri jangan sampai emosional, apalagi tergiur apa yang disampaikan di media sosial. ”Situasi politik global berubah setiap saat dan aturan imigrasi setiap negara juga bisa berubah sewaktu-waktu, tergantung pemenang pemilu. Yang pasti, jangan harap situasinya sama seperti di Indonesia. Kita harus siap beradaptasi, di mana pun juga,” tutur Gludhug.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ahmad Arif
 | 

Editor:

Adhitya Ramadhan