Anak muda Indonesia berpendidikan tinggi kini kian antusias untuk berkarier di luar negeri. Keterbukaan informasi menjadi faktor pendukung.
04 Des 2024 05:01 WIB · Pendidikan & Kebudayaan
JAKARTA, KOMPAS — Hidup di era serba digital membuat kaum muda lebih mudah mengakses segala informasi tentang cara studi dan karier di luar negeri. Seluk-beluknya bisa diketahui dalam sekejap. Mereka menyiapkannya dengan cermat hingga kesempatan datang untuk berangkat.
Jika kita mengetik #KaburAjaDulu di kolom pencarian media sosial X, hasil yang muncul ialah berbagai hal tentang kesempatan untuk studi atau bekerja di luar negeri dari orang-orang Indonesia yang punya pengalaman atau mengetahuinya.
Di sana, mereka berbagi info seputar lowongan kerja, beasiswa universitas, les bahasa, hingga pengalaman cara mereka bisa berkarier di luar negeri. Antusiasme anak-anak muda terlihat dari interaksi pada setiap postingan.
Inilah sepotong realitas tentang antusiasme yang menghangat di kalangan anak-anak muda Indonesia berpendidikan tinggi. Mereka memutuskan untuk meng-global dan berkiprah di luar negeri menjadi talenta global.
Corak antusiasme yang dimaksud di sini berbeda dengan fenomena buruh migran Indonesia yang bekerja di luar negeri. Informasi tentang studi dan berkarier di luar negeri bisa diakses lewat laman resmi atau grup komunitas. Syarat-syaratnya terpampang jelas. Siapa pun berpeluang mencobanya.
Namun, banyak hal yang harus disiapkan sebelum mencapai ke sana, seperti kursus bahasa, membuat esai, mengikuti kelas persiapan wawancara, daftar ke agensi universitas, dan bimbingan intensif dengan para mentor. Meski berjibun syaratnya, toh tetap dilalui.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/29/e8048f5ef5a88438af5dbe4c7680a27a-SCHOTERS_MAS_IKONO.jpeg)
Antusiasme anak muda ingin pergi merantau ke luar negeri terlihat juga dalam acara ”Study and Work Abroad Festival 2024” yang diadakan Schoters di 30 kota se-Indonesia. Schoters adalah platform di bawah Ruangguru yang membantu menyediakan informasi beasiswa dan bimbingan persiapan kuliah atau bekerja ke luar negeri.
CEO Schoters Radyum Ikono mengatakan, semakin ke sini tren anak muda Indonesia studi dan berkarier di luar negeri terpantau sangat tinggi. Tren ini mulai terjadi sejak 2018, dan semakin meningkat pada 2024. ”Kerasa banget di website dan medsos peminatnya doubled. Pas acara Study and Work Abroad Festival Juli-Agustus 2024, peminatnya lebih dari 100.000 orang. Kaget banget dapat angka segitu,” ucap Ikono.
Kata Ikono, banyak anak muda yang datang ke Schoters dan menyatakan tertarik ikut bimbingan. Lalu, mayoritas bertanya apakah ada beasiswa-beasiswa yang tidak mengharuskan penerimanya kembali ke Indonesia setelah lulus sehingga mereka bisa berkarier di luar negeri.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/12/03/ec97313d-3869-4db5-9635-c2d174c311d1_png.png)
Ia pun menjawabnya, ada dan banyak. Negara-negara tujuan yang diminati untuk studi dan bekerja yaitu Inggris, Kanada, Australia, Belanda, China, Singapura, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Thailand.
Di awal, calon peserta Schoters akan diajak diskusi tentang tujuan, minat jurusan, dan kebutuhan sehingga bimbingan yang dilakukan jadi fokus. Ikono dan timnya akan merekomendasikan pilihan-pilihan sekolah dan beasiswa sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, calon peserta yang merasa sudah lelah belajar IELTS dan mendapatkan skor mentok biasanya meminta pilihan universitas yang peluang diterimanya lebih besar.
Hasrat merantau dirasakan alumni Schoters, Joko, bukan nama sebenarnya. Ini bermula dari keinginannya memiliki pengalaman tinggal dan sekolah di luar negeri bersama istri. Saat itu, mereka bingung untuk tinggal di mana setelah menikah. Lalu, terpikir untuk merantau ke luar negeri. Mereka mengikuti bimbingan persiapan yang diadakan Schoters.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/03/73ed6be3f71d4c617765759e0491f05f-Mas_Ikono_Schoters.jpeg)
Preferensi awalnya yaitu Australia, tetapi kesempatan beasiswa Jepang lebih awal buka. Sang istri pun mencoba untuk daftar beasiswa ke Jepang dan berhasil lolos. Langkah awal mereka terwujud. Setelah istrinya lulus, giliran Joko yang mendaftar beasiswa di negara yang sama dan berhasil lolos.
Jauh sebelumnya, Joko merupakan karyawan swasta yang kerja berjibaku di Jakarta. Dia harus bekerja untuk mengejar target-target kantor yang bisa menghabiskan tujuh hari kerja. Dinamika kemacetan dan keruwetan Jakarta sudah menjadi kawannya.
”Gue merenung sampai kapan harus kerja capek kayak gini, tapi enggak stabil-stabil (ekonomi), kapan sejahteranya,” kata Joko.
Menurut Joko, untuk bisa hidup enak (di Indonesia), ibaratnya seseorang harus menjadi orang kaya banget. Dirinya tidak terbayang harus kerja seperti apa dan bagaimana caranya agar bisa hidup lebih baik. Kondisi ini mendorongnya untuk melanjutkan studi S-2 dan S-3 di luar negeri.
”Kami dari keluarga yang miskin. Jadi, kami berusaha keras banget di hidup ini, minimal tidak menyusahkan orangtua. Ini memotivasi adik-adik kami agar ’ayok ke luar negeri’,” ucapnya.
Saat ini, dia menikmati keputusannya untuk studi di Jepang. Di sana banyak hal positif yang dirasakan, antara lain kenikmatan akan udara bersih, kemudahan akses transportasi, akses pendidikan, dan fasilitas kesehatan yang disediakan oleh Pemerintah Jepang.
Meski di Jepang, Joko tetap ’kembali’ ke Indonesia. Menurut dia, keberadaan diaspora Indonesia di luar negeri justru menjadi nilai lebih karena bisa merekomendasikan sesama orang Indonesia untuk bisa bekerja atau berkarya di sana.
Ia mencontohkan saat dirinya pernah kerja paruh waktu di restoran di Jepang. Dia orang Indonesia pertama yang kerja di restoran itu. Ia juga berhasil merekomendasikan empat orang Indonesia lain ke manajernya agar diterima bekerja di sana.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/03/016a75dece997fd0877c90a6afd7a4b9-20241203YGA05.jpg)
Ada banyak cara untuk tetap bisa berkontribusi ke kampung halaman. ”Di sini, gue lihat banyak dosen asal Indonesia yang berkarier di Jepang. Ada juga yang sudah menjadi ’seseorang’. Ini bentuk nasionalisme mereka. Mereka tidak pulang, tapi tetap harum namanya,” ucap Joko.
Persiapan sekolah di luar negeri biasanya harus dilakukan jauh hari. Seperti Ani, mahasiswa Indonesia yang kini di Singapura, memulai langkah besarnya untuk studi ke luar negeri sejak awal semester kelas 11.
Saat itu, dia mulai menggali informasi jurusan dan beasiswa di Singapura melalui teman-teman kakaknya yang sudah lebih dulu hidup di negeri singa itu. Setelah memantapkan diri dengan jurusan yang dituju, Ani mulai menghubungi agen perwakilan resmi dari universitas Singapura di Indonesia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/7a001008-9f98-4f34-bd9d-2b7d91a08fd0_jpg.jpg)
”Aku yang kontak mereka, bukan Mama. Akhir kelas 11, aku mulai apply lebih awal dan diumumkan diterima di salah satu university. Di situ sudah lumayan aman sih, aku sudah ada university. Jadi bisa fokus ujian kelas 12,” ucapnya.
Ani memutuskan studi di Singapura karena ingin belajar di luar zona nyamannya. Dia percaya banyak pelajaran, pengalaman, dan relasi yang akan didapat dari keputusannya hidup jauh dari orangtua.
Lain lagi dengan cerita Nitho Alif I (29) yang sekarang berkarier di perusahaan teknologi Google yang berkantor di Dublin, Irlandia, selama dua tahun terakhir. Nitho ketika memutuskan memilih Dublin, pertimbangannya selain kompensasi gaji, juga kualitas hidup yang bisa ia jalani di kota atau negara tempatnya berkarier tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2019/10/07/76bed111-4569-4e32-83ab-c5c564bc188e_jpg.jpg)
”Dibanding di Jakarta, pertimbangannya sebenarnya termasuk ke hal-hal kecil. Misalnya masalah commute, di sini tinggal 5 menit ke kantor. Setelah saya tinggal di sini, pulang pergi kantor tanpa harus mikir lewat mana demi menghindari macet, itu jadi enggak bikin capek," kata Nitho yang sebelumnya juga sempat bekerja di Jerman.
Selain itu, menurut Nitho, arena bermain (playing field) yang setara bagi setiap orang tanpa harus mengandalkan ordal alias orang dalam membuatnya merasa lebih aman dan nyaman dalam berkarier di luar Indonesia.
Ekosistem di negara tujuan juga menjadi pertimbangan Sugianto (47), orangtua yang pada akhirnya mendukung tekad bulat putrinya untuk sekolah di Singapura sejak bangku SMP. Faktor keamanan suatu negara menjadi alasan utama Sugianto dan sang istri mempercayakan anaknya untuk studi di Singapura. Bahkan, putrinya berangkat sendiri bersama dengan rombongan anak lain penerima beasiswa yang sama.
”Kita antar sampai bandara saja,” kata Sugianto.
Ambisi anak-anak muda masa kini untuk belajar dan berkarier di luar negeri setidaknya menjadikan mereka duta bangsa yang membawa harum nama Indonesia. Jadi, siap menyusul menjadi talenta global?
Penulis:
Melati Mewangi, Insan Alfajri, Stefanus Ato, Sarie FebrianeEditor:
Sarie Febriane, Andy Riza Hidayat