Cristian Chivu membuktikan perjudian memperkuat Inter Milan dengan pemain muda tidak keliru. Keberanian itu berbuah tiket babak 16 besar Piala Dunia Antarklub 2025.
26 Jun 2025 12:14 WIB · Olahraga
SEATTLE, KAMIS — Lolosnya Inter Milan ke babak 16 besar Piala Dunia Antarklub FIFA 2025 menjadi kado manis transformasi tim itu di bawah arahan pelatih baru, Cristian Chivu. Dia membuktikan pilihannya memberi kepercayaan lebih kepada pemain muda tidak keliru.
Pemain berusia 19 tahun, Francesco Esposito, ini menginspirasi kemenangan 2-0 Inter atas River Plate dalam laga hidup mati penyisihan grup di Stadion Lumen Field, Seattle, Amerika Serikat, Kamis (26/6/2025) pagi WIB.
Kedatangan Chivu untuk menggantikan Simone Inzaghi turut membawa angin segar transformasi tim yang sebelumya mengandalkan banyak pemain veteran. Tidak seperti Inzaghi yang identik dengan pemain berusia 30 tahun ke atas, Chivu melakukan hal sebaliknya. Ia mentransformasi skuad tim itu dengan merekrut sejumlah pemain muda, seperti Esposito bersaudara (Francesco dan Sebastiano), Petar Sucic, Tomas Palacios, dan Valentin Carboni.
Piala Dunia Antarklub menjadi sarana eksperimen Chivu terhadap mereka. Carboni dan Francesco Esposito, yang mendapat kesempatan tampil, pada akhirnya membayar kepercayaan tersebut. Jika Carboni menjadi pahlawan kemenangan Inter saat melawan Urawa Reds, Esposito muncul sebagai pahlawan di saat Inter kesulitan menaklukkan pertahanan disiplin dari River Plate.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/37b8b098-c368-4792-9219-b5675acafbb8_jpg.jpg)
Laga kontra River bisa dikatakan sebagai penentuan hidup atau mati bagi Inter. Mereka wajib meraih tiga poin untuk memastikan tempat di fase gugur. Hal ini tidak lepas dari keberhasilan Monterrey (5 poin) mengalahkan Urawa di laga lainnya. Maka dari itu, Inter dan River yang sama-sama mengoleksi 4 poin wajib menang untuk mendampingi Monterrey di babak 16 besar sebagai wakil Grup E.
Alih-alih memaksa memainkan penyerang Marcus Thuram yang kondisinya masih diragukan pada laga sepenting itu, Chivu tanpa ragu menunjuk Esposito sebagai pemain mula. Keputusan itu tergolong sangat berani mengingat Inter kesulitan mencetak gol saat melawan Urawa tanpa kehadiran duet penyerang Marcus Thuram dan Lautaro Martinez.
Akan tetapi, Chivu membuktikan keputusannya itu tidak keliru. Esposito justru menjadi pahlawan kemenangan Inter saat mencetak gol pembuka pada menit ke-72. Sebelum menjebol gawang River, para pemain Inter seakan kehabisan akal untuk mencetak gol. Bahkan, Lautaro yang sarat pengalaman pun gagal mengonversi lima peluang.
”Saya sangat senang untuk anak ini karena dia mewakili seluruh perjalanan akademi muda. Saya bertemu dengannya saat dia masih di U-14, lalu kami mulai bekerja sama lagi di U-19 dan sekarang dia ada di tim utama,” kata Chivu saat disinggung mengenai performa Esposito.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/26/4d9aa0c9-326a-4877-8a7b-dec5c72c47ee_jpg.jpg)
Gol Esposito memperlihatkan kematangannya dalam mengambil keputusan serta mengeksekusi peluang. Inter saat itu sedang dalam posisi unggul jumlah pemain lantaran Lucas Quarta mendapat kartu merah seusai melanggar Henrikh Mkhitaryan. Tanpa eksekusi matang dari Esposito, keunggulan jumlah pemain Inter barangkali tidak bisa teroptimalkan.
”Ini pertandingan yang sangat berat. Kedua tim sama-sama kuat, tetapi kami bermain lebih baik. Saya senang bisa menjadi bagian dari pertandingan semacam ini. Sangat sulit sekaligus menantang,” kata Esposito.
Tertinggal di tengah misi wajib menang langsung membebani psikis para pemain River. Mencetak gol penyeimbang ke gawang Inter yang menjadi finalis Liga Champions Eropa bukanlah hal mudah, apalagi River harus bermain dengan 10 orang.
Dengan kondisi seperti itu, rasa frustrasi pun lebih cepat menyeruak. Pada pengujung laga, bek kiri River, Marcos Acuna, mencoba memancing emosi Denzel Dumfries agar terkena kartu merah. Namun, Dumfries tidak mau meladeni pertikaian itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/06/13/a133ad34-69a2-47d0-a1ef-2ceee2ba2b76_png.png)
Kekacauan yang coba dimulai Acuna justru menjadi senjata makan tuan. Para pemain River kehilangan fokus pada masa tambahan waktu babak kedua sehingga Alessandro Bastoni menggandakan keunggulan Inter. Bastoni bisa leluasa bergerak tanpa ada tekanan berarti sebelum melepaskan tembakan mendatar. Hingga laga usai, skor 2-0 untuk kemenangan Inter tidak terusik.
Kekalahan ini membuat River tersingkir lantaran hanya mengoleksi empat poin di peringkat ketiga. Inter dan Monterrey akhirnya berhak melaju ke babak 16 besar mewakili Grup E. Pada laga berikutnya, Inter akan menghadapi raksasa Brasil, Fluminense, sementara Monterrey ditantang Borussia Dortmund. (AP)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto