Tradisi halalbihalal di Istana Merdeka, Jakarta, membentang sejak Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno. Seperti apa suasananya saat itu?
30 Mar 2025 11:30 WIB · Politik & Hukum
Menjelang hari raya Lebaran, besok, Kompas memotret kembali suasana perayaan Lebaran dari presiden ke presiden sejak Presiden pertama RI Soekarno dengan berbasis pada arsip Kompas dan sejumlah literatur. Sejumlah kisah menarik diangkat hingga kisah-kisah yang sarat nilai untuk bekal bagi generasi penerus. Tulisan Lebaran di era Bung Karno ini menjadi tulisan pertama dari tujuh tulisan yang akan diturunkan hari ini.
Pernahkah Anda membayangkan seorang presiden yang memimpin negeri sebesar Indonesia meminta maaf kepada pengawalnya? Momen seperti ini nyata pernah terjadi saat Idul Fitri di era Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno. Bagaimana kisahnya?
H Mangil Martowidjojo dalam bukunya yang berjudul Kesaksian tentang Bung Karno 1945-1967 mencatat bahwa setiap Lebaran, persisnya seusai shalat Id di halaman Istana Jakarta, Bung Karno selalu menyelenggarakan halalbihalal. Acara yang diikuti semua penghuni dan pegawai Istana beserta keluarganya—Mangil merinci dari tukang kebun hingga Direktur Kabinet Presiden—ini digelar di Istana Merdeka.
”Kalau kebetulan saya sedang berjabat tangan dengan Bung Karno, Bung Karno selalu berkata, ’Mangil, Bapak minta maaf lahir batin. Bapak punya kesalahan banyak kepada kau’, dengan memegang tangan saya erat sekali,” tulis Mangil, yang adalah Komandan Detasemen Kawal Pribadi Presiden selama lebih dari dua dekade di era pemerintahan Bung Karno, dalam bukunya tersebut.
Tak ada harta, lukisan, ataupun istana di dunia ini yang dapat memberiku kegembiraan seperti waktu itu. Aku tak bisa melupakan peristiwa itu sepanjang hidupku.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/24/7280f3d3-a1ae-46be-8c2c-d76639a45e8a_jpg.jpg)
Jauh sebelum menduduki tampuk kursi kepresidenan di negeri ini, Bung Karno saat masih berusia belia pun memiliki kenangan terkait Lebaran. Pengalaman seputar Lebaran di masa kecil yang terus membekas hingga saat Bung Karno berada pada tahun-tahun terakhirnya sebagai presiden itu berkaitan dengan petasan.
Nuansa kesedihan tergambar ketika Bung Karno mengenang masa kecilnya di Mojokerto, Jawa Timur. Saat itu, kala masih bocah, Bung Karno tidak bisa membeli dan bermain petasan sebab kondisi keuangan keluarganya yang kala itu tidak mendukung.
”Pada hari Lebaran lebih setengah abad yang lalu aku berbaring seorang diri dalam kamar tidurku yang kecil, yang hanya cukup untuk satu tempat tidur, dengan pilu mengintip arah ke langit melalui tiga buah lubang udara yang kecil-kecil pada dinding bambu,” katanya seperti tertulis di buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, otobiografi yang disampaikannya kepada Cindy Adams (1966).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2021/04/24/20210424-TCJ-Pergerakan-Soekarno-mumed_1619270241.png)
Dikisahkan di buku tersebut, kepiluan Bung Karno ketika tidak bisa memiliki petasan sementara teman-temannya berteriak kegirangan saat menyambut suara petasan yang dinyalakan.
”Dapatkah orang mengetahui perasaanmu sebagai bocah kecil ketika semua kawan-kawanmu entah dengan cara bagaimana dapat membeli petasan seharga satu sen itu, dan kau tidak? Kau akan merasa sangat sedih,” ujar Bung Karno.
Namun, di otobiografinya tersebut, Bung Karno tak melulu menceritakan pengalaman sedihnya. Ada ”akhir bahagia” di seputar pembahasan soal mainan masa kecil ini ketika di suatu malam datang seorang tamu menemui ayah Bung Karno. Tamu tersebut membawa sebuah bungkusan yang ternyata berisi petasan.
”Tak ada harta, lukisan, ataupun istana di dunia ini yang dapat memberiku kegembiraan seperti waktu itu. Aku tak bisa melupakan peristiwa itu sepanjang hidupku,” kata Bung Karno yang terverifikasi dengan tercantumnya babak peristiwa masa kecil ini di buku kisah hidupnya tersebut.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/08/16/97979953-d996-4928-b0f2-d5610ff3e11b_jpg.jpg)
Halalbihalal adalah tradisi khas Indonesia yang menjadi ajang silaturahmi. Pada momen tersebut, semua yang hadir dapat saling maaf memaafkan dalam suasana Lebaran.
Kembali ke kesaksian Mangil, dapat diketahui bahwa tradisi halalbihalal sudah berlangsung di Istana sejak era Presiden Pertama RI. Ihwal shalat Id yang digelar di Istana Jakarta seperti ditulis Mangil di bukunya pun terkonfirmasi melalui arsip Harian Kompas yang terbit Kamis, 20 Januari 1966, atau 59 tahun silam.
Tertulis di halaman pertama Kompas kala itu bahwa (dengan penyesuaian ejaan): Selesai menghadap Presiden Soekarno hari Rabu, Menko Agama Prof. KH Sjaifuddin Zuchri menerangkan pada pers bahwa sembahyang Id di Masjid Istana Baitulrachim ditetapkan pada Minggu, 23 Januari 1966, pukul 07.30. Pada upacara sembahyang itu Menko Sjaifuddin Zuchri akan bertindak sebagai imam sedang sebagai khatib ialah Menteri Ketua DPRGR Arudji Kartawinata.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/30/64eef08db364c6bb5545c79b461297f2-WhatsApp_Image_2025_03_30_at_10.15.36.jpeg)
Berkenaan dengan momen sekitar perayaan Idul Fitri, pada Rabu, 26 Januari 1966, Kompas memasang foto di halaman satu. Display terdiri atas dua foto. Foto sebelah kiri diambil saat Presiden Soekarno sedang berhalalbihalal dengan para duta besar dan pejabat yang berada di Jakarta.
Adapun foto sebelah kanan diabadikan waktu Presiden Soekarno memberi amanat pada sembahyang Id di Masjid Baiturachim yang juga dihadiri oleh menteri-menteri Kabinet Dwikora serta perwakilan-perwakilan negara sahabat yang beragama Islam. Kedua peristiwa ini berlangsung dalam rangka merayakan hari raya Idul Fitri di pengujung era pemerintahan Presiden pertama RI Ir Sukarno.
Selembar foto dapat menggambarkan sekian banyak kesan dan kenangan. Tak terkecuali foto-foto yang merekam suasana seputar Lebaran di masa silam.
Penulis:
Cyprianus Anto Saptowalyono, Nina Susilo, Nino Citra AnugrahantoEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari