Kala Jurnalis Gaza Kembali Berduka

Serangan Israel ke sebuah rumah sakit menewaskan jurnalis yang sedang dirawat.

14 Mei 2025 08:03 WIB · Foto

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Belasan jurnalis di Gaza mengenakan rompi biru bertuliskan ”Press” di dada dan punggung mereka. Sebagian dari mereka juga mengenakan helm bertuliskan yang sama. Hari itu mereka bersama-sama mengantarkan kepergian rekan mereka, Hassan Aslih, yang tewas dalam serangan Israel, di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, kota utama Gaza selatan.

Pada Selasa (13/5/2025), Hassan Aslih tewas saat mendapatkan perawatan akibat luka dalam serangan Israel bulan sebelumnya. 

Rekaman AFP dari Rumah Sakit Nasser setelah serangan Selasa itu menunjukkan asap mengepul dari fasilitas itu saat tim penyelamat mencari korban di antara puing dengan cahaya obor. Seorang pekerja rumah sakit yang mengaku bernama Abu Ghali mengatakan, pengeboman Israel ”tidak membedakan antara warga sipil dan target militer”. 

”Ini adalah rumah sakit sipil yang menerima orang-orang yang terluka sepanjang waktu,” katanya kepada AFP. Sebelumnya, Israel telah menghentikan operasi militer di Gaza untuk memungkinkan pembebasan Edan Alexander, tentara berkewarganegaan ganda,  Amerika Serikat-Israel, berusia 21 tahun yang telah disandera sejak Oktober 2023.

Jurnalis Palestina berjalan dalam prosesi pemakaman rekan mereka Hassan Aslih, yang tewas saat fajar dalam serangan Israel yang menghantam gedung operasi di rumah sakit Nasser, di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada 13 Mei 2025.

Israel menuduh jurnalis Aslih sebagai ”teroris yang menyamar sebagai jurnalis” dan anggota Brigade Khan Younis saat terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023 ke Israel yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 orang. Aslih dikenal sebagai jurnalis yang mempunyai ratusan ribu pengikut di media sosial. Saat terjadi serangan kombatan Palestina ke Israel, yang menewaskan lebih dari 1.200 warga Israel, Aslih mendokumentasikan kejadian itu dan mengunggahnya di ke media sosialnya. Klaim Israel ini dibantah pihak Hamas.

Sebelumnya, pada Senin (7/4/2025), Israel juga mengincar Aslih dalam sebuah serangan ke tenda wartawan yang terletak di dalam kompleks Rumah Sakit Nasser di Khan Younis. Serangan itu menewaskan dua wartawan Palestina, Helmy al-Faqawi dan Ahmed Mansur, serta melukai sembilan orang lainnya. Hassan Aslih termasuk korban luka dalam kejadian ini.

Warga Palestina memeriksa kerusakan di dalam rumah sakit Nasser di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan, Palestina, menyusul serangan Israel pada Selasa (13/5/2025) di mana jurnalis Palestina, Hassan Aslih, tewas bersama dengan beberapa orang lainnya.
Keadaan rumah sakit Nasser di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan, setelah serangan Israel pada 13 Mei 2025 di mana jurnalis Palestina Hassan Aslih tewas bersama dengan beberapa orang lainnya.
Pemuda Palestina memeriksa kerusakan di dalam rumah sakit Nasser di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan setelah serangan Israel pada 13 Mei 2025, di mana jurnalis Palestina Hassan Aslih tewas bersama dengan beberapa orang lainnya.
Jurnalis Palestina saling menguatkan dalam dalam prosesi pemakaman rekan mereka Hassan Aslih, yang tewas dalam serangan Israel yang menghantam gedung operasi di rumah sakit Nasser, di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada 13 Mei 2025.
Rombongan jurnalis Palestina berjalan dalam prosesi pemakaman rekan mereka Hassan Aslih, yang tewas dalam serangan Israel yang menghantam gedung operasi di rumah sakit Nasser, di Khan Yunis di Jalur Gaza selatan pada 13 Mei 2025.

Saat itu, puluhan jurnalis dan para kerabat Helmy al-Faqawi ikut mengantarkan wartawan itu. Jenazahnya dibungkus kain kafan dan ditandu bergantian oleh rekan-rekan jurnalis dan warga. Sebuah rompi antipeluru warna biru dengan tulisan ”Press” di dada dan punggung diletakkan di atas jenazah Faqawi.

Ritual serupa, para jurnalis yang mengenakan rompi antipeluru yang mengantarkan rekan jurnalis ke makam terjadi lagi.  Juga dengan rompi antipeluru yang diletakkan di dada rekan mereka yang diusung tandu. Kali ini mereka mengantar Aslih.

Tragisnya, serangan terhadap Aslih terjadi belum lewat sepekan saat puluhan jurnalis pada Sabtu (3/5/2025) menggelar aksi unjuk rasa di Khan Younis, Gaza selatan, mendesak komunitas internasional melindungi para pekerja pers dari serangan yang dilakukan berulang kali oleh Israel.

Warga Palestina menguburkan kerabat yang tewas dalam serangan Israel di sekolah Fatima Bint Asad di Jabalia di sebuah pemakaman di kota Jalur Gaza utara pada 12 Mei 2025. "Setidaknya 10 (tewas), termasuk beberapa wanita dan anak-anak, serta puluhan yang terluka, setelah serangan udara Israel di sekolah Fatima Bint Asad, yang merupakan rumah bagi lebih dari 2.000 orang terlantar di kota Jabalia," kata juru bicara Pertahanan Sipil Mahmud Bassal kepada AFP.
Rekan-rekan jurnalis membawa jenazah jurnalis Palestina Hassan Essliah untuk dimakamkan setelah dia terbunuh dalam serangan tentara Israel di Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, Jalur Gaza, Selasa, 13 Mei 2025.

Aksi unjuk rasa tersebut diselenggarakan Sindikat Jurnalis Palestina (Palestinian Journalists Syndicate) untuk memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia yang diperingati setiap 3 Mei. Para jurnalis berkumpul di Kompleks Medis Nasser di kota tersebut dan mengangkat papan bertuliskan ”Stop Membunuh Jurnalis”. 

Mereka menggambarkan situasi pekerja media di Gaza sebagai salah satu yang paling berbahaya di dunia mengingat tidak adanya jaminan keamanan, penghancuran institusi pers, serta perampasan alat kerja yang paling mendasar.

Sejak perang Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, Israel telah menewaskan 178 jurnalis, melukai 409 jurnalis, dan menangkap 48 jurnalis, seperti dilaporkan Komite Perlindungan Jurnalis. Jumlah ini belum termasuk kematian Aslih.  

Sebuah ruangan yang hancur terlihat di Rumah Sakit Nasser setelah serangan tentara Israel yang menewaskan dua pasien, di Khan Younis, Jalur Gaza, Selasa, 13 Mei 2025.

Semoga ritual  para jurnalis (mengantarkan rekan jurnalis lain ke pemakaman) di Gaza dan di daerah-daerah tidak terjadi lagi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Demitrius Wisnu Widiantoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari