Di tangan Luciano Spalletti, Italia tidak menunjukkan perkembangan signifikan. Kelemahan mereka masih tetap sama, kalah dalam duel udara dan bola mati.
21 Mar 2025 10:52 WIB · Olahraga
MILAN, JUMAT — Italia gagal memaksimalkan laga kandang seusai kalah 1-2 dari Jerman pada pertemuan pertama perempat final Liga Nasional Eropa di Stadion Giuseppe Meazza, Milan, Jumat (21/3/2025) dini hari WIB. Kalah akibat lemah dalam antisipasi bola mati dan duel udara juga sempat dialami ”Azzurri” saat melawan Perancis pada laga sebelumnya. Terjatuh dua kali ke lubang yang sama mengindikasikan tiada perkembangan berarti Italia di tangan Pelatih Luciano Spalletti.
Hasil tersebut membuat perjuangan Italia untuk lolos ke semifinal sangat berat karena harus mengungguli Jerman di markasnya pada pertemuan kedua. Sejak fase penyisihan grup, Jerman selalu meraih kemenangan saat bermain di hadapan pendukungnya sendiri.
Adapun kekalahan ini mengulang kecerobohan sebelumnya saat menghadapi Perancis pada fase penyisihan grup. Kala itu, Italia yang bermain di markas sendiri takluk 1-3. Ketiga gol Perancis berawal dari skema bola mati. Dua di antaranya tercipta akibat kelemahan para pemain Italia saat berduel udara.
Ada perbedaan dalam momen-momen yang menentukan karena mereka memanfaatkan ketinggian (badan) tambahan dan beberapa peluang yang mereka ciptakan. Sementara kami tidak melakukan hal yang sama.
Empat bulan kemudian, kelemahan itu tidak kunjung terselesaikan. Jerman mencetak dua gol dari hasil sundulan Tim Kleindienst dan Leon Goretzka. Kleindienst piawai melepaskan diri dari penjagaan Giovanni Di Lorenzo dan Alessandro Bastoni sehingga bisa menyundul bola tanpa kesulitan berarti. Sementara gol Goretzka diawali dari skema sepak pojok. Pergerakan Goretzka dalam menjemput datangnya bola tidak mampu dicegah para bek Italia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/12b8be1ecb02ee4e237e4c6a3233faf1-Italy_Soccer_Nations_League_128368574.jpg)
Spalletti menampik bahwa ada jurang kekuatan antara Italia dan Jerman. Menurut dia, kemampuan Italia dan Jerman seimbang. Oleh sebab itulah, dia masih merasa bisa meraih hasil positif pada pertemuan kedua.
”Ada perbedaan dalam momen-momen yang menentukan karena mereka memanfaatkan ketinggian (badan) tambahan dan beberapa peluang yang mereka ciptakan. Sementara kami tidak melakukan hal yang sama,” kata Spalletti, dikutip dari Football Italia.
Kebobolan dua gol dari skema yang terus berulang dari Perancis dan Jerman menandakan ada permasalahan yang tidak kunjung dibenahi oleh Spalletti. Persoalan tinggi badan bukanlah persoalan utama dari Italia. Mereka hanya kurang cerdik mengantisipasi bola udara serta tidak mampu membaca arah serangan.
Itulah sebabnya, Italia tetap saja kebobolan meski telah memasukkan bek Raoul Bellanova pada babak kedua. Salah satu pertimbangan Spalletti memainkan Bellanova lantaran bek Atalanta itu dianggap punya tinggi badan yang mampu mengimbangi penyerang Jerman. Setelah Bellanova masuk pun, Italia tetap kebobolan gol Goretzka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/673c8028af19ba0ab745b68fb8a7c2e7-Italy_Soccer_Nations_League_128368458.jpg)
Kekalahan dari Jerman amat disayangkan karena Italia mampu unggul lebih dulu melalui sepakan Sandro Tonali saat laga baru berjalan sembilan menit. Tonali yang kali ini bertindak sebagai gelandang serang membaca arah datangnya bola dengan sangat baik. Saat bek Jonathan Tah hendak mengamankan area kotak penalti Jerman, bola yang dibuangnya justru jatuh ke kaki Tonali.
Gelandang Newcastle United itu boleh dikatakan sebagai nyawa permainan Italia. Dari kreativitas Tonali, Italia mampu menciptakan dua peluang emas. Selain itu, umpan-umpan akurat Tonali tidak berarti banyak bagi Italia akibat cederanya penyerang klinis Mateo Retegui. Dari enam sepakan tepat sasaran yang diciptakan Italia, hanya satu yang berbuah gol.
Sementara itu, Pelatih Jerman Julian Nagelsmann memuji performa para pemainnya yang mampu bangkit dan membalikkan keadaan. Dengan kemenangan ini, satu kaki Jerman sudah menjejak semifinal. Meski begitu, ia mengaku kurang puas dengan kinerja para pemainnya pada babak pertama yang mendominasi penguasaan bola, tetapi minim peluang.
”Saya sangat senang karena kami berhasil bangkit dari ketertinggalan 0-1 dan memenangi pertandingan. Kami berbicara sebelum pertandingan bahwa kami ingin memenangi kedua pertemuan,” ucap Nagelsmann.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/03/21/29d7577fdc0a32f72e1d69879254ae09-Italy_Soccer_Nations_League_128369421.jpg)
”Saya menantikan pertandingan di stadion besar lainnya. Para penggemar kami sangat riuh hari ini. Saya harap mereka akan lebih riuh lagi pada hari Minggu (pertemuan kedua kontra Italia),” lanjutnya.
Jerman merupakan kandidat kuat juara Liga Nasional Eropa 2024-2025. Sejak fase penyisihan grup, mereka belum pernah tersentuh kekalahan. Tim ”Panser” juga tercatat paling produktif dengan rerata 2,9 gol per laga. Dari sisi pertahanan, mereka hanya kemasukan rerata 0,7 gol per laga.
Sejak dimulai pada 2018 silam, Jerman belum pernah menjuarai Liga Nasional Eropa walau sudah empat kali menjadi juara dunia. Bersama Nagelsmann, mereka perlahan mewujudkan angan menjadi juara untuk pertama kalinya pada edisi tahun ini. (REUTERS)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .