Juventus Vs Man City 2-0, Pep Guardiola di Ujung Cerita?

Ingatan tentang Pep Guardiola sebagai pelatih bertangan dingin perlahan terkikis. Era keemasan Guardiola seperti sudah di ujung cerita usai kalah dari Juventus.

12 Des 2024 09:19 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

TURIN, KAMIS — Kebangkitan yang ditunggu-tunggu Manchester City tidak kunjung terwujud. Setelah meraih hasil positif atas Nottingham Forest, City kembali menjadi tim pesakitan. Kali ini, ”The Citizens” tidak mampu berbuat banyak saat kalah 0-2 dari Juventus dalam lanjutan Liga Champions Eropa di Stadion Allianz, Turin, Italia, Kamis (12/12/2024) dini hari WIB. Dusan Vlahovic dan Weston McKennie jadi pahlawan kemenangan Juventus.

Dengan hasil ini, City hanya menikmati satu kemenangan dari 10 laga terakhir. Sebanyak tujuh laga berakhir dengan kekalahan dan dua lainnya imbang. Kondisi ini sangat tidak biasa dialami oleh Guardiola yang dikenal sebagai salah satu pelatih bertangan dingin di Eropa. Sejumlah pengamat sepak bola bahkan menyebut Guardiola saat ini berada pada dunia yang sama sekali asing bagi dirinya.

Kebobolan dua gol tanpa mampu membalas memperpanjang catatan minor Guardiola. Untuk kali pertama sepanjang sejarah kepelatihannya, Guardiola kini merasakan timnya kebobolan lebih dari dua kali dalam tiga pertandingan Liga Champions secara beruntun.

”Dominasi Pep Guardiola sudah berakhir, setidaknya untuk saat ini. Manchester City tidak akan segera menghilang, tetapi pencapaian sebagai yang terbaik di Inggris sudah berakhir,” ujar mantan pemain sayap Chelsea, Pat Navin, dikutip dari BBC Sport.

Dua musim sebelumnya, Guardiola mengukir pencapaian istimewa dengan membawa City meraih tiga gelar dalam satu musim, yakni Liga Inggris, Liga Champions Eropa, dan Piala FA. Kesuksesan Guardiola berlanjut musim lalu dengan memenangi tiga gelar, yakni Liga Inggris, Piala Dunia Antarklub, dan Piala Super UEFA. Secara total, Guardiola telah mempersembahkan 18 trofi bergengsi sejak menukangi City pada 2016.

Gelandang Juventus, Teun Koopmeiners, merayakan kemenangan atas Manchester City bersama rekan-rekannya pada laga Liga Champions di Turin, Italia, Kamis (12/12/2024) dini hari WIB. Juve menang 2-0.

Ingatan tentang kejayaan Guardiola itu kini semakin terkikis. Citranya mendadak tergantikan sebagai pelatih yang selalu sulit meraih kemenangan. Setelah gagal menang dalam tujuh laga beruntun, City sempat bangkit ketika menundukkan Forest, 3-0. Namun, kebangkitan itu hanya sementara. City kembali tampil buruk saat ditahan imbang Crystal Palace, 2-2.

Puncaknya, City gagal memberikan perlawanan sengit kepada Juventus. Sejak awal, City coba mengambil kontrol permainan tetapi sangat sedikit menciptakan peluang-peluang berbahaya. Sebaliknya, Juventus sangat efektif setiap kali menguasai bola. Momentum itu dimanfaatkan dengan baik oleh Vlahovic yang membuka keran gol Juventus pada menit ke-53.

Gol Vlahovic berawal dari tendangan akrobatik Federico Gatti yang ditepis oleh Ederson. Bola liar kemudian gagal diamankan oleh Josko Gvardiol sehingga Kenan Yildiz bisa merebutnya dan memberikan umpan kepada Vlahovic.

”Kami tahu sebelum pertandingan bahwa kami harus bertahan lebih dalam dari biasanya, tetapi kami melakukannya bersama-sama sebagai satu tim. Dalam menyerang, kami juga harus bersatu, menyerang pada waktu yang tepat, dan itulah yang kami lakukan,” ujar Pelatih Juventus Thiago Motta.

City segera menaikkan tempo permainan usai tertinggal. Mereka menerapkan garis pertahanan tinggi dan mengepung pertahanan Juventus. Motta merespons dengan menginstruksikan para pemainnya untuk memperkecil ruang antarlini sekaligus menumpuk pemain di area sepertiga akhir pertahanan.

Bek Juventus, Federico Gatti (tengah), menyundul bola saat laga Liga Champions melawan Manchester City di Turin, Italia, Kamis (12/12/2024) dini hari WIB.

Akibatnya, segala macam upaya serangan City yang dimotori Ilkay Guendogan, Jeremy Doku, Kevin De Bruyne, dan Jack Grealish membentur tembok. Erling Haaland yang ditugaskan sebagai ujung tombak pun sangat sulit mendapatkan suplai bola.

Saat City berusaha menyamakan kedudukan, celah besar tercipta di lini pertahanan mereka. Situasi ini kemudian dimanfaatkan Juventus untuk menggandakan keunggulan melalui gol McKennie pada menit ke-75. Gol tendangan voli McKennie berawal dari transisi cepat Juventus dari bertahan ke menyerang.

”Hari ini, semua pemain bertahan dengan sempurna. Kami meraih kemenangan besar, prestasi yang mengesankan melawan tim yang sangat kuat, yang dipimpin oleh pelatih terbaik di dunia. Ini adalah kemenangan dari hati. Kami bermain dengan semangat yang membara di dalam diri kami,” ujar Motta.

Hilang kendali

Dari cara merespons perlawanan Juventus, terlihat jelas betapa rapuhnya lini tengah City saat ini. Kehilangan Rodri sebagai gelandang bertahan sekaligus pusat permainan tim sangat terasa. City kehilangan kendali di lini tengah tanpanya.

Gol McKennie tidak akan tercipta seandainya Rodri bermain. Kemampuan Rodri membaca arah permainan sangat membantu City dalam menangkal transisi cepat lawan. Tanpa Rodri, pertahanan City sangat mudah ditembus.

Italy Soccer Champions League

”Mereka kurang menguasai area lini tengah. Mereka belum mampu bereaksi terhadap transisi dengan baik saat ini. Mereka tampaknya tidak memiliki rasa aman dalam tim,” kata mantan bek Manchester United, Rio Ferdinand.

Hal serupa diungkapkan oleh mantan bek City, Joleon Lescott. Menurut dia, City tidak kunjung menemukan pengganti Rodri. Mateo Kovacic ataupun Guendogan belum bisa menutupi absennya Rodri. Ini diperparah dengan strategi transfer City yang justru mendatangkan pemain sayap Savinho. Padahal, City sudah memiliki Grealish dan Doku yang bertipe sama dengan Savinho.

Hingga Rodri pulih, era kegelapan Guardiola diprediksi masih belum akan usai. Rodri diperkirakan baru pulih pada Maret 2025.

Guardiola harus segera menemukan solusi dari penampilan buruk timnya. Kekalahan dari Juventus membuat City tercecer di peringkat ke-22 klasemen Liga Champions dengan koleksi delapan poin. Dengan dua laga tersisa menghadapi Paris Sainit-Germain dan Club Brugge, City harus menyapu bersih kemenangan agar asa lolos ke fase gugur tetap terjaga. (REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan