Gennaro Gattuso menikmati hasil manis dalam debutnya melatih Italia. ”Tamparannya” membangunkan Italia yang mumpuni secara kualitas, tetapi kurang daya juang.
06 Sep 2025 08:41 WIB · Olahraga
BERGAMO, SABTU — Seperti diprediksi banyak pihak, Italia mampu mengatasi perlawanan Estonia dengan skor telak, 5-0. Namun, kemenangan besar bukanlah hadiah utama debut manis Gennaro Gattuso sebagai pelatih ”Azzurri”. Lebih dari itu, para pemain Italia menyadari bahwa daya juang juga amat dibutuhkan untuk mengakhiri kegagalan lolos ke Piala Dunia.
Anomali melanda Italia dalam dua edisi Piala Dunia sebelumnya. Meski diperkuat banyak pemain berkualitas, Italia selalu gagal lolos pada 2018 dan 2022. Bayang-bayang kegagalan itu kembali merekah setelah kalah telak 0-3 dari Norwegia pada laga pembuka kualifikasi.
Walau berhasil memetik kemenangan atas Moldova pada laga kedua, jajaran Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) memutuskan mengganti Pelatih Luciano Spalletti dengan Gattuso. Minim pengalaman internasional, salah satu hal yang membuat Gattuso dipercaya mengemban tanggung jawab besar adalah karakter yang dia miliki.
Semasa masih bermain, Gattuso dikenal sebagai gelandang yang tidak kenal kompromi. Gaya bermainnya cenderung keras, tetapi itu semua dia lakukan untuk menghentikan pergerakan lawan sekaligus memberi perlindungan kepada para bek. Karakter pantang menyerah dan hasrat kuat untuk memenangi setiap laga itulah yang ingin dia tularkan kepada para pemain Italia saat ini.
”Seperti yang selalu saya katakan, tim ini memang berkualitas. Namun, kualitas saja tidak akan cukup. Tim ini harus mengerahkan segalanya dengan gigih, merebut bola, menekan dengan keras, menunjukkan rasa lapar, dan saya rasa kita semua telah menyaksikannya hari ini,” kata Gattuso seusai laga di Stadion Gewiss, Bergamo, Italia, Sabtu (6/9/2025).
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/06/0e1b1f5b6986700d01258f0d645acaa4-09bea971b78b4691aebb37c0874907a2_0_e9880bb2a493462cbe1c1d43159e8b98.jpg)
Dia memberi kami begitu banyak tekad dan keberanian, juga beberapa tamparan, yang mungkin kami butuhkan sebagai peringatan.
Gattuso meyakini, hanya mengandalkan kualitas saja tidak akan membawa Azzurri melangkah jauh. Pada ajang sebesar Piala Dunia dan kualifikasinya, perbedaan mentalitas akan sangat memengaruhi. Ajang ini tidak memberi ruang bagi pemain untuk melakukan kesalahan sekecil apa pun.
Selain watak pekerja keras, Gattuso juga dikenal luas dengan karakternya yang temperamen. Dalam beberapa kesempatan, Gattuso didapati menampar para pemainnya yang tidak tampil maksimal. Hal ini juga pernah dialami penyerang Giacomo Raspadori.
Lewat gaya melatihnya, Gattuso memberi tamparan yang pada akhirnya menyadarkan para pemain bahwa Italia perlu terbangun dari tidur lelapnya. ”Dia memberi kami begitu banyak tekad dan keberanian, juga beberapa tamparan, yang mungkin kami butuhkan sebagai peringatan. Saya rasa kami membutuhkannya akhir-akhir ini,” ujar bek Italia, Alessandro Bastoni, dikutip dari Football Italia.
Ucapan Bastoni tidaklah berlebihan. Hasrat dan daya juang memang sangat dibutuhkan suatu tim untuk lolos ke Piala Dunia. Memiliki para pemain bertalenta dengan kualitas mumpuni memang penting, tetapi itu semua akan jadi sia-sia bila mereka tidak menunjukkan kegigihan di atas lapangan.
Contoh yang paling relevan adalah melihat apa yang terjadi pada Jerman. Meski dihuni banyak pemain top, Jerman secara mengejutkan takluk dari Slowakia pada laga kualifikasi lainnya. Pelatih Jerman Julian Nagelsmann menyoroti kurangnya hasrat dan daya juang dari para pemain sehingga harus menelan tiga kekalahan beruntun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/06/21c992413a196409e800f6bd9ee38bf7-AFP_73KQ869.jpg)
Kehadiran Gattuso membuat Italia berani tampil berbeda dibandingkan era Spalletti. Selain kegigihan dalam setiap upaya bertahan dan mencetak gol, perubahan juga tampak dari formasi yang digunakan. Spalletti gemar menggunakan formasi tiga bek, sedangkan Gattuso kurang cocok dengan sistem itu.
Melawan Estonia, Gattuso menggunakan formasi 4-4-2. Mateo Retegui dan Moise Keane berduet di lini depan. Ini menjadi yang pertama kalinya bagi kedua penyerang itu tampil bersama dalam seragam Italia.
Retegui dan Keane ditopang empat gelandang, yaitu Mattia Zaccagni, Sandro Tonali, Nicolo Barella, dan Matteo Politano. Adapun pos empat bek diisi Riccardo Calafiori, Federico Dimarco, Bastoni, dan Giovanni Di Lorenzo.
Saat menyerang atau menguasai bola, formasi Italia berubah menjadi 2-3-5. Gattuso mencoba memanfaatkan kelebaran lapangan untuk menekan Estonia dari sisi sayap. Formasi 4-4-2 juga dia rasa cocok untuk mengakomodasi berlimpahnya ketersediaan penyerang Italia.
Meski mengambil inisiatif serangan sejak awal dan menciptakan banyak peluang emas, Italia baru bisa memecah kebuntuan pada babak kedua. Gol pembuka Italia tercipta berkat sundulan Keane meneruskan umpan Dimarco. Italia menggandakan keunggulan pada menit ke-69 melalui sepakan Retegui yang piawai bermain di ruang sempit.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/06/29bdaba8b13b0ef03b1df8c46d38ca0e-79fe638c88c34a64835a1cb5c64615e5_0_86e6cdc9928f4313a09c2bbe151aa2a7.jpg)
Kebobolan dua gol membuat kepercayaan diri para pemain Estonia hancur. Akibatnya, Italia kembali menambah keunggulan lewat sundulan Raspadori. Unggul tiga gol membuat Italia kian di atas angin. Mereka kembali menambah gol lewat aksi Retegui dan Bastoni.
”Kami tahu bahwa kami harus mengambil beberapa risiko, meninggalkan situasi satu lawan satu dalam serangan balik karena kami memiliki begitu banyak penyerang di lapangan. Penting untuk menggiring bola di sisi sayap, menyerang pertahanan mereka, dan kami kurang beruntung karena tidak mencetak gol lebih awal. Saya mengucapkan selamat kepada para pemain karena selama tiga hari ini kami telah merasakan atmosfer latihan yang luar biasa,” tutur Gattuso dikutip dari Sky Sport Italia.
Meski menang, tambahan tiga poin belum bisa mendongkrak posisi Italia di peringkat keempat Grup I. Italia mengoleksi enam poin dari tiga laga, tertinggal dari Israel di peringkat kedua yang mengumpulkan sembilan poin. Hanya saja, Italia memiliki satu laga lebih sedikit dibandingkan Israel.
Tangan dingin Gattuso mendapat ujian lebih berat pada laga selanjutnya menghadapi Israel. Laga ini diprediksi akan berlangsung sengit lantaran memperebutkan posisi runner-up Grup I. Dengan lima pertandingan tersisa, Gattuso pantang kehilangan satu poin pun demi mengakhiri kegagalan Italia lolos dua kali beruntun ke Piala Dunia.
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan