Zaki menjalani debut dalam turnamen Indonesia Masters. Pengalaman dari turnamen lain membuatnya lebih siap menjalani tantangan.
21 Jan 2026 14:53 WIB · Olahraga
Kompas/Danu Kusworo
JAKARTA, KOMPAS — Untuk pertama kalinya, Mohammad Zaki Ubaidillah memenangi babak utama turnamen BWF World Tour Super 500. Dia memanfaatkan kesempatan dengan lebih siap dan berharap terus siap untuk mencapai target di Daihatsu Indonesia Masters 2026.
Zaki memenangi peluang dan tantangan tersebut pada babak pertama Indonesia Masters di Istora Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Rabu (21/1/2026), saat berhadapan dengan pemain India, Kiran George. Tunggal putra berusia 18 tahun itu menang dengan skor 21-17, 21-14.
Zaki menjalani laga itu seusai mendapat promosi ke babak utama setelah awalnya ditempatkan pada bagian fase kualifikasi dalam undian. Mundurnya enam tunggal putra pada pertemuan manajer, Senin, membuat Zaki bisa naik status.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/21/2239063b-de26-426c-a844-1236a6c5b3c0_jpg.jpg)
Indonesia Masters menjadi turnamen Super 500 keempat bagi Zaki yang mulai merasakan persaingan BWF World Tour pada 2025. Setelah tampil pada level Super 300 dengan hasil terbaik perempat final Taiwan Terbuka dan Korea Masters, atlet binaan PB Djarum itu mendapat kesempatan tampil pada Super 500 di Hong Kong Terbuka, Korea Terbuka, dan Kumamoto Masters pada rentang September-November.
Perjalanan pada semua turnamen itu dimulai dari babak kualifikasi dan dia baru bisa bertahan hingga babak pertama, yaitu di Kumamoto.
Bersaing pada masa awal dalam turnamen BWF World Tour, Zaki masih membutuhkan waktu untuk berkembang. Saat berhadapan George, setiap poin didapat dengan tidak mudah.
Berulang kali, dia kehilangan poin, justru, dalam posisi menyerang. Smesnya bisa dikembalkan George dengan pukulan yang mengarah ke dekat net dan Zaki kesulitan mencapainya.
Zaki menuturkan, sebenarnya atmosfer persaingan pada turnamen Super 500 tak berbeda dengan level di bawahnya, terutama Super 300. Namun, dia membutuhkan waktu untuk akhirnya bisa memenangi babak pertama Super 500.
”Semuanya ada pada faktor kesiapan. Saat siap dan siapa yang lebih siap di lapangan, dia yang akan menang. Kali ini, mudah-mudahan saya lebih siap untuk bisa lebih jauh,” kata peraih medali perak tunggal putra SEA Games Thailand 2025 tersebut.
Dituturkan finalis Kejuaraan Dunia Yunior 2025 tersebut, dari hasil diskusi dia dan pelatih tunggal putra, Indra Widjaja, dibuatlah target untuk mencapai perempat final Indonesia Masters. Namun, target tersebut menjadi tantangan besar. Zaki akan berhadapan dengan Loh Kean Yew meski dia mengalahkan juara dunia 2021 asal Singapura tersebut pada perempat final SEA Games 2025.
Selain kemampuan, Zaki berharap mendapat suntikan dukungan dari penonton seperti yang didapatnya pada babak pertama. Penonton di Istora tidak terlalu banyak pada Rabu sesi siang, tetapi suara yang terdengar cukup lantang.
Zaki menjadi salah satu dari empat tunggal putra Indonesia yang tampil pada babak utama Indonesia Masters. Tiga atlet lain yang tampil pada Rabu sore hingga malam adalah Alwi Farhan, Anthony Sinisuka Ginting, dan Muhamad Yusuf.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/21/774ea019-6e36-47fb-94fd-d1d74c4fdb26_jpg.jpg)
Seperti Zaki, Yusuf tampil untuk pertama kali di Indonesia Masters. Alwi akan tampil untuk keduanya setelah kalah pada babak kualifikasi pada 2025. Adapun Anthony, yang tahun ini bermain sejak babak kualifikasi, bermain untuk ke-11 kali sejak debut pada 2014. Anthony menjuarai Indonesia Masters pada 2018 dan 2020, tetapi absen pada 2025 karena cedera.
Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana juga menjalani debut Indonesia Masters dengan hasil menang. Mereka mengalahkan pasangan Malaysia, Jimmy Wong/Lai Pei Jing, 21-10, 21-17, untuk berhadapan dengan sesama pemain Indonesia, Jafar Hidayatullah/Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu, yang menang atas Kristoffer Kolding/Mette Werge (Denmark) 21-14, 21-19.
Meskipun berpengalaman tampil pada semua level turnamen, dengan hasil terbaik semifinal Malaysia Terbuka 2023 dan China Terbuka 2024 (bersama Gloria Emanuelle Widjaja), Indonesia Masters 2026 menjadi yang pertama bagi Dejan dalam level Super 500 bersama Bernadine. Mereka berpasangan sejak September 2025 dan melangkah bersama dari level bawah.
Dejan/Bernadine mengikuti turnamen International Challenge, Super 100, dan Super 300 sebelum tampil di Indonesia Masters. Mereka menjuarai Al Ain Super 300 dan Syed Modi International Super 300.
”Kuncinya adalah pola pikir bahwa saya harus menerima dulu semuanya, yaitu melangkah lagi dari bawah. Kalau tidak berpikir seperti itu, mungkin sulit. Pada akhirnya, dengan berjalannya waktu, kami bisa berkembang,” kata Dejan.
Dari sudut pandang Bernadine, yang baru menjalani turnamen BWF World Tour sejak 2025, adaptasi yang harus dilakukan adalah mendekatkan diri dengan kemampuan Dejan. ”Saya berusaha untuk mendekati Aa Dejan. Motivasinya lebih besar dan sebisa mungkin melakukan latihan ekstra,” kata atlet berusia 19 tahun tersebut.
Pada masa awal berpasangan ini, Dejan/Bernadine tak menetapkan target berdasarkan hasil di Indonesia Masters. Mereka ingin mengukur kemampuan diri sendiri dibandingkan dengan pasangan lain yang lebih berpengalaman.
Laga melawan Jafar/Felisha pada babak kedua, Kamis, menjadi salah satu tolok ukur karena rekan latihan di pelatnas Cipayung itu mempunyai lebih banyak pengalaman di turnamen level tinggi. Pada 2025, Jafar/Felisha menjadi semifinalis Kejuaraan Asia, China Terbuka Super 1000, dan menjadi peserta turnamen Final BWF World Tour yang hanya diikuti delapan wakil terbaik dari setiap nomor.
Pada pertandingan lain, dua ganda campuran Indonesia kalah dari pemain Denmark. Bobby Setiabudi/Melati Daeva Oktavianti kalah dari Jesper Toft/Amelie Magelund 19-21, 15-21, sementara Bimo Prasetyo/Arlya Nabila Thesya Munggaran dikalahkan Mathias Christiansen/Alexandra Boje 8-21, 21-15, 12-21.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan