Kamboja dan Thailand Bergerak Cepat Redam Ketegangan di Perbatasan

Baku tembak antara militer Thailand dan Kamboja sempat terjadi di perbatasan kedua negara. Kedua negara didorong menggelar dialog damai membahas isu perbatasan.

29 Mei 2025 20:19 WIB · Internasional

Oleh Mahdi Muhammad

BANGKOK, KAMIS — Ketegangan sempat terjadi antara Thailand dan Kamboja setelah militer kedua negara saling tembak di perbatasan Chong. Bok, Ubon Ratchathani, Rabu pagi. Satu orang tentara Kamboja tewas dalam insiden itu.

Akan tetapi, militer kedua negara bergerak cepat memadamkan ketegangan kedua negara. Segera setelah insiden meletus, Wakil Komandan Brigade Dukungan ke-3 Angkatan Bersenjata Kerajaan Kamboja (RCAF) menghubungi Wakil Komandan Satgas Suranaree Thailand melalui telepon. Kedua pihak sepakat mengakhiri baku tembak yang telah berlangsung sekitar 10 menit.

”Saat ini sedang dilakukan diskusi mengenai mekanisme bilateral bersama untuk menyelesaikan klaim teritorial yang tumpang tindih secara damai dan menetapkan kerangka kerja bersama untuk tindakan di masa mendatang,” kata seorang sumber.

Menteri Pertahanan Thailand Phumtham Wechayachai mengatakan situasi telah terkendali dan kedua belah pihak tidak berniat untuk saling menembak.

Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra pada Kamis (29/5/2025) mengatakan, kedua pihak harus tetap tenang dan berdiskusi dengan damai yang bisa mengarah pada hasil positif. Sementara itu, mitranya, PM Kamboja Hun Manet, berharap agar pertemuan pemimpin militer kedua negara bisa menghasilkan sebuah hal yang positif bagi kedua pihak.

Cambodian soldiers drive BM-21 Grad self-propelled multiple rocket launchers along a street in Phnom Penh on May 28, 2025. (Photo by TANG CHHIN Sothy / AFP)

Kronologi

Juru bicara militer Kamboja Mao Phalla mengatakan, pada Rabu pagi tentaranya tengah melakukan patroli rutin di sepanjang perbatasan. Pada saat itulah tentara Thailand melepaskan tembakan ke arah mereka.

Sementara itu, merujuk media Thailand, The Nation, disebutkan, pasukan Thailand yang berjaga di sekitar perbatasan mendeteksi adanya pergerakan pasukan Kamboja di sekitar lokasi insiden. Mereka meyakini pergerakan itu merupakan upaya membangun perkuatan dan posisi.

Menanggapi hal itu, tentara Thailand dari Satgas 1 Komando Suranaree mengarahkan pasukan yang tengah berpatroli untuk berkoordinasi. Pasukan itu disebutkan tidak bermaksud untuk menegaskan kedaulatan atau memprovokasi.

Militer Thailand mengatakan, pasukan itu mendekati posisi pasukan Kamboja untuk berunding. Akan tetapi, terjadi kesalahpahaman dan tak lama kemudian kedua pihak saling melepas tembakan. Menurut sumber, insiden itu terjadi karena adanya kesalahan penilaian di lapangan.

Bentrokan itu berlangsung sekitar 10 menit. Untuk mencegah konflik itu membesar, komandan setiap pasukan segera berbicara satu sama lain. Mereka lantas memerintahkan penghentian kontak senjata.

(L-R) Laos' Prime Minister Sonexay Siphandone, Myanmar's Permanent Secretary of the Ministry of Foreign Affairs Aung Kyaw Moe, Singapore's Prime Minister Lawrence Wong, Thailand's Prime Minister Paetongtarn Shinawatra, Vietnam's Prime Minister Pham Minh Chinh, Malaysia's Prime Minister Anwar Ibrahim, Philippines' President Ferdinand Marcos Jr, Brunei's Sultan Hassanal Bolkiah, Cambodia's Prime Minister Hun Manet, Indonesia's President Prabowo Subianto and East Timor's Prime Minister Xanana Gusmao pose for a group photo during the plenary session at the 46th Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Summit in Kuala Lumpur on May 26, 2025. (Photo by Jam STA ROSA / AFP)

Insiden itu terjadi beberapa saat setelah pemimpin kedua negara bertemu dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN di Kuala Lumpur, Malaysia. PM Paetongtarn juga sempat melakukan kunjungan ke Kamboja pada April lalu dan bertemu PM Hun Manet. Kala itu mereka membahas kerja sama lintas batas kedua negara.

Kedua negara diketahui telah lama berselisih soal perbatasan darat kedua negara sepanjang lebih dari 800 kilometer yang sebagian besar dibuat selama pendudukan Perancis di Indochina. Sempat terjadi bentrokan besar antara kedua negara di tahun 2008 karena perebutan status kewilayahan kuil Preah Vihear di perbatasan yang disengketakan.

Akibat bentrokan tersebut, puluhan warga sipil tewas. Pada 2013, Mahkamah Internasional PBB memberikan kedaulatan atas wilayah tersebut kepada Kamboja.

Insiden itu mendorong mantan pemimpin kedua negara bersuara. Mantan pemimpin Kamboja Hun Sen, yang juga adalah ayah Hun Manet mendesak agar persoalan perbatasan kedua negara yang sudah menahun segera diselesaikan. Hal senada juga disampaikan Thaksin Shinawatra, ayah PM Paetongtarn. Dia mendorong dialog damai antara kedua negara dalam penyelesaikan persoalan perbatasan.

(AFP/AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Mahdi Muhammad
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase