Banyak pihak berharap konflik India-Pakistan saat ini mereda dengan deeskalasi, seperti pada 2019. Kala itu, pemimpin kedua negara berdamai setelah tegang sebulan.
09 Mei 2025 00:05 WIB · Opini
Saat perang di Ukraina dan Gaza masih bergejolak, ancaman perang baru tersulut di Kashmir, perbatasan India-Pakistan. Sangat berbahaya jika eskalasi ini berlanjut.
Sejak merdeka dari kolonial Inggris pada 1947, India dan Pakistan sudah tiga kali berperang, dua di antaranya dipicu isu Kashmir. Wilayah seluas 180.000 kilometer persegi dan dipecah tiga bagian di bawah kontrol India, Pakistan, dan China itu berkali-kali jadi sumber ketegangan New Delhi-Islamabad.
Pemicu ketegangan terakhir ini adalah serangan kelompok militan di Pahalgam, wilayah Kashmir yang dikuasai India, pada 22 April 2025, menewaskan 26 turis. New Delhi menuding kelompok berbasis di Punjab, Pakistan, Lashkar-e-Taiba dan Jaish-e-Mohammad, sebagai pelaku serangan.
India juga menuduh Islamabad mendukung dua kelompok itu. Pakistan menolak tudingan tersebut. Setelah berkembang menjadi krisis diplomatik, termasuk penangguhan perjanjian pembagian air Sungai Indus, yang telah berlangsung 65 tahun, dan hubungan perdagangan, pada Rabu (7/5/2025) dini hari India melancarkan pembalasan ke Pakistan.
Seperti diberitakan, mengutip pernyataan militer India, serangan tersebut menghancurkan sembilan kamp teroris di Pakistan. Disebutkan pula, serangan itu ”terfokus, terukur, dan tidak bertujuan meningkatkan ketegangan”. Ditambahkan, tak ada fasilitas militer Pakistan disasar.
Dari pernyataan itu, kuat nuansa yang ingin disampaikan: India tak ingin berperang. Namun, tidak demikian halnya bagi Pakistan.
Islamabad menyatakan serangan India itu tidak ubahnya pernyataan perang.
Islamabad menyatakan serangan India itu tidak ubahnya pernyataan perang. Apalagi, ada 31 warga sipil Pakistan tewas akibat serangan pembalasan India. Dalam pidato kepada rakyatnya, Rabu malam, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan akan menuntut balas atas kematian warganya.
Pascaserangan India ke Pakistan, pecah baku tembak artileri lintas perbatasan de facto kedua negara di Kashmir. India mengatakan, 13 warganya dan satu tentaranya tewas.
Pada Kamis (8/5/2025) dini hari, militer Pakistan menyatakan menembak jatuh 25 pesawat nirawak India buatan Israel di beberapa lokasi di Pakistan, termasuk di dua kota besar Karachi dan Lahore. Sehari sebelumnya, mereka mengklaim menembak jatuh lima pesawat tempur dan satu pesawat nirawak India.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/08/3743b2f89c34c5d701ad16d768d05455-PAKISTAN_INDIA_KASHMIR_UNREST_129560428.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/07/df779924-f599-4a5e-9ce4-fe5f6548f783_png.png)
Apakah ketegangan ini akan berujung perang India-Pakistan? Kita pasti tak menginginkannya. Tiga tahun terakhir, selepas pandemi Covid-19, dunia gonjang-ganjing akibat perang di Ukraina dan Gaza. Dampaknya dirasakan dunia.
Dalam situasi seperti itu, apakah geopolitik dunia akan dibuat semakin mendidih oleh perang India-Pakistan? Banyak kalangan berharap konflik India-Pakistan saat ini bisa mereda dengan langkah deeskalasi, seperti pada 2019. Kala itu, pemimpin kedua negara berdamai setelah tegang sebulan lebih.
Upaya deeskalasi diungkapkan Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar, yang menyebut penasihat keamanan nasional India-Pakistan telah menjalin interaksi di balik layar. Semoga pejabat India dan Pakistan berpikir jernih dan rasional.
Penulis:
REDAKSIEditor:
Muhammad Samsul Hadi, Andreas MaryotoPenyelaras Bahasa:
Retma Wati