Para aktivitas kemanusiaan dari berbagai negara yang tidak melakukan kejahatan dianggap teroris dan diperlakukan demikian buruk oleh Israel.
07 Okt 2025 08:00 WIB · Internasional
Perjuangan armada kemanusiaan Global Sumud Flotilla atau GSF diakhiri Israel dengan penyerbuan ke kapal-kapal. Meski para aktivis kemanusiaan di armada itu selamat, warga dunia tercekat oleh perlakuan Israel yang tak manusiawi saat para aktivis kemanusiaan itu berada dalam tahanan.
Pada 1-3 Oktober 2025, Israel menangkap sekitar 450 aktivis dalam armada kapal sipil GSF yang akan mengirim bantuan kemanusiaan untuk warga Palestina di Jalur Gaza. Tel Aviv telah mendeportasi sebagian penggiat.
Seiring banyaknya aktivis pulang, semakin banyak pula kesaksian tentang kekejaman Israel selama penahanan. Al Jazeera melaporkan, kesaksian aktivis asal Italia, Cesare Tofani, menguatkan cerita itu.
”Kami diperlakukan dengan sangat buruk. Dari tentara, kami ditangani oleh polisi. Ada pelecehan,” kata Tofani di Bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino, tak jauh dari Roma, menurut kantor berita ANSA, Minggu (5/10/2025).
Jurnalis Fanpage Saverio Tommasi menyampaikan hal serupa. Para penjaga Israel mengejek dan mempermalukan aktivis yang sedang ditahan, termasuk aktivis lingkungan Greta Thunberg; cucu Nelson Mandela, Mandla Mandela; beserta beberapa anggota parlemen Eropa.
Tommasi juga tak luput dari sasaran. Kepala dan punggungnya dipukul. ”Kami diperlakukan seperti monyet tua dalam sirkus terburuk tahun 1920-an,” tuturnya, Sabtu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/02/c87344fb-2b23-464b-b760-f3ece63d6160_jpg.jpg)
Sikap Israel kepada aktivis GSF mulai jadi sorotan setelah para aktivis yang pulang menyuarakan perlakuan kasar terhadap Thunberg, aktivis muda yang terkenal. Menurut mereka, Thunberg diseret di tanah, dipaksa mencium bendera Israel, dan digunakan sebagai alat propaganda.
Sejauh ini, sejumlah aktivis tercatat sudah pulang dari Israel. Sebanyak 79 orang dari Perancis, Yunani, Italia, dan Swedia akan menjadi rombongan terbaru yang meninggalkan Israel pada Senin (6/10/2025). Thunberg berada dalam rombongan tersebut. Secara terpisah, 28 orang Spanyol lainnya dijadwalkan terbang pada Senin.
Sebagian besar aktivis biasanya akan diterbangkan dari Israel ke Yunani. Dari negara itu, mereka akan menaiki penerbangan menuju negara asal.
Pada Minggu, 21 orang Spanyol dan 9 orang Swiss telah pulang ke negara kelahiran mereka. Sebanyak 26 orang Italia lainnya meninggalkan Israel sejak Sabtu. Warga dari negara-negara lain juga sudah kembali ke negara masing-masing, termasuk Malaysia, Turki, Tunisia, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Maroko, dan masih banyak lagi.
Namun, masih ada beberapa warga negara asing berada dalam tahanan Israel, termasuk 10 warga negara Swiss.
Menurut The Guardian, para pengacara dari Pusat Hukum untuk Hak-Hak Minoritas Arab di Israel (adalah) menyatakan, hak-hak aktivis telah dilanggar secara sistematis. Mereka tidak mendapat air, sanitasi, obat-obatan, dan perwakilan hukum dalam penahanan.
Sembilan aktivis Swiss yang telah pulang mengonfirmasi kondisi tidak manusiawi selama ditahan. Mereka dibuat kurang tidur, juga kekurangan air dan makanan, serta mengalami kekerasan, seperti dipukul dan ditendang. Mereka juga dikurung di dalam kandang.
”Para peserta armada mengecam kondisi penahanan yang tidak manusiawi beserta perlakuan yang merendahkan dan memalukan yang mereka alami selama penangkapan dan penahanan,” bunyi pernyataan bersama aktivis Swiss itu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/06/e4e88ee4-7e26-42cf-828d-54fc94b9923b_jpg.jpg)
Organisasi kemanusiaan Waves of Freedom menyampaikan keprihatinan terhadap 10 warga negara Swiss yang masih ditahan. Beberapa dari aktivis melakukan mogok makan sehingga kondisi tubuh mereka melemah.
Kedutaan Besar Swiss di Tel Aviv telah mengunjungi mereka di penjara untuk memberikan perlindungan konsuler. Situasi mereka relatif baik.
Sebelumnya, dua bersaudara sekaligus selebritas asal Malaysia, Heliza dan Hazwani Helmi, menceritakan, Israel tidak memedulikan kesehatan para aktivis yang sakit parah. ”Bisa Anda bayangkan kami minum air toilet? Mereka orang-orang yang sangat, sangat kejam,” ujar Hazwani kepada kantor berita Anadolu setelah mendarat di Istanbul, Sabtu.
Heliza juga mesti berpuasa selama berhari-hari. ”Saya makan pada tanggal 1 Oktober. Hari ini adalah makan pertama saya. Jadi selama tiga hari, saya tidak makan, hanya minum dari toilet,” katanya.
Menurut The Guardian, Thunberg sudah melapor kepada pejabat Swedia soal perlakuan kasar selama di tahanan Israel. Dalam sebuah surel yang dikirim Kemenlu Swedia kepada orang-orang dekat Thunberg, Thunberg mengaku bahwa ia dikurung dalam sel penuh kutu busuk serta kekurangan makanan dan minuman. Dia juga bertanya-tanya apakah fotonya memegang bendera telah disebarkan.
Warganet ramai mengecam perilaku Israel. Para aktivitas kemanusiaan dari berbagai negara yang tidak melakukan tindakan kriminal saja diperlakukan demikian buruk oleh Israel. Dapat dibayangkan bagaimana buruknya Israel memperlakukan warga Palestina dalam wilayah pendudukannya.
Pemerintah Israel memberikan pernyataan yang bertentangan mengenai tuduhan-tuduhan tersebut. Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan, kisah-kisah penganiayaan Thunberg dan aktivis lainnya adalah ”kebohongan yang tak tahu malu”.
”Hak hukum semua tahanan ditegakkan sepenuhnya. Menariknya, Greta Thunberg sendiri dan tahanan lainnya menolak mempercepat deportasi serta berkeras memperpanjang masa tahanan. Greta juga tidak mengadukan tuduhan-tuduhan tidak berdasar ini kepada otoritas Israel karena itu tidak pernah terjadi,” bunyi pernyataan Kemenlu Israel.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/10/06/1b6e4fea-cfd2-48d5-9a4f-c2ce55675424_jpg.jpg)
Akan tetapi, Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir justru ”bangga” atas perlakuan kasar yang dialami aktivis di Penjara Ktzi’ot, Negev. Ia terekam mengejek para aktivis saat mereka dibawa ke darat.
Penangkapan aktivis dan perlakuan Israel telah memicu kritik dari berbagai negara, termasuk Pakistan, Turki dan Kolombia. Yunani sudah mengirim protes tertulis. Di seluruh dunia, warga turun ke jalan untuk unjuk rasa membela aktivis dan mengecam aksi militer Israel di Gaza, mulai dari Eropa, Australia, hingga Amerika.
Sampai sekarang, Israel masih terus menggempur Gaza. Tanggal 7 Oktober 2025 adalah peringatan dua tahun perang Hamas-Israel berlangsung. Dalam dua tahun ini, sudah 67.160 warga Palestina meninggal karena serangan Israel.
(AFP/Reuters)
Penulis:
Elsa Emiria LebaEditor:
Nur HidayatiPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase