Dua tim dengan sejarah diaspora dan migrasi tinggi berlaga di Piala Dunia. Semuanya beradu taktik dan semangat di lapangan bola.
13 Jun 2026 09:52 WIB · Olahraga
AFP/Cole Burston
Laga putaran final Piala Dunia 2026 antardua tim diaspora tersaji di Stadion BMO Field, Toronto, Kanada, Sabtu (13/6/2026) WIB. Kanada seperti bermain merayakan tanah yang menerima kedatangan keluarga mereka. Sementara banyak pemain Bosnia yang tumbuh di luar negeri, mengubah kisah tentang tanah yang pernah ditinggalkan menjadi semangat di lapangan bola.
Pertandingan di Grup B ini berakhir imbang. Bosnia mencetak gol terlebih dahulu melalui Jovo Lukic pada menit ke-21. Kanada menyamakan kedudukan lewat Cyle Larin pada menit ke-78.
Larin yang masuk sebagai pemain pengganti terlihat sangat emosional merayakan golnya. Seperti hendak menutup kritik yang ditujukan padanya, dia menutup telinga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/211a5119bd83a9cad540ce52ee655bee-wires_photo_2_.jpg)
Dia juga menepuk dadanya tanda bangga. Pemain berusia 31 tahun yang bermain untuk klub divisi dua Inggris, Southampton, itu pantas melakukannya.
Selain seolah menjadi pembuktian bagi Larin atas kritik yang dia diterima sepanjang tahun ini, lewat gol itu juga Kanada untuk pertama kalinya meraih poin di Piala dunia.
”Rasanya luar biasa, bisa mencetak gol di tanah kelahiran saya, tempat saya berasal, dan merayakannya bersama para penggemar, suasananya menakjubkan,” kata Larin yang berasal dari pinggiran Brampton, Ontario.
Di Kanada, Ontario dikenal sebagai salah satu wilayah multikultural. Tempat itu menjadi rumah baru bagi banyak komunitas imigran dari wilayah Karibia, termasuk Jamaika, daerah asal ayah Larin.
Selain kekuatan taktik dan kekompakan pemain, faktor kebudayaan memang sangat dominan di tubuh ”Si Merah”. Pelatih Kanada Jesse Marsch menyebut tidak dapat menyembunyikan kekagumannya pada kekuatan itu saat mulai menukangi tim pada tahun 2024.
Dia sangat terkesan sejak memasuki lingkungan tim ini. Antarpemain terlihat saling menyayangi. ”Meskipun ada perbedaan, kisah hidup mereka memiliki kesamaan: generasi pertama dan kedua Kanada, Portugis, Perancis, Jamaika, Kolombia, dan Skotlandia,” kata Marsch, seperti dikutip dari The Guardian.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/b9796c6582aaa0fb5e15707e6bab5f37-Canada_v_Bosnia_and_Herzegovina__Group_B_FIFA_World_Cup_2026_1_.jpg)
Pria berusia 52 tahun itu melanjutkan, setiap pemainnya ”sangat Kanada” dan memiliki kebanggaan besar saat mengenakan jersei mewakili negara atau mendengarkan lagu kebangsaan.
”Mereka menyanyikan dengan lantang karena mereka ingin menunjukkan kepada negara betapa bangganya mereka berada di sini, menjadi orang Kanada, dan mewakili apa itu Kanada,” katanya.
Larin tidak sendirian merayakan sejarah Kanada. Alphonso Davies, yang disebut sebagai pemain terpopuler Kanada, lahir di kamp pengungsian Ghana dari orangtua Liberia. Penyerang Juventus, Jonathan David, lahir di AS dari keluarga Haiti dan besar di Kanada.
Selain itu, ada Stephen Eustaquio yang besar di Portugal hingga Promise David yang punya akar Nigeria. Keberagaman itu lantas menemukan rumahnya di Kanada dan pemain disatukan lambang maple di dada.
Seperti Kanada, timnas Bosnia juga lahir dari tradisi migrasi. Banyak pemainnya merupakan anak atau cucu keluarga yang terdampak perang Balkan pada 1990-an. Sebagian besar tumbuh di negara lain sebelum akhirnya memilih membela tanah leluhur mereka.
Lukic, pencetak gol, misalnya, lahir di Serbia, tetapi memilih membela Bosnia. Lain lagi dengan pengirim umpan matang untuk gol Bosnia, Sead Kolasinac (33). Dia lahir di Jerman, pernah membela tim yunior ”Der Panzer”, tetapi memilih timnas Bosnia sejak 2013.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/71031e235e43a5cb47f5fb2114e062a4-AP26090802303712.jpg)
Teranyar adalah kisah Esmir Bajraktarevic (21) yang bermain untuk PSV Eindhoven di Eredivisie. Pelatih Bosnia Sergej Barbarez memuji penampilan anak asuhnya yang berusia 21 tahun itu sebagai salah satu masa depan sepak bola Bosnia.
Bajraktarevic lahir di AS dan pernah bermain di tim MLS, New England Revolution. Di laga penentuan lolos ke Piala Dunia 2026, satu golnya ikut menggagalkan Italia berlaga di Piala Dunia 2026.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/5ad62985671f5046045f17bb9d8d90de-AP26090791670100.jpg)
Sejak lama, Barbarez sangat menekankan pentingnya pesan multikultural di tim berjulukan ”Zmajevi” atau Sang Naga ini. Ia terus mengulangi pesan yang sama tentang semangat, kebanggaan, dan tanggung jawab mewakili negara pada skuad yang 96 persen pemainnya bermain di luar negeri atau lahir di luar Bosnia.
Barbarez mengatakan, sejauh ini ia sangat bangga dengan suasana dan persatuan yang telah mereka bangun. Timnas berhasil memperkuat identitas tim nasional. Tidak hanya bagi pemain, tetapi juga untuk membangkitkan kembali kepercayaan warga Bosnia terhadap tim muda.
Untuk itu, Barbarez percaya pengalaman pemain terbesar Bosnia, Edin Dzeko (40), sangat berharga bagi tim. Dzeko telah bermain di level tertinggi selama bertahun-tahun, berkompetisi di liga dan turnamen terbesar, dan tahu persis apa yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan. Kiprah panjang itu, menurut Barbarez, sangat penting bagi para pemain muda yang mengaguminya.
Bagi banyak rekan setimnya, Dzeko memang berubah dari pahlawan masa kecil menjadi rekan seperjuangan. Di ruang ganti Bosnia, pengalaman bukan hanya soal sepak bola, melainkan juga tentang memori kelam dan cara bangkit kemudian.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/04/01/12a5cb3ef0cfbb7ecf0069d886d4f7fe-AP26091058285727.jpg)
Dikutip dari USA Today, Dzeko mencoba mengingat trauma perang yang dia simpan sampai sekarang. Menariknya, pernah menghantuinya, kemampuan Dzeko untuk lepas dari kejadian itu membuatnya lebih kuat dan mencintai negaranya. Dia berharap, hal serupa juga ada dalam diri semua orang Bosnia.
”Baik Anda yang tinggal di Sarajevo, atau Roma, atau St Louis. Baik Anda Muslim, Yahudi, Katolik, atau Ortodoks. Jangan pernah lupa dari mana Anda berasal. Anda adalah orang Bosnia. Dunia ada di kaki Anda. Aku mencintai kalian semua,” kata Dzeko. (AP)
Penulis:
Cornelius Helmy HerlambangEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar