Kantin Sehat tidak hanya menyediakan pilihan makanan yang bergizi. Program ini membantu siswa lebih sadar mengontrol asupan kalori.
23 Mei 2025 17:54 WIB · Metro
Siswa menyambut positif program Kantin Sehat Jakarta Cerdas Berkelanjutan yang mulai diterapkan di tiga sekolah di Jakarta. Program ini tidak hanya menyediakan pilihan makanan sehat dan bergizi. Siswa juga dibantu lebih sadar mengontrol asupan kalori harian.
Di kantin sehat SMKN 57 Jakarta, sembilan stan berjejer rapi. Ada menu sehat dan bergizi di dalamnya.
Tidak hanya itu, di setiap etalase, terpampang jelas informasi jumlah kalori pada setiap porsi makanan. Besarannya, 100-300 kalori per porsi.
Penyajian informasi ini menjadi bagian penting dari edukasi gizi. Tujuannya, agar siswa dapat ikut mengontrol asupan kalori hariannya.
Para penjual di kantin juga tidak ketinggalan menjamin standardisasi kesehatan. Mereka berpenutup kepala. Sarung tangan plastik jadi kewajiban. Masker mesti dikenakan selama proses penyajian makanan.
Untuk memastikan keakuratan informasi kalori, Dinas Kesehatan Jakarta juga terlibat. Mereka rutin mengambil sampel makanan dan menguji jumlah kalorinya.
Gerald (18), siswa kelas 11 di SMKN 57 Jakarta, antusias menyambut kantin sehat. Tidak hanya ingin mencoba makanannya, ia tertarik menjadi anggota Kelompok Kerja (Pokja) Kantin. Pokja bertanggung jawab mengelola dan memantau kegiatan di kantin sekolah.
”Kantin sehat membantu siswa makan lebih bergizi dengan mengetahui jumlah kalori. Dengan informasi tersebut, saya bisa memantau asupan kalori harian dan mengatur pola makan agar tidak berlebihan,” ujar Gerald, Jumat (23/5/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/23/94dacf4e844a8776bf5e90e17f7a78e7-FAK_7560.jpg)
Sejak diresmikan Gubernur Jakarta Pramono Anung, Selasa (20/5/2025), siswa semakin aktif terlibat mengelola kantin. Menurut Gerald, kantin sehat membuatnya lebih termotivasi menjaga pola makan sehat.
Siswi SMKN 57 Jakarta lainnya, Tatia (18), menambahkan, sekolah juga memastikan kualitas bahan baku yang digunakan pedagang di kantin. Ia mencontohkan, penggunaan minyak goreng.
”Minyaknya bukan jelantah. Kami bekerja sama mengolah sisa minyak menjadi bahan pembuatan sabun,” kata Tatia.
Tidak hanya diajak memantau kantin, siswa juga dibekali pengetahuan mengenai pengelolaan limbah makanan, termasuk pembuatan kompos dari sisa makanan.
Salah satu pedagang di kantin, Nanik (51), juga bersemangat menyambut kebiasaan baru ini. Telah berjualan sejak 1994, baru kali ini, ia menerapkan standar kesehatan ketat saat berdagang.
”Ada tiga menu yang harus saya hilangkan karena tidak sesuai standar kesehatan. Selain maklor dan cilor ada minuman sasetan. Sekarang, saya hanya jual siomay, batagor, dan jus buah,” jelas Nanik.
Ke depan, ia juga punya rencana panjang. Dia bakal mengumpulkan informasi dari siswa tentang menu makanan sehat pilihan. Bila cocok, menu itu akan ia jadikan sajian baru di lapaknya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/23/c6517b9ad4d3a1533db4389df0704734-FAK_7566.jpg)
Pembimbing Pokja Kantin SMKN 57 Jakarta, Euis Kastuti, menambahkan, harga makanan di kantin sehat ini tidak lebih mahal dibandingkan sebelumnya.
Harga disesuaikan dengan kantong siswa. Setiap porsi tidak lebih dari Rp 20.000 per porsi.
Selain itu, komposisi makanan diatur agar rendah garam, gula, minyak, dan lemak. Sekolah juga melakukan sosialisasi kepada orangtua siswa melalui grup Whatsapp untuk mendukung penerapan kantin sehat di lingkungan sekolah.
Guru sekaligus pembimbing Pokja Kantin di SMKN 57 Jakarta lainnya, Trismiati, menjelaskan, kantin dirancang sebagai ruang terbuka (open space) yang ramah dan nyaman bagi siswa.
Sebelum meraih predikat kantin sehat, sarana itu telah melewati proses seleksi ketat selama kurang lebih dua bulan. Setelah dinyatakan memenuhi standar, kantin dijadikan percontohan. Nantinya, kantin di SMKN 57 Jakarta akan segera direnovasi Pemprov Jakarta.
”Desain rancangan sudah selesai dan saat ini kami menunggu proses renovasi dimulai,” ujarnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/23/34d1961e114743baf52b10c08364299e-FAK_7542.jpg)
Kepala Dinas Pendidikan Jakarta, Nahdiana, menjelaskan, revitalisasi kantin telah dimulai di tiga sekolah percontohan. Selain SMKN 57 Jakarta, kantin sehat ada di SMKN 63 Jakarta dan SMA Unggulan MH Thamrin Jakarta.
Setiap sekolah menerapkan konsep yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing. Program ini juga dilakukan untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis.
Program ini dijalankan dengan kerja sama antara disdik, dinkes, dan para ahli gizi. Mereka membimbing para penjual makanan agar menu yang disajikan memenuhi komposisi gizi seimbang serta aman dikonsumsi siswa.
Setiap kantin sehat didampingi tim ahli gizi dan koki profesional yang memberikan pelatihan tentang penyusunan menu bergizi, pengelolaan limbah makanan, dan tata kelola kantin secara keseluruhan.
Selain itu, program ini mendorong penggunaan bahan baku lokal, termasuk hasil kebun sekolah dan komunitas. Siswa juga diajarkan konsep urban farming sebagai bagian dari pembelajaran langsung tentang ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan.
Ke depan, kantin sehat akan diperluas ke seluruh sekolah di Jakarta, khususnya yang memiliki fasilitas terbatas. Harapannya, program ini mampu meningkatkan kualitas gizi siswa, mendukung pola hidup sehat, serta menciptakan lingkungan sekolah yang bersih dan aman.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/23/a56b68ba7f6b7a77b100cddb0921c0a1-FAK_7502.jpg)
Wakil Ketua DPRD Jakarta Ima Mahdiah juga menyampaikan harapannya agar program kantin sehat dapat merata di seluruh sekolah. Ia menilai keberadaan kantin sehat layak menjadi contoh bagi sekolah lain agar gizi peserta didik terpenuhi dengan baik.
”Saya mengapresiasi Pemprov dan disdik atas peluncuran program kantin sehat ini. Dimulai dari tingkat sekolah, kita persiapkan agar gizi anak-anak tercukupi,” ujarnya.
Ima menambahkan, terpenuhinya gizi akan berdampak positif pada perkembangan otak dan fisik anak sehingga mereka bisa tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang lebih baik.
”Ketika anak-anak hidup sehat, mereka memiliki potensi menjadi generasi yang lebih unggul,” tuturnya.
Ia juga mengimbau agar sekolah yang ingin menerapkan kantin sehat harus memenuhi syarat dan standar yang telah ditetapkan disdik dan dinkes.
Syarat-syarat ini, antara lain, pengelola kantin harus menggunakan penutup kepala, masker, dan memperhatikan tata letak kantin agar tidak berdekatan dengan tempat penampungan sampah atau toilet. Selain itu, kualitas air dan sanitasi yang di sekolah juga harus layak.
”Kami akan merangkul semua sekolah, tetapi tentunya harus sesuai dengan SOP yang berlaku,” katanya.
Penulis:
Atiek Ishlahiyah Al HamasyEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase