Kapolrestabes Semarang Minta Maaf atas Insiden Penembakan Gamma, DPR Mendesak Usut Tuntas

Kapolrestabes Semarang Komisaris Besar Irwan Anwan menilai anak buahnya, Aipda Robig, teledor sehingga tembakannya menewaskan Gamma, pelajar SMKN 4 Semarang.

03 Des 2024 13:36 WIB · Politik & Hukum

Oleh Dian Dewi Purnamasari

JAKARTA, KOMPAS — Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Semarang Komisaris Besar Irwan Anwar mengaku siap bertanggung jawab, dievaluasi, dan menerima konsekuensi akibat tindakan anak buahnya, Ajun Inspektur Dua Robig Zaenudin, yang telah menembak mati pelajar SMKN 4 Semarang, Gamma Rizkinata Oktafandy (17). Sementara itu, Komisi III DPR mendesak agar kasus penembakan Gamma diusut tuntas.

Saat dipanggil Komisi III DPR untuk menjelaskan kasus penembakan Gamma, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (3/12/2024), Irwan Anwar mengakui tindakan anak buahnya, Ajun Inspektur Dua Robig, telah mengabaikan prinsip-prinsip penggunaan kekuatan.

”Kami mengucapkan sekali lagi belasungkawa kami atas nama kepolisian Kapolrestabes Semarang atas berpulangnya ananda Gamma akibat tidak profesionalnya anggota kami,” kata Irwan.

Sebagai atasan dari Ajun Inspektur Dua Robig, ia memohon maaf sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat, khususnya warga Semarang dan keluarga besar Gamma. Segala tindakan anggota dan anak buahnya yang menyebabkan kematian warga sipil itu, lanjutnya, telah mengabaikan prinsip-prinsip penggunaan kekuatan.

Kepala Polrestabes Semarang Kombes Irwan Anwar mendengarkan pertanyaan anggota Komisi III DPR saat rapat dengar pendapat di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/12/2024). Komisi III memanggil Kapolrestabes Semarang untuk menjelaskan terkait kasus penembakan polisi terhadap pelajar SMK di Semarang. Dalam forum itu Kapolrestabes Semarang menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas insiden penembakan pelajar SMK yang dilakukan oleh anggotanya. Dia mengakui peristiwa tersebut terjadi akibat tindakan tidak profesional yang dilakukan oleh salah satu anggotanya. Kompas/Hendra A Setyawan

Selain itu, Ajun Inspektur Dua Robig dinilai telah abai dalam menilai situasi, teledor dalam menggunakan senjata api, dan telah melakukan tindakan berlebihan yang tidak perlu atau excessive action. ”Sepenuhnya, saya bertanggung jawab. Saya siap dievaluasi, apa pun bahasanya, saya siap menerima konsekuensi dari peristiwa ini,” ujarnya.

Kepala Bidang Profesi dan Pengamanan (Kabid Propam) Kepolisian Daerah (Polda) Jateng Komisaris Besar Aris Supriyono mengatakan, dari hasil pemeriksaan, Ajun Inspektur Dua Robig mengakui ada empat tembakan yang dilepaskannya, yang salah satunya menewaskan Gamma.

”Penembakan tidak terkait pembubaran tawuran dan anggota ini benar-benar mau pulang dari kantor dan bertemu satu kendaraan yang dikejar tiga kendaraan. Terduga pelanggar (Aipda Robig) lalu menunggu tiga orang itu putar balik (di Alfamart) sehingga terjadi penembakan,” tuturnya.

Selain mengenai Gamma, satu tembakan lainnya mengenai dua anak, yakni berinisial MS (16) yang terkena luka tembak di tangan dan APH (17) yang terserempet tembakan di dada. Adapun satu tembakan merupakan tembakan peringatan. Satu tembakan lainnya tidak mengenai siapa pun.

Rekaman kamera pemantau saat Ajun Inspektur Dua Robig melepaskan empat kali tembakan yang salah satunya menewaskan Gamma (17), di Semarang, dipaparkan jajaran Polda Jateng dan Polrestabes Semarang di hadapan Komisi III DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (12/3/2024).
Video tawuran dua geng sebelum penembakan Gamma oleh Aipda Robig, dipaparkan ke hadapan Komisi III DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (3/12/2024).
Video tawuran dua geng sebelum penembakan Gamma oleh Aipda Robig, dipaparkan ke hadapan Komisi III DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (3/12/2024).
Sketsa tawuran dua geng sebelum penembakan Gamma (17) oleh Aipda Robig, di Semarang, dipaparkan ke Komisi III DPR, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (3/12/2024).

Kini, menurut Aris, Ajun Inspektur Dua Robig tengah dalam penempatan khusus atau prosedur yang diterapkan kepada anggota Polri yang diduga melanggar disiplin atau kode etik. Menurut Aris, hari ini sudah mulai digelar sidang kode etik terhadapnya, tetapi diputuskan ditunda besok.

Adapun mengenai penetapan tersangka terhadap terduga penembak Gamma, Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Jateng Ajun Komisaris Besar Helmi mengatakan, proyektil peluru yang bersarang di tubuh Gamma tengah dicek di Pusat Laboratorium Forensik dan disesuaikan dengan senjata api Ajun Inspektur Dua Robig.

”Malam nanti, kami olah TKP (tempat kejadian perkara) untuk menggambarkan peristiwa yang terjadi. Setelah olah TKP dan mendapat keterangan ahli, barulah kami tetapkan tersangka dalam kasus ini,” ujar Helmi.

Kronologi kejadian

Sebelum terjadi penembakan, menurut Helmi, sempat terjadi tawuran di antara geng Seroja dan Tanggul. Personel geng Seroja sempat dikejar sejumlah anggota geng Tanggul.

Suasana rapat dengar pendapat Komisi III DPR dengan Kepala Polrestabes Semarang Kombes Irwan Anwar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (3/12/2024). Komisi III memanggil Kapolrestabes Semarang untuk menjelaskan terkait kasus penembakan polisi terhadap pelajar SMK di Semarang. Dalam forum itu Kapolrestabes Semarang menyampaikan permintaan maaf secara terbuka atas insiden penembakan pelajar SMK yang dilakukan oleh anggotanya. Dia mengakui peristiwa tersebut terjadi akibat tindakan tidak profesional yang dilakukan oleh salah satu anggotanya. Kompas/Hendra A Setyawan

Di tengah kejar-kejaran itu atau sekitar pukul 00.10 WIB, Minggu (24/11/2024), mereka berpapasan dengan Ajun Inspektur Dua Robig dari Polsek Gunungpati, Semarang, yang dalam perjalanan pulang, di depan Alfamart, Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Motor Ajun Inspektur Dua Robig bahkan sempat harus keluar dari badan jalan akibat kejar-kejaran itu, plus anggota geng membawa senjata tajam.

Ia pun memutuskan menghentikan kendaraannya, seraya berharap para pesepeda motor tersebut kembali melalui jalan yang sama. Benar saja, mereka kembali, tetapi tinggal tersisa tiga pesepeda motor karena motor yang dibawa oleh anggota geng Seroja kabur masuk ke gang yang berada sekitar 100 meter dari lokasi Alfamart.

Saat ketiga motor melintas dengan kecepatan tinggi itulah, Aipda Robig melepaskan empat tembakan dari senjata apinya. Helmi mengatakan, tembakan pertama merupakan tembakan peringatan ke atas. Ajun Inspektur Dua Robig juga sempat berteriak, menjelaskan bahwa dirinya polisi, tetapi tidak digubris. Dari rekaman kamera pemantau, ia sempat terlihat diserempet oleh salah satu pengendara sepeda motor.

Siswa SMK Negeri 4 di depan karangan bunga ucapan duka meninggalnya Gamma Rizkynata Oktafandy (17) yang ditembak polisi beberapa hari lalu di Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (26/11/2024). Dukungan serta simpati masyarakat dan warganet terus mengalir atas tragedi penembakan yang dilakukan anggota polisi hingga menyebabkan satu meninggal, dan dua mengalami luka-luka. Masyarakat menuntut peristiwa tersebut diungkap sesuai kebenaran dan faktanya. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 26-11-2024

Komisi III DPR pun mendesak Bidang Profesi dan Pengamanan Polda Jawa Tengah, Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Tengah, dan Kapolrestabes Semarang untuk mengusut tuntas kasus penembakan terhadap Gamma secara profesional, transparan, dan akuntabel. Semua pelaku yang terlibat pun diminta untuk diungkap.

”Komisi III DPR meminta Kapolrestabes Semarang untuk mengoptimalkan peran harkamtibmas, khususnya dalam meningkatkan pola pembinaan perilaku remaja di Kota Semarang dengan tujuan untuk mencegah maraknya tindak kriminal yang dilakukan oleh remaja,” tutur Ketua Komisi III DPR Habiburokhman.

Rapat dengar pendapat di Komisi III DPR tersebut seharusnya juga dihadiri oleh pihak keluarga korban. Menurut Habiburokhman, undangan sudah disampaikan kepada pihak keluarga. Namun, karena masih berduka dan disibukkan dengan upacara pemakaman Gamma, keluarga urung hadir. Alhasil, Komisi III DPR hanya mendengar penjelasan satu pihak dari jajaran Polrestabes Semarang.

”Keluarga mungkin masih dalam konsentrasi terkait musibah yang dialami. Mungkin ada pengajian dan lain sebagainya sehingga waktunya tidak sempat mereka hadir hari ini. Tapi, atensi-atensi mereka sudah kami dapat semua, termasuk dari rekan-rekan media yang tadi disampaikan oleh anggota. Di antaranya yang terpenting adalah apakah malam itu terjadi tawuran atau tidak, tadi sudah dijelaskan,” paparnya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Dian Dewi Purnamasari
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra