Setelah api melahap kawasan hutan Tele dan Pusuk Buhit Samosir, api muncul di hutan Tongging Karo, dan kawasan Sibaganding di Simalungun.
10 Jul 2025 19:07 WIB · Lingkungan
MEDAN, KOMPAS — Kebakaran hutan dan lahan terjadi di sejumlah daerah di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Setelah api melahap kawasan hutan Tele dan Pusuk Buhit Samosir, api muncul di hutan Tongging Karo, dan kawasan Sibaganding di Simalungun. Kebakaran hutan dan lahan dengan pola yang sama selalu terjadi setiap tahun tanpa ada solusi.
”Kebakaran di kawasan Danau Toba telah menghancurkan ekosistem serta mengancam keberadaan tanaman endemik dan hewan langka. Harusnya ini menjadi perhatian serius penyelamatan Danau Toba yang merupakan anggota UNESCO Global Geopark,” kata Ketua Pusat Studi Geopark Indonesia Wilmar Eliazer Simandjorang, Kamis (10/7/2025).
Kebakaran hutan dan lahan mulai meluas di kawasan Danau Toba sejak musim kemarau awal Juli. Kebakaran bahkan meluas hingga ke sejumlah destinasi pariwisata seperti di Menara Pandang Tele, Desa Partungko Naginjang, Kecamatan Harian, Samosir.
Api sempat meluas ke Jalan Pangururan-Tele yang merupakan akses jalan darat satu-satunya ke Pulau Samosir. Aktivitas pariwisata di kawasan itu sempat ditutup demi keselamatan dan upaya pemadaman api.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/10/b42d59d6-dc4b-490a-b25d-30555a2c2e29_jpg.jpg)
Api akhirnya bisa dipadamkan oleh petugas dari Manggala Agni, TNI, Polri, dan aparat Pemerintah Kabupaten Samosir. Menurut data Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sumut, lebih dari 150 hektar lahan terbakar di kawasan Tele.
Kebakaran juga terjadi di kawasan Hutan Tongging di Kabupaten Karo. Api melahap lebih dari 30 hektar hutan dan lahan di Tongging. Kawasan itu juga merupakan kawasan rawan karhutla yang hampir terbakar setiap tahun.
Api juga kini muncul di kawasan hutan di Nagori (Desa) Sibaganding, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Simalungun. Lokasi kebakaran hanya berjarak sekitar 300 meter dari permukiman dan jalan nasional.
Wilmar yang juga pegiat lingkungan Danau Toba mengatakan, kebakaran hutan dan lahan selalu terjadi setiap tahun di sejumlah daerah di kawasan Danau Toba, khususnya di kawasan lereng bukit yang didominasi tumbuhan ilalang dan semak belukar.
Risiko kebakaran kian besar karena topografi bukit terjal. Masyarakat sering membuka lahan dengan pembakaran. Pembukaan kawasan hutan lindung yang digarap masyarakat juga kian luas.
Wilmar menyebutkan, Gubernur Sumut Bobby Nasution harus memimpin langsung upaya mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Beberapa hal yang perlu dilakukan yakni mengubah vegetasi ilalang dan semak belukar yang rawan terbakar dengan vegetasi yang lebih tahan api.
Upaya ini sudah dimulai oleh Wilmar dengan menanam pohon makadamia yang lebih tahan api dan juga menghasilkan kacang-kacangan yang mempunyai nilai ekonomi. ”Pemerintah juga harus membuat pengolahan lahan yang lebih baik,” ujar Wilmar.
Selain itu, penegakan hukum juga harus dilakukan. Hal ini sangat penting karena pembakaran lahan sering sekali menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan. ”Sistem pelaporan dan penegakan hukum kasus kebakaran yang besar harus dilakukan,” kata Wilmar.
Wilmar menyebutkan, sejumlah langkah jangka pendek juga harus segera diambil. Pertama, pemerintah harus segera membangun sistem hidran air di sekitar area rawan kebakaran. Hal ini sangat membantu memadamkan api dengan lebih cepat dan efektif, khususnya di lereng bukit yang terjal dan sulit dijangkau mobil pemadam.
Sistem pelaporan dan penegakan hukum kasus kebakaran yang besar harus dilakukan.
Kedua, pemerintah seharusnya menyiapkan helikopter di kawasan Danau Toba khususnya saat musim kemarau. Penggunaan helikopter dapat membantu memadamkan api di daerah yang sulit dijangkau oleh petugas dari darat.
Ia mengingatkan bahwa kawasan Danau Toba merupakan kawasan strategis nasional dan destinasi pariwisata superprioritas. Geopark Kaldera Toba juga merupakan anggota UNESCO Global Geopark (UGGp) dan sedang dalam tahap penilaian ulang.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/07/10/919f180c-a740-422e-9c40-434482a418ee_jpg.jpg)
Konservasi lingkungan hidup adalah satu dari tiga pilar utama pembangunan berbasis geopark, selain edukasi dan pembangunan ekonomi masyarakat. Geopark hidup dalam prinsip Memuliakan Bumi, Menyejahterakan Rakyat.
”Namun, yang terjadi kebakaran berkali-kali terjadi dan terjadi di Geosite Pusuk Buhit, Geosite Tele, Geosite Silalahi, Geosite Haranggaol, dan Geosite Tipang Bakkara,” kata Wilmar.
Kepala Bidang Perlindungan, Penegakan Hukum, dan Peningkatan Kapasitas Dinas Lingkungan Hidup Pemprov Sumut Zainuddin Harahap mengatakan, kebakaran terjadi di sejumlah lereng bukit di Danau Toba sejak memasuki musim kemarau Juli ini.
Kebakaran paling luas terjadi di kawasan hutan tele, yakni lebih dari 150 hektar. ”Kawasan itu sangat rawan terbakar karena didominasi ilalang,” kata Zainuddin.
Zainuddin mengatakan, tim dari Dinas LHK Sumut, pemerintah kabupaten se-kawasan Danau Toba, aparat TNI, dan Polri, bersiaga untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Tantangan terbesar yang dihadapi petugas, kebakaran terjadi di bukit terjal yang sangat sulit dijangkau petugas. Di beberapa tempat, petugas berjalan kaki dan berupaya memadamkan api dengan memukul-mukul api agar tidak meluas.
Penulis:
Nikson SinagaEditor:
Irma TambunanPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase