Kasper Hjulmand semestinya jadi sosok paling tepat untuk memimpin Leverkusen di masa transisi seusai kehebohan pemecatan Ten Hag. Namun, trauma masa lalu menghantui.
09 Sep 2025 07:23 WIB · Olahraga
LEVERKUSEN, SENIN — Bayer Leverkusen resmi menunjuk Kasper Hjulmand sebagai suksesor dari Pelatih Erik ten Hag yang dipecat hanya setelah dua laga. Dengan gaya kepemimpinan yang berbanding terbalik ketimbang Ten Hag, Hjulmand membawa optimisme sekaligus rasa trauma.
Hjulmand diumumkan menjadi pelatih baru Leverkusen pada Senin (8/9/2025) malam WIB. Mantan pelatih tim nasional sepak bola Denmark itu diikat kontrak hingga Juni 2027. ”Setelah kesuksesan klub di masa lalu, saya termotivasi dengan tugas membentuk masa depan Leverkusen,” katanya, seperti dikutip situs resmi Leverkusen.
Keputusan para petinggi Leverkusen cukup mengejutkan. Mereka memilih Hjulmand yang terakhir kali melatih klub pada 2019 dan juga sudah menganggur lebih dari setahun. Padahal, banyak pelatih kawakan yang tersedia saat ini, antara lain, Ange Postecoglou dan Xavi Hernandez.
Penjelasan CEO Leverkusen Fernando Carro membuat keputusan itu masuk akal. Baginya, Hjulmand tidak hanya memiliki pemahaman sepak bola mumpuni, tetapi juga bisa menjadi sosok penyatu di masa transisi. ”Tim akan diuntungkan dengan gaya Kasper yang transparan, komunikatif, dan penuh empati,” ujarnya.
Berbagai gaya kepelatihan itu tidak dimiliki Ten Hag dan menjadi alasan pemecatan sang pelatih. Dia dinilai tidak bisa menjalin komunikasi yang baik dengan klub ataupun pemain. Dikenal ”bertangan besi”, dia seolah berjalan sendiri di tengah masa sulit Leverkusen setelah ditinggal Xabi Alonso.
Ten Hag sempat menyatakan klub tidak akan melepas gelandang veteran Granit Xhaka pada musim panas ini. Mereka sudah kehilangan banyak pemain kunci. Namun, menurut BBC Sport, pihak klub ternyata sudah bersepakat membiarkan Xhaka pergi jika ada tawaran yang tepat.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/06/22/FBL-EURO-2020-2021-MATCH27-RUS-DEN_97107294_1624371339_jpg.jpg)
Sang pelatih asal Belanda juga mengkritik pemainnya di media karena kurang bugar pada awal musim. Dia mengeluarkan karakter blak-blakan yang sempat menimbulkan masalah di Manchester United. Masalah serupa terulang, Ten Hag kehilangan rasa hormat dari para pemain Leverkusen.
Gaya kepelatihan itu berbanding terbalik dengan Hjulmand yang dikenal ramah dan santai. Dia mengutamakan sisi manusia di atas sepak bola. Pelatih 53 tahun itu pun selalu memiliki hubungan yang sangat dekat dengan para pemain, termasuk saat menukangi Denmark selama empat tahun.
Hjulmand merasakan ujian terbesar di awal Piala Eropa 2020. Ketika itu, pemainnya, Christian Eriksen, pingsan di lapangan karena serangan jantung dalam laga pembuka versus Finlandia. Para pemain lain larut dalam kesedihan dan kesulitan untuk kembali fokus ke sepak bola.
Namun, Hjulmand berhasil menjadikan insiden buruk tersebut sebagai pelecut semangat timnya. Dia berbicara dari hati ke hati dengan para pemain dan saling berbagi kesedihan. Cara itu menjadikan tim semakin solid. Denmark mampu bangkit dan berhasil melaju jauh hingga semifinal.
”Yang membuat Anda seorang pelatih yang unik adalah Anda melihat manusia lebih dulu. Anda menyelamatkan kami dari badai (saat insiden Eriksen) dan memberi perasaan bahwa kami akan baik-baik saja,” kata kapten tim Denmark, Simon Kjaer, kepada Hjulmand setelah Piala Eropa.
Di sisi lain, pendekatan yang cenderung santai itu juga mengembalikan rasa trauma dari pengalaman sang pelatih. Hjulmand pernah sekali melatih tim Liga Jerman pada 2014, yaitu Mainz 05. Kisah itu berakhir tragis. Dia dipecat hanya setelah 24 pertandingan, sekitar tujuh bulan usai direkrut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/03/27/f6809db7-bd9d-4d18-846f-1db5bc46f45e_jpg.jpg)
Hjulmand dipecat karena hanya menang sekali dalam 13 laga dan Mainz terpaut satu poin dari zona degradasi. Pihak Mainz memutuskan Hjulmand bukan sosok yang tepat untuk mengeluarkan klub dari krisis. Sang pelatih terlalu tenang dan kurang solutif di tengah masalah bertubi-tubi.
Ketika itu, seperti Leverkusen, Mainz juga sedang berada dalam momen transisi. Mereka baru saja kehilangan Pelatih Thomas Tuchel yang sukses membawa kesuksesan selama lima tahun. Hjulmand dibebani ekspektasi yang sangat tinggi dari klub ataupun para penggemar.
Di Leverkusen nanti, tugas Hjulmand semakin berat karena harus mewarisi tim dari Ten Hag yang masih jauh dari sempurna. Leverkusen kehilangan banyak pemain kunci di musim panas, antara lain Xhaka dan Florian Wirtz. Mereka mendatangkan belasan pemain baru yang masih butuh adaptasi.
Adapun Hjulmand merupakan mantan pesepak bola yang terpaksa pensiun di usia 26 tahun. Dia memulai karier kepelatihan di usia yang sangat muda, yaitu menjadi pelatih tim muda Lyngby BK sejak 1998. Kariernya mulai melejit setelah pindah ke klub divisi pertama Denmark pada 2008.
Dari asisten pelatih, Hjulmand naik menjadi pelatih hanya dalam tiga tahun. Prestasi terbesarnya dalam karier klub adalah membawa Nordsjaelland menjadi juara Liga Denmark untuk pertama kali pada 2012. Sang pelatih menyudahi dominasi tim raksasa Copenhagen.
Di timnas, Hjulmand mencapai puncak prestasi saat Piala Eropa 2020. Dia mengantar negaranya kembali ke semifinal turnamen besar setelah terakhir kali pada 1992. Adapun Hjulmand seharusnya menjabat setelah Piala Eropa berakhir, tetapi turnamen ditunda setahun akibat pandemi Covid-19. (AP/REUTERS)
Penulis:
Kelvin HianusaEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto