Dugaan Keracunan Paket MBG di Cianjur, Ditemukan Tiga Jenis Bakteri

Ditemukan tiga jenis bakteri dalam pemeriksaan sampel tempat makanan program MBG dalam kasus keracunan ratusan siswa di Cianjur. Salah satunya penyebab diare.

29 Apr 2025 15:59 WIB · Nusantara

Oleh Fabio Maria Lopes Costa

BANDUNG, KOMPAS — Temuan tiga jenis bakteri dalam paket program Makan Bergizi Gratis menjadi indikasi penyebab keracunan 165 siswa di Cianjur pada 21 April 2025. Temuan ini berasal dari hasil pemeriksaan sampel di tempat makanan.

Dari data Kepolisian Resor (Polres) Cianjur, temuan tiga bakteri itu berdasarkan hasil pemeriksaan pada wadah makanan paket Makan Bergizi Gratis (MBG). Wadah makanan ini ada di dapur yang menyiapkan program MBG bagi para siswa yang mengalami keracunan.

Bakteri yang ditemukan dari pemeriksaan sampel di wadah makanan ini adalah Staphylococcus sp, Escherichia coli, dan Salmonela sp. Diketahui, bakteri Escherichia coli dapat menyebabkan sakit diare.

”Temuan sejumlah bakteri ini berdasarkan hasil pemeriksaan sampel di tempat makanan oleh petugas Laboratorium Kesehatan Daerah Kabupaten Cianjur,” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Cianjur Ajun Komisaris Tono Listianto, Selasa (29/4/2025).

Kepala Satuan Reskrim Polres Cianjur Ajun Komisaris Tono Listianto menunjukkan barang bukti dalam kasus keracunan makanan masal di Cianjur yang meyebabkan 165 siswa menjadi korban pada Rabu (23/4/2025) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Ia menuturkan, Polres Cianjur masih menyelidiki dan belum menetapkan tersangka dalam kasus ini. Penyidik pun telah memeriksa 30 saksi dalam kasus keracunan massal yang mengakibatkan 165 siswa menjadi korban.

Para saksi berasal dari pihak satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG), seperti ahli gizi, tim pengemasan, dan pengantar makanan; sejumlah korban; hingga pihak sekolah.

Adapun 165 korban yang mengalami gejala keracunan merupakan siswa dari dua sekolah penerima program MBG. Dua sekolah itu adalah Madrasah Aliyah Negeri 1 Cianjur dan SMP PGRI 1 Cianjur.

Para korban di dua sekolah tersebut mengonsumsi paket makanan MBG pada 21 April 2025. Di SMP PGRI 1 Cianjur, siswa mengonsumsi paket makanan MBG yang terdiri dari nasi, mi goreng, ayam suwir, tempe mendoan, dan semangka.

Tampak salah satu dari 78 siswa yang mengalami keracunan di salah satu rumah sakit di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, pada Senin (21/4/2025).  Diduga siswa mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis.
Quote

Pemeriksaan untuk mengetahui kuman di makanan yang memicu siswa yang mengalami keracunan.

Selang beberapa jam, para korban mengalami gejala yang sama, seperti muntah, pusing, dan diare. Mereka pun dirawat di sejumlah rumah sakit, klinik, dan puskesmas setempat.

”Saat ini kami belum dapat menyimpulkan penyebab utama kasus keracunan di dua sekolah ini. Sebab, kami juga masih menunggu hasil pemeriksaan sampel makanan di Laboratorium Kesehatan Daerah Jawa Barat di Bandung,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jabar Rochady Hendra Setya Wibawa memaparkan, Dinkes Cianjur telah mengambil sampel makanan dari dapur pihak yang melaksanakan program MBG untuk dua sekolah tersebut. Sampel sedang diperiksa di Laboratorium Kesehatan Daerah Jabar di Bandung.

”Pemeriksaan untuk mengetahui kuman di makanan yang memicu siswa yang mengalami keracunan. Pemeriksaan sampel di Labskesda bisa memakan waktu hingga sepekan,” tuturnya.

Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (13/1/2025). Program ini sudah menjangkau 21.271 pelajar di tingkat TK, SD hingga SMP.

Ia menambahkan, pihak pengelola dapur MBG untuk ke depan harus memiliki sertifikasi dari Dinkes Cianjur tentang cara penyediaan makanan yang higienis. ”Mereka harus mengikuti arahan dari dinkes sehingga kejadian ini tak terulang lagi,” ujarnya.

Gubernur Jabar Dedi Mulyadi meminta penyelenggara program Makan Bergizi Gratis agar lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya. Ia berharap peristiwa keracunan massal yang terjadi di Cianjur tidak terulang lagi.

”Pihak yang menyiapkan makanan harus mempertimbangkan aspek higienitas agar aman dikonsumsi para siswa. Apabila perlu, sebelum siswa mengonsumsinya, harus diperiksa terlebih dahulu,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Fabio Maria Lopes Costa
 | 

Editor:

Irma Tambunan
 | 

Penyelaras Bahasa:

Retma Wati