Di depan layar, Guardiola dan Mancini tercitrakan sebagai sosok pelatih top berkharisma. Meskipun demikian, mereka menyimpan sisi rentan yang jarang diperlihatkan
28 Nov 2024 17:35 WIB · Olahraga
Ruang ganti tim bisa jadi salah satu contoh tepat untuk menggambarkan betapa kekuasaan besar akan selalu beriringan dengan tanggung jawab yang besar pula. Itulah yang kini dirasakan Pep Guardiola bersama Manchester City. Setelah nirkemenangan dalam enam laga terakhir, Guardiola mulai menunjukkan sisi rentannya ke publik.
Sebagai pelatih genius, tidak ada yang menyangka Guardiola bisa jatuh hingga ke palung yang terdalam seperti saat ini. Guardiola punya segala yang dibutuhkan para pelatih top dunia. Kemampuan kepemimpinanannya, variasi taktik, dan kelihaian menumbuhkan motivasi pemain adalah beberapa faktor yang membuat Guardiola begitu istimewa dibandingkan pelatih-pelatih lainnya.
Guardiola pun dibekali skuad mewah di City. Para pemain bintang patuh di hadapannya. Ruang ganti tim adalah otoritas penuh dari Guardiola. Namun, musim ini tidak berjalan semulus biasanya. City tertinggal hingga delapan poin dari Liverpool di puncak klasemen Liga Inggris.
Kiprah City di Liga Champions Eropa juga tidak terlalu mengesankan. Pada pertandingan terakhir, ”The Citizens” gagal bangkit dari tren minor setelah ditahan imbang Feyenoord 3-3 di kandang sendiri.
Belum pernah Guardiola sebuntu ini. Dia kini sudah tidak pernah merasakan kemenangan dalam enam laga beruntun di seluruh kompetisi. City hanya mampu menyarangkan tujuh gol dan kebobolan sebanyak 17 kali dalam enam laga tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/8c71e212-fdd3-4124-9f7a-c586528908a8_jpg.jpg)
Oleh karena itu, saat dahi Guardiola terdapat sejumlah bekas goresan, spekulasi pun berkembang terkait kondisinya. Media ramai-ramai mengonfirmasi bekas goresan itu pada sesi konferensi pers seusai menghadapi Feyenoord.
”Dengan jari saya, kuku saya, saya ingin melukai diri saya sendiri,” ucap Guardiola menjawab pertanyaan terkait bekas goresan di dahi dan wajahnya.
Akan tetapi, jawaban Guardiola justru kembali menghadirkan masalah. Alasannya, Guardiola menjawabnya sembari tertawa dan bercanda. Respons seperti itu dinilai melecehkan orang-orang yang menderita permasalahan mental. Guardiola pun buru-buru mengklarifikasi ucapannya.
Meninggalkan tim nasional Italia adalah sebuah kesalahan dan kesalahan yang tidak akan saya lakukan lagi. (Roberto Mancini)
Bekas goresan kuku pada wajah Guardiola mencerminkan betapa hebat tekanan sebagai pelatih sepak bola top Eropa. Sedikit saja meraih hasil buruk, reputasi serta karier menjadi taruhannya. Di samping itu, Guardiola memang tipikal pelatih yang sangat perfeksionis sekaligus ekspresif.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/28/0def9a7e-0301-4458-a047-e4a3152afaef_jpg.jpg)
Para penggemar sepak bola masih ingat jelas bagaimana ekspresi ikonik Guardiola ketika City menghadapi Spurs. Kala itu, penyerang Spurs, Son Heung-min, mendapatkan kesempatan emas untuk mencetak gol, tetapi mampu digagalkan kiper City. Guardiola, yang teramat tegang, sampai jatuh dan terkapar lemas menyaksikan gawang timnya terancam.
Maka dari itu, bukan sesuatu yang terlalu mengejutkan jika kali ini Guardiola sampai melukai dirinya setelah City didera serangkaian hasil buruk. Sebagian orang barangkali menilai itu tindakan yang berlebihan, tetapi itulah Guardiola.
Sebagaimana kebanyakan orang, dia juga memiliki sisi rentan. Di balik sosoknya sebagai pelatih kharismatik, Guardiola tetaplah manusia biasa yang tidak sempurna.
Lain Guardiola, lain pula apa yang dialami mantan pelatih timnas Italia dan Arab Saudi, Roberto Mancini. Jika Guardiola punya sisi rentan yang tersandera dari pikirannya yang perfeksionis, Mancini selayaknya remaja labil bagaikan air di daun talas.
Pada Kamis (28/11/2024) dini hari WIB, Mancini mengutarakan penyesalannya saat meninggalkan timnas Italia, lalu memilih menangani Arab Saudi. Berpredikat sebagai pelatih termahal di dunia, ditambah pernah menjuarai Piala Eropa bersama Italia, bukan jaminan Mancini akan meraih sukses bersama Arab Saudi.
Mancini hanya memimpin Arab Saudi dalam 18 pertandingan sebelum akhirnya dipecat. Dalam karier kepelatihannya, inilah masa bakti tersingkat Mancini.
Setelah tidak lagi dibutuhkan Arab Saudi, Mancini belum mendapatkan klub baru. Dalam wawancara bersama surat kabar Italia, Giornale, Mancini mengungkapkan rasa penyesalannya telah memilih mundur dari kursi pelatih timnas Italia.
”Meninggalkan tim nasional Italia adalah sebuah kesalahan dan kesalahan yang tidak akan saya lakukan lagi,” kata Mancini.
Alih-alih sebagai pelatih top yang pernah menangani klub serta timnas yang besar, dengan berkata seperti itu, Mancini tampak tidak lebih seperti remaja tanggung yang bersedih atas kebodohannya pada masa lalu.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/07/13/efb087f5-f7dc-4f90-9145-ed35e0e36ede_jpeg.jpg)
Begitulah industri sepak bola bekerja. Siapa pun yang tampak kuat sebenarnya punya sisi yang amat rentan di belakangnya. Semakin terang sebuah foto, kian gelap pula negatif filmnya. Pelatih tidak imun terhadap situasi buruk. Mereka juga kerap tertekan kondisi dan situasi.
Untuk apa yang dialami Guardiola dan Mancini, penyair kenamaan Uruguay, Eduardo Galeano, pernah menuliskan nasib para pelatih sepak bola dengan begitu puitis. Menurut Galeano, seorang pelatih tiada ubahnya seperti barang konsumtif kebanyakan.
Mereka bisa sewaktu-waktu tergilas roda industri hiburan dan dibuang jika sudah tidak dibutuhkan.
Guardiola barangkali dielu-elukan pada saat ini. Begitu tren penurunan performa City kian parah, bukan tidak mungkin dia bisa menjelma sosok yang paling dimusuhi fans City di kemudian hari.…
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Yulvianus Harjono