Keajaiban Pesan dalam Botol

Surat dalam botol yang sampai seabad kemudian.

31 Okt 2025 15:33 WIB · Internasional

AP/Deb Brown

Oleh Ignatius Danu Kusworo

Botol kaca kecil bermerek Schweppew itu mengambang dipermukaan air bersama sampah lain di Pantai Wharton yang berada dekat Esperance di Negara Bagian Australia Barat. Peter dan putrinya, Felicity, menemukan botol itu saat mengumpulkan sampah di pantai, Kamis (9/10/2025).

Keluarga Brown memang mempunyai kebiasaan membersihkan sampah yang ada di sekitar Pantai Wharton, seperti hari saat mereka menemukannya. ”Kami sering membersihkan pantai, jadi tak pernah melewatkan secuil sampah pun.” Botol kecil itu tak luput dari aksi bersih-bersih mereka hari itu.

Saat memilah sampah, Deb Brown tertarik dengan kertas kecil yang berada didalam botol kaca dam membukanya. Kertasnya basah, tetapi tulisannya masih terbaca.

Sebuah surat yang ditemukan dalam sebuah botol di Condingup, Australia, Sabtu, (25/10/2025).

Pesan itu ternyata ditulis oleh dua tentara Australia, Prajurit Malcolm Neville, yang saat itu berusia 27 tahun dan William Harley, yang berusia 37 tahun. Kertas kecil itu ditulis dengan pensil dan tertanggal 15 Agustus 1916.

Naville dan Harley dalam pelayaran ke medan perang Prancis di Perang Dunia I. Kapal pengangkut pasukan mereka, HMAT A70 Ballarat, telah meninggalkan ibu kota negara bagian Australia Selatan, Adelaide, di sebelah timur pada tanggal 12 Agustus tahun itu.

Mereka dalam perjalanan panjang ke seberang dunia di mana tentaranya akan memperkuat Batalyon Infanteri Australia ke-48 di Front Barat Eropa. Neville tewas dalam pertempuran setahun kemudian. 

Foto Deb Brown ini menunjukkan sebuah botol dengan kertas di dalamnya di Condingup, Australia, Sabtu, (25/10/2025).

Harley terluka dua kali, tetapi selamat dari perang. Ia meninggal di Adelaide pada tahun 1934 karena kanker yang menurut keluarganya disebabkan oleh gas yang ia hirup dari tentara Jerman di parit. 

Neville meminta penemu botol itu mengantarkan suratnya kepada ibunya, Robertina Neville, di Wilkawatt, Australia Selatan. Harley, yang ibunya telah meninggal pada tahun 1916, senang karena penemunya masih menyimpan suratnya.

Harley menulis, ”Semoga penemunya dalam keadaan baik seperti kami saat ini.” Sementara Neville menulis kepada ibunya bahwa dia ”sedang bersenang-senang, makanannya sejauh ini enak, kecuali satu makanan yang kami kubur di laut.”

”Kapal itu bergoyang-goyang dan bergoyang, tetapi kami sama bahagianya dengan Larry,” tulis Neville, menggunakan bahasa sehari-hari Australia yang berarti sangat bahagia. Neville juga mengabarkan bahwa ia dan rekan-rekannya berada ”Di suatu tempat di Laut”. 

Foto Deb Brown ini menunjukkan sebuah surat yang ditemukan dalam sebuah botol di Condingup, Australia, Sabtu,(25/10/2025).

Harley menulis bahwa mereka berada, ”Di suatu tempat di Teluk” yang merujuk pada Teluk Besar Australia. Teluk itu adalah teluk terbuka yang sangat luas yang bermula di sebelah timur Adelaide dan memanjang hingga Esperance di tepi barat.

Cucu perempuan Harley, Ann Turner, mengatakan, keluarganya benar-benar terkejut oleh penemuan tersebut.

”Kami sungguh tak percaya. Rasanya sungguh seperti keajaiban,” ujar Turner kepada Australian Broadcasting Corp. Sementara keponakan buyut Neville, Herbie Neville, mengatakan, keluarganya menjadi lebih dekat karena penemuan yang sulit untuk dapat dipercaya itu.

Deb Brown menduga botol itu tidak terbawa jauh. Kemungkinan besar botol itu terdampar di pantai selama lebih dari satu abad, terkubur di bukit pasir. Erosi besar-besaran pada bukit pasir akibat gelombang besar di sepanjang Pantai Wharton dalam beberapa bulan terakhir kemungkinan besar telah menggesernya.

Foto Deb Brown ini menunjukkan sebuah botol dengan kertas di dalamnya di Condingup, Australia, Sabtu,(25/10/2025).

Kertasnya basah, tetapi tulisannya masih terbaca. Berkat itu, Deb Brown dapat memberi tahu keluarga kedua prajurit tersebut tentang penemuan tersebut. Dan, pesan itu telah tersampaikan walaupun melewati lebih dari 100 tahun. (AP)

p


Kerabat Kerja

Penulis:

Ignatius Danu Kusworo
 | 

Editor:

Yuniadhi Agung
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto