KAPAL TERBAKAR 

Kebakaran KMP Mutiara Sentosa II Harus Jadi Bahan Evaluasi Menyeluruh

Insiden yang menimpa KMP Mutiara Sentosa II di perairan Sumenep harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap sistem manajemen keselamatan transportasi laut.

03 Agt 2026 17:47 WIB · Nasional

ARSIP DITJEN PERHUBUNGAN LAUT KEMENHUB

Oleh Defri Werdiono

MALANG, KOMPAS — Kebakaran yang menimpa Kapal Motor Penumpang Mutiara Sentosa II di perairan Sumenep, Jawa Timur, harus menjadi bahan evaluasi menyeluruh. Evaluasi harus dilakukan pada penerapan sistem manajemen keselamatan, kepatuhan pemakai jasa, hingga efektivitas pengawasan.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) Khoiri Soetomo, Senin (3/8/2026), saat dimintai tanggapan terkait musibah yang menimpa KMP Mutiara Sentosa II.

”Setiap kecelakaan transportasi, tanpa terkecuali, tentu harus menjadi bahan evaluasi secara menyeluruh. Evaluasi tidak hanya dilakukan terhadap kapal yang mengalami musibah, tetapi juga penerapan sistem manajemen keselamatan, kepatuhan para pemakai jasa, kepatuhan terhadap regulasi, budaya keselamatan perusahaan, serta efektivitas pengawasan dari seluruh pemangku kepentingan,” katanya.

Gapasdap pun mengajak semua pihak menghormati proses investigasi yang sedang dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Investigasi itu dilakukan untuk mengetahui penyebab kebakaran yang terjadi pada kapal yang tengah berlayar dari Surabaya menuju Makassar itu.

Penumpang KMP Mutiara Sentosa II saat dievakuasi dan tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur, Senin (3/8/2026), menggunakan KRI Nala.

Saat ini, kata Khoiri, semua pihak belum bisa menarik kesimpulan terkait penyebab kebakaran. Menurut dia, fokus utama saat ini adalah menyelamatkan korban dan menghormati proses investigasi. Tim investigasi harus diberikan kesempatan agar dapat bekerja secara profesional sehingga penyebab pasti peristiwa tersebut bisa diketahui secara obyektif.

”Terkait perusahaan tertentu ataupun informasi bahwa (perusahaan itu) pernah mengalami kejadian sebelumnya, saya tidak ingin mendahului hasil evaluasi dan investigasi resmi. Kita perlu memberikan kesempatan kepada KNKT dan instansi yang berwenang untuk mengungkap fakta secara obyektif,” katanya.

Apabila hasil investigasi nantinya menemukan aspek yang perlu diperbaiki, baik di sisi operator, regulator, maupun sistem pengawasan secara keseluruhan, Khoiri menyebut, hal itu harus menjadi bahan evaluasi bersama agar peristiwa serupa tidak terulang.

”Bagi Gapasdap, prinsipnya sederhana, setiap kecelakaan harus melahirkan perbaikan sistem. Tujuan akhirnya bukan mencari siapa yang disalahkan, melainkan memastikan standar keselamatan transportasi laut Indonesia terus meningkat dan mampu memberikan perlindungan yang lebih baik kepada masyarakat,” ujarnya.

Penumpang KMP Mutiara Sentosa II saat dievakuasi dan tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Jawa Timur, Senin (3/8/2026), dari atas kapal Selaras Mas.

Khoiri menambahkan, terlepas apa pun hasil investigasi nantinya, setiap musibah harus menjadi pembelajaran bersama untuk memperkuat sistem keselamatan transportasi laut nasional. Peristiwa ini juga diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat sistem keselamatan transportasi laut Indonesia menjadi lebih andal.

”Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia sehingga penguatan budaya keselamatan, peningkatan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, serta penyempurnaan sistem keselamatan secara berkelanjutan harus menjadi komitmen kita bersama,” ucapnya.

Di sisi lain, Khoiri menyampaikan belasungkawa atas peristiwa yang terjadi dan berharap semua korban mendapat penanganan. Dia juga mengapresiasi semua pihak yang terlibat dalam penanganan kecelakaan, termasuk pencarian dan pertolongan terhadap korban.

Pihak yang terlibat antara lain Badan SAR Nasional (Basarnas), TNI Angkatan Laut, Korps Kepolisian Perairan dan Udara, Kesatuan Pengawas Laut dan Pelayaran, Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, sukarelawan, hingga para nakhoda dan awak sejumlah kapal niaga atau kapal tunda.

KMP Mutiara Sentosa II saat terbakar di perairan utara Sumenep, Jatim, Minggu (2/8/2026).

Sementara itu, proses evakuasi terhadap penumpang KMP Mutiara Sentosa II terus berlangsung. Sejak Senin pagi, tim SAR gabungan menerima kedatangan korban selamat ataupun korban meninggal yang dievakuasi secara bertahap ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

Berdasarkan data Kantor SAR Surabaya, hingga Senin pagi, tim SAR gabungan telah mengevakuasi 234 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 229 orang ditemukan dalam kondisi selamat dan 5 orang meninggal.

Pada Senin pukul 05.00 WIB, kapal Selaras Mas sandar membawa 13 penumpang selamat. Tak lama berselang, 5 dari 9 orang yang sebelumnya dievakuasi Kapal Nasional (KN) SAR 249 Permadi melalui Pelabuhan Kalianget tiba di Tanjung Perak. Bersama mereka, satu korban selamat yang lebih dahulu ditemukan nelayan juga dibawa ke Surabaya.

Pukul 06.43 WIB, kapal Mutiara Ferindo I bersandar di Tanjung Perak membawa 8 korban selamat dan 1 korban meninggal. Evakuasi terus berlanjut. Pada pukul 08.40 WIB, KRI Nala-363 sandar di Dermaga Koarmada II dengan membawa 30 korban selamat dan 2 korban meninggal.

Sejumlah penumpang KMP Mutiara Sentosa 2 yang terbakar di perairan utara Madura berhasil dievakuasi. Penumpang dibawa ke Sumenep menggunakan KN SAR 249 Permadi, Minggu (2/8/2026) malam *** Local Caption *** Sejumlah penumpang KMP Mutiara Sentosa 2 yang terbakar di perairan utara Madura berhasil dievakuasi. Penumpang dibawa ke Sumenep menggunakan KN SAR 249 Permadi, Minggu (2/8/2026) malam

Begitu tiba di Tanjung Perak, para penyintas kembali menjalani pemeriksaan kesehatan dan pendataan di Gapura Surya Nusantara. Adapun jenazah korban meninggal dibawa ke RS Bhayangkara Surabaya.

Di tengah proses evakuasi korban ke darat, operasi pencarian korban tetap berlangsung. Koordinator misi pencarian, Nanang Sigit PH, mengatakan, pada Senin pukul 08.15, KN SAR 249 Permadi kembali bertolak dari Pelabuhan Kalianget menuju lokasi kejadian untuk melanjutkan pencarian sesuai rencana operasi SAR.

Quote

Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia sehingga penguatan budaya keselamatan, peningkatan kesiapsiagaan menghadapi keadaan darurat, serta penyempurnaan sistem keselamatan secara berkelanjutan harus menjadi komitmen kita bersama.

Pencarian melibatkan berbagai unsur, antara lain Kapal Polisi (KP) Manyar 5003, Kapal Republik Indonesia (KRI) Bung Hatta-370, Kapal Negara Patroli (KNP) Grantin P211, serta helikopter Direktorat Kepolisian Perairan dan Udara Kepolisian Daerah Jatim.

”Seluruh unsur menyisir area pencarian untuk menemukan tanda-tanda adanya korban yang belum ditemukan,” ujar Nanang.


Kerabat Kerja

Penulis:

Defri Werdiono
 | 

Editor:

Haris Firdaus
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar