Tonggak-tonggak peristiwa yang dijadikan jejak sejarah kebangkitan bangsa tidak lepas dari peran tokoh-tokoh muda.
20 Mei 2025 06:00 WIB · Riset
Generasi muda cenderung lebih memiliki kebangsaan yang lebih pada bangsanya. Meskipun demikian, kelompok muda ini sekaligus memiliki daya kritis terhadap kondisi bangsa.
Temuan ini terangkum dari hasil jajak pendapat Litbang Kompas pada pertengahan April lalu dimana dalam momentum Hari Kebangkitan Nasional ini, publik terbaca memiliki kebanggaaan yang besar sebagai bagian dari Bangsa Indonesia. Kebanggaan tersebut tertuang dari pengakuan mayoritas responden (95,7 persen).
Kebanggaan yang lebih besar terbaca dari kelompok responden yang lebih muda. Hasil jajak pendapat merekam, dari kelompok responden Generasi Z, yakni mereka yang saat jajak pendapat dilakukan berada di rentang usia 17-27 tahun, sebanyak 43 persen di antaranya cenderung menyatakan sangat setuju dengan pengakuan bahwa mereka bangga menjadi warga negara Indonesia.
Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan kelompok responden dari generasi usia di atasnya yang rata-rata mereka yang mengaku sangat setuju dengan pernyataan di atas rata-rata kurang dari 40 persen. Meskipun secara umum dari semua kelompok usia responden ini menyatakan kebanggaan yang relatif sama menjadi bagian dari Indonesia.
Seperti yang sudah dilaporkan Litbang Kompas dalam edisi Kompas 19 Mei 2025, terekam bahwa kebanggaan ini juga diikuti dengan pemaknaan momentum Hari Kebangkitan Nasional yang lebih banyak dominan dimaknai dengan pendekatan historis.
Sepertiga bagian dari responden jajak pendapat (33,3 persen) memaknai kebangkitan nasional saat ini sebagai momentum untuk bangkit dari keterbelakangan ekonomi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/a7ddf1c5-5b22-4a8b-8c5b-a44bcbde1b0f_jpg.jpg)
Hal ini tak lepas dengan kondisi yang dihadapi bangsa saat ini, di antaranya adalah masih tingginya angka kemiskinan dan pengangguran.
Selanjutnya, hampir sepertiga bagian responden lainnya memaknai kebangkitan nasional sebagai momentum untuk lepas dari ketergantungan dari bangsa lain.
Makna berikutnya yang paling banyak disampaikan responden adalah bahwa kebangkitan nasional sebagai momen untuk bangkit dari krisis moral dan nilai. Hal ini disampaikan oleh 23,4 persen responden.
Kemudian sebanyak 10,9 persen responden lainnya menyebut perlunya kebangkitan menjadi momen bagi bangsa ini untuk lepas dari perpecahan sosial.
Hal ini memberikan sinyal ada kerinduan kepada bangsa ini untuk kembali memperkuat kohesi sosial, terutama ketika dihadapkan pada agenda-agenda politik elektoral yang membuat masyarakat terpolarisasi secara politik.
Di isu pemaknaan Hari Kebangkitan Nasional ini, secara latar belakang usia responden tidak menunjukkan perbedaan berarti. Meskipun demikian, jika merujuk penilaian kondisi bangsa Indonesia saat ini, kelompok responden yang lebih muda justru lebih terekam lebih kritis penilaiannya dibandingkan kelompok responden di usia atasnya.
Kecenderungan kelompok responden muda yang lebih kritis menilai kondisi bangsa Indonesia saat ini terbaca dari hasil jajak pendapat Litbang Kompas.
Ketika dihadapkan pada pertanyaan apakah semakin baik, tetap atau semakin burukkah kondisi Indonesia saat ini, mereka yang masuk kelompok responden muda cenderung lebih banyak yang menjawab lebih buruk.
Kecenderungan ini dinyatakan oleh lebih banyak kelompok responden dari Generasi Z (17-27 tahun) dan kelompok responden dari Generasi Y Madya (36-43 tahun).
Dari kelompok Gen Z, sebanyak 44,6 persen menilai kondisi bangsa ini semakin buruk. Hal yang sama dinyatakan oleh kelompok responden Generasi Y Madya dimana sebanyak 47,3 persen dari kelompok ini juga menilainya semakin buruk.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/72881686-41fe-459b-99c4-750220967e46_jpg.jpg)
Sementara itu dari kelompok responden dari generasi lebih senior, yakni Generasi X (44-57 tahun) dan Baby Boomer (58-76 tahun), lebih banyak yang menilai kondisi Indonesia semakin baik, bahkan cenderung sebagian menyatakan tetap alias belum menunjukkan perubahan berarti.
Hal ini memberikan sinyal kondisi bangsa Indonesia, terutama jika dikaitkan dengan isu-isu kebangsaan secara umum memang relatif baik, namun bukan berarti tidak menyimpan polemik dan dinamika.
Kondisi keterbelakangan ekonomi yang dimaknai sebagai momen yang harus bangkit bagi Bangsa Indonesia ini seperti yang disinggung di atas adalah pesan bahwa hal ini menjadi salah satu penopang bagi kohesifitas kondisi bangsa agar lebih baik lagi ke depan.
Tantangan menuntaskan masalah keterbelakangan ekonomi, mulai dari pengangguran dan kesenjangan, sedikit banyak menjadi pekerjaan rumah untuk dituntaskan bersama agar bangsa ini terus menuju ke arah yang lebih baik.
Jajak pendapat Litbang Kompas juga menangkap bahwa salah satu upaya untuk mengantarkan kondisi Indonesia menuju arah yang lebih baik adalah melibatkan anak-anak muda sebagai generasi pewaris perjuangan.
Di momen Hari Kebangkitan Nasional inilah saatnya anak muda disadarkan dan digerakkan kembali untuk mengantarkan agenda kebangsaan kita, seperti yang dicita-citakan saat lahirnya sejumlah peristiwa yang menjadi tonggak kebangkitan bangsa.
Setidaknya hal ini terbaca di hasil jajak pendapat ketika ditanyakan apakah generasi muda saat ini mewarisi semangat perjuangan dan persatuan seperti pada era awal kebangkitan nasional.
Secara umum memang tidak terlalu kuat keyakinan ini karena baru 56,4 persen responden yang yakin generasi muda bisa memenuhi harapan tersebut.
Di sisi yang lain, mereka yang berasal dari kelompok responden Generasi Z cenderung lebih meyakini bahwa anak muda akan bisa diandalkan sebagai pewaris perjuangan bangsa.
Hal ini terbaca dari hasil jajak pendapat dimana sebanyak 58,7 persen responden dari Gen Z ini menyatakan bahwa anak muda bisa mewarisi semangat perjuangan dan persatuan seperti pada era awal kebangkitan nasional.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/05/19/9196c162-56fd-4f80-b27b-5dcf7c201178_jpg.jpg)
Angka ini tercatat paling tinggi dibandingkan penilaian dari kelompok responden dengan kategori usia di atasnya. Hal ini memberikan satu catatan bahwa anak muda memang belum diyakini mampu menjadi pewaris semangat perjuangan bangsa oleh mereka yang lebih senior.
Sebaliknya, dari mereka yang responden anak muda cenderung lebih yakin bahwa mereka mampu menjadi penerus api perjuangan tersebut.
Pada akhirnya momentum Hari Kebangkitan Nasional ini semestinya juga diletakkan pada terbukanya kesempatan bagi anak-anak muda untuk mengambil peran yang lebih bagi upaya-upaya menguatkan kembali perjuangan bangsa.
Seperti halnya tonggak-tonggak peristiwa yang dijadikan jejak sejarah kebangkitan bangsa yang tidak lepas dari peran tokoh-tokoh muda.
Bagaimanapun masa depan bangsa ini akan diteruskan oleh mereka, para generasi muda bangsa. Selamat Hari Kebangkitan Nasional! (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Yohan WahyuEditor:
Andreas Yoga PrasetyoPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .