Kemenangan 4-1 atas Paraguay sejauh ini mencerminkan betapa berbahayanya AS. Mereka bermain seakan tak punya beban sebagai tuan rumah.
13 Jun 2026 12:19 WIB · Olahraga
AFP/ Patrick T Fallon
CALIFORNIA, SABTU — Amerika Serikat tampil percaya diri di hadapan publik sendiri saat melawan Paraguay di Stadion Los Angeles, Inglewood, California, Sabtu (13/6/2026) WIB. Mereka mengubah beban tuan rumah menjadi energi permainan dengan intensitas tinggi.
Dalam laga pembuka Grup D, AS menang besar, 4-1. Folarin Balogun mencetak dwigol pada menit ke-31 dan ke-45. Giovanni Reyna menambah keunggulan pada menit ke-90+7. Sebelumnya, Damian Bobadilla membuat gol bunuh diri pada menit ke-7. Satu-satunya gol Paraguay dicetak Mauricio Magalhaes pada menit ke-73.
Saat wasit Danny Desmond Makkelie meniup peluit panjang, para pemain AS langsung bersorak gembira. Di hadapan para pendukung yang memadati stadion berkapasitas 70.492 kursi itu, mereka seperti melepas beban di pundak sekaligus menghidupkan alarm bahaya bagi lawan-lawannya.
”Tidak banyak kata yang bisa menggambarkan perasaan ini. Memulai turnamen dengan baik, mencetak empat gol, dan mendapatkan tiga poin adalah semua yang kami inginkan,” kata kapten AS, Tim Ream.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/b7cc836d9300fbc8e11727302213a5f8-Paraguay_US_WCup_Soccer_2.jpg)
Tim asuhan Mauricio Pochettino itu bermain agresif sejak awal laga. Mereka menyerang dari berbagai sudut dan meregangkan pertahanan di area sayap serta di belakang.
Hasilnya, pada paruh pertama, permainan berjalan searah. Paraguay hampir tidak pernah mendapatkan celah untuk melepaskan serangan balik yang menjadi andalannya.
Paraguay, yang pada kualifikasi zona CONMEBOL hanya kebobolan 10 gol dalam 18 pertandingan, kali ini seperti bukan lagi tim yang pertahanannya sulit ditembus. Bek kanan Juan Caceres, misalnya, kewalahan mengawal Christian Pulisic di sayap kiri.
”Lawan kami lebih baik dari kami. Kami mampu bermain lebih menyerang (di babak kedua). Ini adalah hal-hal yang perlu kami perbaiki untuk pertandingan berikutnya,” kata bek Paraguay, Junior Alonso.
Baru setelah turun minum, Paraguay mulai bisa menguasai permainan. Sebaliknya, AS, yang sudah unggul tiga gol, lebih banyak menunggu serangan. Keputusan Pochettino menarik keluar Pulisic mengurangi daya serang mereka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/a7e785195128d6ea0ce23efc7a931681-063_2281311904.jpg)
Hingga akhirnya, gol Paraguay lewat Mauricio pada menit ke-73 kembali ”menampar” pemain AS. Ream dan kawan-kawan kembali tampil menekan, berkali-kali menciptakan peluang, sampai akhirnya gol itu datang lewat Reyna.
Pada akhir laga, statistik memperlihatkan agresivitas itu. AS mencetak 18 tembakan dengan enam di antaranya tepat sasaran. Penguasaan bola mereka tercatat 63 persen, menorehkan 577 umpan, serta mencatat akurasi umpan hingga 91 persen.
Angka statistik itu juga seolah berbicara bahwa beban di pundak para pemain AS seperti tidak lagi terasa. Modalnya adalah kebersamaan tim yang sudah tercipta sejak lama. Pulisic, yang sering menjadi simbol utama tim, menegaskan ia tidak membawa beban itu sendirian.
”Saya hanya merasa ada begitu banyak pemain bagus di sekitar saya. Saya benar-benar tidak merasa harus melakukan apa pun sendirian,” katanya.
Ikatan itu tidak lahir dari satu turnamen, tetapi lewat perjalanan panjang bersama, mulai dari malam perpisahan sekolah, pesta pernikahan, hingga perayaan kelahiran anak.
Di lapangan hijau, banyak di antara mereka yang bermain bersama di level usia muda, jauh sebelum stadion besar dan sorotan dunia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/13/936fae4f6e4256d83e8dfa4d5b463271-wires_photo_7.jpg)
Pulisic, misalnya, sudah bermain bersama Weston McKennie, Haji Wright, dan Alejandro Zendejas sejak seleksi tim AS U-14 pada 2012. Tyler Adams dan Timothy Weah menyusul dalam kelompok usia yang sama pada periode berikutnya.
Tahun-tahun setelahnya, mereka kembali dipertemukan di tim U-17, lalu berlanjut ke level senior. Seiring waktu, mereka tidak hanya berbagi lapangan, tetapi juga fase kehidupan, mulai dari debut profesional, masa pinjaman, cedera, transfer, hingga momen pertama di panggung besar seperti Piala Dunia.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Cornelius Helmy HerlambangPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar