Tidak ada raksasa di Grup D Piala Dunia 2026, tetapi justru di situlah lahir potensi drama, kejutan, serta persaingan ketat nan dramatis.
09 Jun 2026 09:00 WIB · Olahraga
AP Photo/Eduardo Munoz Alvarez
Grup D Piala Dunia FIFA 2026 menghadirkan persaingan yang sulit diprediksi. Memang tidak ada raksasa tradisional seperti Brasil atau Jerman di grup ini. Namun, justru karena kekuatan setiap tim relatif berimbang, semua pertandingan yang berlangsung di Stadion Los Angeles dan Stadion BC Place Vancouver berpotensi menghadirkan kejutan sejak fase awal turnamen.
Tuan rumah Amerika Serikat (AS) memang datang dengan status unggulan. Bermain di depan publik sendiri; ditangani pelatih peraih gelar Ligue 1, Mauricio Pochettino; dan diperkuat generasi pemain yang mayoritas matang di Eropa; AS punya segalanya untuk memuncaki Grup D.
Namun, jalan ”The Yanks” tidak akan nyaman. Turki datang dengan generasi muda terbaik yang lahir dalam tiga dekade terakhir. Di sisi lain, Paraguay tetap menjadi simbol kerasnya sepak bola Amerika Selatan. Sementara itu, Australia datang dengan daya tahan dan kekuatan fisik yang kerap membuat lawan frustrasi.
Di atas kertas, Grup D terlihat seimbang. Namun di lapangan, grup ini bisa berubah menjadi pertarungan sarat tekanan psikologis, terutama bagi AS sebagai tuan rumah.
Los Angeles akan menjadi panggung utama AS pada fase grup. Stadion penuh, sorotan media, dan ekspektasi publik akan menciptakan atmosfer yang menggetarkan. Namun, sejarah Piala Dunia menunjukkan bahwa status tuan rumah tidak selalu identik dengan kemenangan, malah kadang justru menjadi beban.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/05/724c4d3046f6fa0f24e71980e462d832-FBL_WC_2026_USA_SQUAD_138566882.jpg)
Masalah terbesar AS menjelang turnamen bukan terletak pada kualitas individu, melainkan ketidakstabilan permainan mereka di level pertandingan tinggi. Kekalahan telak 2-5 dari Belgia dan 0-2 dari Portugal pada FIFA Matchday Maret lalu memperlihatkan bahwa anak asuh Pochettino masih rapuh ketika menghadapi lawan dengan intensitas tinggi.
Pochettino terlihat belum sepenuhnya menemukan bentuk ideal untuk timnya. Ia bergantian menggunakan pola tiga bek dan empat bek. Pergantian sistem itu memperlihatkan bahwa AS masih mencari keseimbangan, terutama dalam transisi bertahan.
Padahal, secara materi pemain, AS memiliki fondasi skuad menjanjikan. Matt Freese dalam dua musim terakhir menjelma menjadi salah satu kiper dengan persentase penyelamatan tertinggi di Major League Soccer (MLS).
Di lini belakang, Chris Richards berkembang menjadi sosok pemimpin baru di Crystal Palace setelah kepergian Marc Guehi ke Liverpool FC dan membantu ”The Eagles” bertahan di Premier League musim ini.
Belum lagi keberadaan dua bintang utama tim nasional AS. Tyler Adams, gelandang pengangkut air Bournemouth, tetap menjadi jangkar permainan sekaligus penyeimbang lini tengah. Sementara Christian Pulisic masih menjadi pusat gravitasi serangan dan sumber kreativitas utama tim.
Namun, di situlah persoalan muncul. Ketergantungan timnas AS terhadap Pulisic terasa terlalu besar. Ketumpulan sang ”Kapten Amerika” membuat performa timnas AS merosot. Penurunan performanya bersama AC Milan musim ini juga membuat publik mulai bertanya, apakah Pulisic masih pantas menjadi wajah utama sepak bola AS?
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/05/53e88223a12a6214787fbfa55f6a7b10-WCup_US_Roster_Soccer_138566945.jpg)
Di lini depan, Folarin Balogun diharapkan menjadi jawaban. Penyerang AS Monaco itu tampil tajam pada paruh kedua musim Ligue 1 dan diproyeksikan menjadi finisher utama yang selama ini dicari AS.
Meski demikian, kekuatan terbesar AS tetap terletak pada momentum emosional sebagai tuan rumah. Pertandingan pembuka melawan Paraguay bisa menjadi penentu arah perjalanan mereka. Jika menang, rasa percaya diri akan tumbuh. Namun, apabila kalah, tekanan publik dapat berubah menjadi beban yang membuat perjalanan AS tersendat.
Jika ada tim yang paling berpotensi merusak pesta tuan rumah, Turki tampaknya berada di posisi terdepan. Selama 24 tahun pascafinis di peringkat ketiga pada Piala Dunia 2002, Turki datang ke Amerika Utara dengan generasi (yang mungkin) paling berbakat dalam sejarah sepak bola mereka. Tim asuhan Vincenzo Montella memainkan sepak bola yang agresif, cair, dan berani mengambil risiko.
Arda Guler menjadi simbol kebangkitan itu. Pada usia 21 tahun, gelandang serang Real Madrid tersebut telah menjelma menjadi pusat kreativitas Turki. Ia memiliki kemampuan melihat ruang yang tidak terlihat pemain lain. Dalam situasi sempit, Guler mampu menciptakan peluang lewat sentuhan yang sulit diprediksi.
Di sekelilingnya, Turki dipenuhi pemain dengan kualitas teknik tinggi. Hakan Calhanoglu tetap menjadi otak permainan sekaligus pemimpin dan motivator di dalam tim. Sementara itu, Kenan Yildiz berkembang menjadi ancaman serius dari sisi serang bersama Juventus.
Jangan lupakan juga agresivitas Ferdi Kadıoğlu dari sisi kiri pertahanan. Bek sayap Brighton & Hove Albion itu menghadirkan energi yang nyaris tidak habis sepanjang pertandingan. Kombinasinya bersama Kaoru Mitoma di Liga Inggris musim ini menjadi salah satu sumber ledakan serangan Brighton, sekaligus membantu klub tersebut terus bersaing di papan atas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/05/155cdad0d12403f2fb3f38f4dd1c54de-WCup_Turkey_Soccer_138605750.jpg)
Jika Ferdi diberi ruang untuk naik membantu serangan, Turki memiliki senjata tambahan yang dapat membuat pertahanan lawan runtuh dari sisi lapangan.
Turki mungkin menjadi tim paling atraktif di Grup D. Mereka bermain dengan tempo cepat, progresi bola vertikal, dan naluri menyerang eksplosif yang jarang dimiliki tim negara Balkan di masa lalu.
Namun, keberanian itu juga menghadirkan risiko. Lini belakang Turki kadang terlalu mudah terbuka ketika kehilangan bola. Struktur pertahanan mereka sering goyah saat ditekan agresif. Celah inilah yang bisa dimanfaatkan AS maupun Paraguay.
Berbeda dari Turki yang ekspresif, Paraguay datang dengan identitas yang nyaris klasik. Tim asuhan Gustavo Alfaro bermain keras, disiplin, dan sangat pragmatis.
Paraguay mungkin bukan tim paling indah ditonton, tetapi mereka sangat tahu cara membuat lawan tidak nyaman. Selama kualifikasi zona CONMEBOL, Paraguay hanya kebobolan 10 gol dalam 18 pertandingan. Statistik itu memperlihatkan betapa sulitnya menembus organisasi pertahanan mereka.
Miguel Almiron tetap menjadi mesin transisi utama lewat kecepatan dan agresivitasnya. Sementara Julio Enciso menghadirkan kreativitas yang dibutuhkan Paraguay untuk mencuri gol dari situasi kecil.
Alfaro membangun Paraguay sebagai tim yang rela menunggu, menyerap tekanan, lalu menyerang balik dengan cepat. Dalam turnamen pendek seperti Piala Dunia, model permainan semacam ini sering sangat berbahaya.
Masalah Paraguay terletak pada produktivitas. Mereka hanya mencetak 14 gol sepanjang kualifikasi. Artinya, Paraguay harus hidup dari efisiensi dan disiplin nyaris sempurna.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/05/8b596385297285f0fb27a0bc71f90efd-WCup_Paraguay_Soccer_138605807.jpg)
Australia pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Status sebagai tim paling tidak diunggulkan justru membuat Socceroos berbahaya.
Pada Piala Dunia sebelumnya, Australia berhasil mencapai babak 16 besar. Kini di bawah Tony Popovic, mereka tampil lebih terstruktur dengan pendekatan tiga bek dan eksploitasi permainan sayap.
Nestory Irankunda menjadi nama yang paling menarik perhatian. Penyerang sayap kelahiran Tanzania itu menawarkan kecepatan dan keberanian duel satu lawan satu yang dapat mengubah ritme pertandingan dalam sekejap.
Bersama Jordan Bos, bek sayap yang bermain sensasional bersama Feyenoord Rotterdam di sepanjang musim ini, Australia memiliki ancaman nyata dari sisi kiri lapangan.
Selain itu, pengalaman pemain paling berpengalaman di Timnas Australia, Mathew Ryan; dan postur kuat Harry Souttar membuat lini belakang Australia tetap sulit ditembus dalam duel fisik maupun bola udara.
Namun, seperti Paraguay, Australia juga memiliki keterbatasan dalam kreativitas menyerang. Mereka sangat bergantung pada momen individu dan efektivitas serangan balik.
Pada akhirnya, persaingan di Grup D kemungkinan akan ditentukan oleh detail-detail kecil. Satu kesalahan dalam transisi permainan, satu gol cepat, atau satu momen magis dari pemain seperti Arda Guler maupun Christian Pulisic bisa mengubah arah klasemen secara drastis.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/05/c57e01869c92e410b5a15d6ebec5299f-FBL_FRIENDLY_MEX_AUS_138675440.jpg)
AS tetap layak ditempatkan sebagai favorit juara grup berkat keuntungan sebagai tuan rumah dan kedalaman skuad yang mereka miliki. Namun, perebutan satu tiket tersisa menuju fase gugur diperkirakan berlangsung sengit antara Turki, Paraguay, dan Australia.
Justru di situlah letak daya tarik Grup D. Tidak ada jurang kualitas yang terlalu lebar antartim. Setiap pertandingan berpotensi berlangsung ketat dan emosional. Tekanan terhadap tuan rumah, ledakan generasi baru Turki, disiplin Paraguay, hingga daya juang Australia membuat Grup D berpeluang menghadirkan salah satu drama paling menarik dan manusiawi di Piala Dunia FIFA 2026.
Penulis:
Dimas Waraditya NugrahaEditor:
Yulvianus Harjono