BRUSSELS, KAMIS — Perang dagang Amerika Serikat memasuki babak baru. Keputusan China membatasi ekspor mineral tanah jarang atau rare earth mineral dan magnet mengganggu rantai pasok global.
Industri teknologi dan otomotif tertekan oleh gangguan itu. Sejumlah produsen otomotif tengah berpikir keras untuk mencari pengganti dan mengurangi ketergantungan pada produk China.
Sejumlah opsi lain dibuka, termasuk mengalihkan produksi kendaraan ke China untuk mengurangi dampak. ”Ini menambah tekanan pada sistem (produksi) yang sangat terorganisasi karena suku cadang telah dipesan beberapa pekan sebelumnya,” kata Sherry House, Direktur Keuangan Ford, Rabu (4/6/2025) siang waktu Seattle atau Kamis dini hari WIB.
Kondisi ini bermula sejak April 2025. Menyikapi kebijakan tarif AS, China antara lain mengetatkan aturan ekspor logam tanah jarang. Beijing mewajibkan izin ekspor lebih ketat untuk samarium, gadolinium, terbium, disprosium, lutetium, skandium, dan itrium.
Logam-logam itu bagian dari bahan baku penting untuk suku cadang otomotif. Logam-logam itu memungkinkan motor listrik berfungsi dalam kecepatan dan suhu tinggi.
Tidak cuma otomotif, logam tanah jarang (LTJ) juga dipakai dalam produksi ponsel pintar sampai suku cadang jet tempur F-25. Bukan saja ke AS, pengetatan ekspor berlaku untuk semua negara.
Koran The Wall Street Journal pada Mei 2025 melaporkan, sejumlah produsen otomotif dan pemasok suku cadang telah menginformasikan potensi hambatan ini jika perang dagang terus terjadi. Pembatasan ekspor oleh China akan berdampak pada pengurangan produksi. Bahkan, bisa jadi produksi terpaksa berhenti gara-gara pembatasan ekspor LTJ oleh China.
Produsen menilai, butuh waktu yang cukup lama untuk mencari sumber alternatif baru pemasok logam mineral tanah jarang. Pemerintah AS menuding China melanggar ”gencatan senjata tarif”. Sebaliknya, China juga menyebut tindakan Washington, seperti pembatasan ekspor cip AI dan pencabutan visa pelajar China sebagai diskriminatif dan restriktif.
Alternatif pasokan
Pengetatan tidak hanya berdampak pada produsen otomotif AS. Asosiasi pemasok otomotif Eropa, CLEPA, mengatakan, dari ratusan izin ekspor yang diajukan, hanya seperempat dikabulkan. Akibatnya, sejumlah produsen otomotif Eropa mulai mencari sumber alternatif pasokan.
Raksasa otomotif Jerman, Mercedes Benz dan BMW, menyikapi berbeda. BMW mengaku sudah terganggu kebijakan China. Meski demikian, produksi masih normal.
Sementara Mercedes Benz menyatakan, produksi mereka belum terganggu. Meski demikian, perlu antisipasi dampak larangan China itu.
Kepala produksi Mercedes-Benz Joerg Burzer mengatakan, perusahaan sedang berunding dengan pemasok lain. Tujuannya, mencari alternatif jalur pasokan jika benar-benar ada kelangkaan akibat kebijakan China.
Mathias Miedreich, anggota dewan direksi untuk propulsi listrik ZF Friedrichshafen, mengatakan bahwa mayoritas izin impor dari China sudah diamankan perusahaan itu. Akan tetapi, seretnya pasokan logam mineral tanah jarang mirip dengan seretnya pasokan cip saat pandemi Covid-19. Kekurangan pasokan cip membuat produksi kendaraan terganggu.
”Meskipun beberapa izin ekspor telah diberikan, ini tidak cukup untuk memastikan kelancaran produksi,” kata Hildegard Müller, presiden kelompok lobi industri otomotif Jerman.
”Jika situasinya tidak berubah dengan cepat, penundaan produksi dan bahkan penghentian produksi tidak dapat lagi dikesampingkan.”
Produksi di China
Laporan The Wall Street Journal menyebut sejumlah produsen kendaraan listrik tengah menimbang-nimbang memindahkan proses produksi beberapa suku cadang utama ke China. Perpindahan terutama untuk suku cadang motor listrik. Ini sebagai cara sementara untuk menghindari pengetatan.
”Jika Anda ingin mengekspor magnet (mineral tanah jarang), mereka tidak akan mengizinkan Anda melakukannya. Jika Anda dapat menunjukkan bahwa magnet dan motor listrik tersebut diproduksi di China, Anda dapat melakukannya,” kata seorang manajer rantai pasokan di salah satu produsen mobil.
Mengirim komponen suku cadang setengah jadi ke China hanya untuk menyatukannya dengan magnet yang bisa membuatnya berfungsi akan menambah biaya produksi. Akan tetapi, para pebisnis melihatnya sebagai satu-satunya alternatif daripada menghentikan produksi sama sekali.
Langkah tersebut dapat membuat produsen mobil menghadapi tarif tambahan. Sayangnya, para eksekutif otomotif yakin alternatifnya akan lebih buruk.
Bagi AS, opsi itu buruk. Sebab, tujuan pemerintahan Donald Trump menerapkan berbagai kebijakan tarif, antara lain, menghidupkan ulang industri manufaktur.
Andreas Kroll, Direktur Pelaksana Noble Elements, mengatakan, keunggulan China dalam produksi logam mineral tanah jarang sangat besar. Sementara skala produksi negara lain hanya dalam jumlah minimal atau bahkan skala laboratorium. ”Tidak ada solusi untuk tiga tahun ke depan, kecuali mencapai kesepakatan dengan Cina,” katanya.
Uni Eropa mencoba menghindari kelangkaan itu dengan mengejar sumber-sumber baru logam mineral tanah jarang di seluruh dunia.
”Kita harus mengurangi ketergantungan pada semua negara, terutama pada negara seperti China. Larangan ekspor meningkatkan keinginan kita untuk melakukan diversifikasi,” kata Komisaris Eropa untuk Industri Stephane Sejourne, Rabu.
Sebanyak 13 proyek penambangan logam mineral tanah jarang diumumkan UE untuk mendapatkan bahan penting produksi baterai kendaraan listrik dan penyimpan energi lain, mulai dari litium, kobalt, mangan, dan grafit. Dua proyek berada di Malawi dan Afrika Selatan. Lainnya berada di Inggris, Kanada, Greenland, Kazakhstan, Madagaskar, Norwegia, Serbia, Ukraina, Zambia, Brasil, dan wilayah Perancis di Kaledonia Baru.
Proyek di Greenland dan Ukraina adalah untuk mencari bahan baku grafit, sedangkan di Britania Raya adalah untuk mengekstraksi tungsten, yang banyak dibutuhkan dalam industri pertahanan. (Reuters)
BRUSSELS, KAMIS — Perang dagang Amerika Serikat memasuki babak baru. Keputusan China membatasi ekspor mineral tanah jarang atau rare earth mineral dan magnet mengganggu rantai pasok global.
Industri teknologi dan otomotif tertekan oleh gangguan itu. Sejumlah produsen otomotif tengah berpikir keras untuk mencari pengganti dan mengurangi ketergantungan pada produk China.
Sejumlah opsi lain dibuka, termasuk mengalihkan produksi kendaraan ke China untuk mengurangi dampak. ”Ini menambah tekanan pada sistem (produksi) yang sangat terorganisasi karena suku cadang telah dipesan beberapa pekan sebelumnya,” kata Sherry House, Direktur Keuangan Ford, Rabu (4/6/2025) siang waktu Seattle atau Kamis dini hari WIB.
Serial Artikel
Keputusan Trump Tekan Industri Otomotif Global
Fleksibilitas yang diharapkan sejumlah pebisnis pada kebijakan baru Presiden Donald Trump tak terbukti. Industri Otomotif tertekan.
Kondisi ini bermula sejak April 2025. Menyikapi kebijakan tarif AS, China antara lain mengetatkan aturan ekspor logam tanah jarang. Beijing mewajibkan izin ekspor lebih ketat untuk samarium, gadolinium, terbium, disprosium, lutetium, skandium, dan itrium.
Logam-logam itu bagian dari bahan baku penting untuk suku cadang otomotif. Logam-logam itu memungkinkan motor listrik berfungsi dalam kecepatan dan suhu tinggi.
Tidak cuma otomotif, logam tanah jarang (LTJ) juga dipakai dalam produksi ponsel pintar sampai suku cadang jet tempur F-25. Bukan saja ke AS, pengetatan ekspor berlaku untuk semua negara.
Koran The Wall Street Journal pada Mei 2025 melaporkan, sejumlah produsen otomotif dan pemasok suku cadang telah menginformasikan potensi hambatan ini jika perang dagang terus terjadi. Pembatasan ekspor oleh China akan berdampak pada pengurangan produksi. Bahkan, bisa jadi produksi terpaksa berhenti gara-gara pembatasan ekspor LTJ oleh China.
Produsen menilai, butuh waktu yang cukup lama untuk mencari sumber alternatif baru pemasok logam mineral tanah jarang. Pemerintah AS menuding China melanggar ”gencatan senjata tarif”. Sebaliknya, China juga menyebut tindakan Washington, seperti pembatasan ekspor cip AI dan pencabutan visa pelajar China sebagai diskriminatif dan restriktif.
Serial Artikel
Pasang Tinggi Industri Otomotif Global
Perang tarif berdampak pada situasi otomotif global. Di pasar, saling sikut dan perang harga tak bisa dihindari, termasuk di negara berkembang.
Pengetatan tidak hanya berdampak pada produsen otomotif AS. Asosiasi pemasok otomotif Eropa, CLEPA, mengatakan, dari ratusan izin ekspor yang diajukan, hanya seperempat dikabulkan. Akibatnya, sejumlah produsen otomotif Eropa mulai mencari sumber alternatif pasokan.
Raksasa otomotif Jerman, Mercedes Benz dan BMW, menyikapi berbeda. BMW mengaku sudah terganggu kebijakan China. Meski demikian, produksi masih normal.
Sementara Mercedes Benz menyatakan, produksi mereka belum terganggu. Meski demikian, perlu antisipasi dampak larangan China itu.
Kepala produksi Mercedes-Benz Joerg Burzer mengatakan, perusahaan sedang berunding dengan pemasok lain. Tujuannya, mencari alternatif jalur pasokan jika benar-benar ada kelangkaan akibat kebijakan China.
Serial Artikel
Logam Tanah Jarang dan Ambisi Trump di Greenland
Donald Trump sudah berkali-kali mengatakan niat untuk membeli Greenland dari Denmark. Bagi AS, Greenland strategis dari segi posisi dan bisnis.
Mathias Miedreich, anggota dewan direksi untuk propulsi listrik ZF Friedrichshafen, mengatakan bahwa mayoritas izin impor dari China sudah diamankan perusahaan itu. Akan tetapi, seretnya pasokan logam mineral tanah jarang mirip dengan seretnya pasokan cip saat pandemi Covid-19. Kekurangan pasokan cip membuat produksi kendaraan terganggu.
”Meskipun beberapa izin ekspor telah diberikan, ini tidak cukup untuk memastikan kelancaran produksi,” kata Hildegard Müller, presiden kelompok lobi industri otomotif Jerman.
”Jika situasinya tidak berubah dengan cepat, penundaan produksi dan bahkan penghentian produksi tidak dapat lagi dikesampingkan.”
Produksi di China
Laporan The Wall Street Journal menyebut sejumlah produsen kendaraan listrik tengah menimbang-nimbang memindahkan proses produksi beberapa suku cadang utama ke China. Perpindahan terutama untuk suku cadang motor listrik. Ini sebagai cara sementara untuk menghindari pengetatan.
”Jika Anda ingin mengekspor magnet (mineral tanah jarang), mereka tidak akan mengizinkan Anda melakukannya. Jika Anda dapat menunjukkan bahwa magnet dan motor listrik tersebut diproduksi di China, Anda dapat melakukannya,” kata seorang manajer rantai pasokan di salah satu produsen mobil.
Mengirim komponen suku cadang setengah jadi ke China hanya untuk menyatukannya dengan magnet yang bisa membuatnya berfungsi akan menambah biaya produksi. Akan tetapi, para pebisnis melihatnya sebagai satu-satunya alternatif daripada menghentikan produksi sama sekali.
Langkah tersebut dapat membuat produsen mobil menghadapi tarif tambahan. Sayangnya, para eksekutif otomotif yakin alternatifnya akan lebih buruk.
Bagi AS, opsi itu buruk. Sebab, tujuan pemerintahan Donald Trump menerapkan berbagai kebijakan tarif, antara lain, menghidupkan ulang industri manufaktur.
Andreas Kroll, Direktur Pelaksana Noble Elements, mengatakan, keunggulan China dalam produksi logam mineral tanah jarang sangat besar. Sementara skala produksi negara lain hanya dalam jumlah minimal atau bahkan skala laboratorium. ”Tidak ada solusi untuk tiga tahun ke depan, kecuali mencapai kesepakatan dengan Cina,” katanya.
Uni Eropa mencoba menghindari kelangkaan itu dengan mengejar sumber-sumber baru logam mineral tanah jarang di seluruh dunia.
”Kita harus mengurangi ketergantungan pada semua negara, terutama pada negara seperti China. Larangan ekspor meningkatkan keinginan kita untuk melakukan diversifikasi,” kata Komisaris Eropa untuk Industri Stephane Sejourne, Rabu.
Sebanyak 13 proyek penambangan logam mineral tanah jarang diumumkan UE untuk mendapatkan bahan penting produksi baterai kendaraan listrik dan penyimpan energi lain, mulai dari litium, kobalt, mangan, dan grafit. Dua proyek berada di Malawi dan Afrika Selatan. Lainnya berada di Inggris, Kanada, Greenland, Kazakhstan, Madagaskar, Norwegia, Serbia, Ukraina, Zambia, Brasil, dan wilayah Perancis di Kaledonia Baru.
Proyek di Greenland dan Ukraina adalah untuk mencari bahan baku grafit, sedangkan di Britania Raya adalah untuk mengekstraksi tungsten, yang banyak dibutuhkan dalam industri pertahanan. (Reuters)