Kebijakan Tarif Trump: Senjata Makan Tuan bagi Industri Otomotif Amerika Serikat

Kebijakan tarif Presiden Trump untuk memproteksi industri dalam negeri justru berpotensi menjadi bumerang bagi kondisi domestik, termasuk industri otomotif AS.

09 Apr 2025 06:00 WIB · Riset

Oleh Yohanes Advent Krisdamarjati

Kebijakan tarif Presiden Trump untuk memproteksi industri dan ekonomi dalam negeri justru berpotensi menjadi bumerang bagi kondisi domestik Amerika Serikat. Kenaikan bea masuk impor ke AS berimbas pada lonjakan biaya produksi sejumlah industri manufaktur. Sektor otomotif yang menjadi salah satu andalan industri AS diperkirakan mengalami lonjakan biaya produksi sehingga kenaikan harga jual produk hingga 40 persen.

Kebijakan perdagangan internasional AS itu tujuan utamanya untuk mengurangi defisit pada neraca perdagangan AS dengan sejumlah negara. Kebijakan ini mulanya diterapkan terhadap China sekitar tahun 2018 karena besarnya defisit neraca perdagangan internasional AS dengan China.

Kini, Trump menerapkan kenaikan tarif bea masuk kepada 180 negara dengan nilai bervariasi. Negara yang dikenai bea masuk tertinggi adalah Lesotho dengan tarif sebesar 50 persen. Sementara itu, di negara ASEAN yang terkena tarif paling besar adalah Kamboja dengan besaran 49 persen.

Indonesia terkena kebijakan tarif dari AS sebesar 32 persen. Besaran ini sedikit lebih kecil dibandingkan rival utama AS, yakni China yang dikenai bea masuk 34 persen. Presiden Trump mengancam akan menaikkan tarif menjadi 50 persen apabila China tidak menyerah dalam perang dagang ini.

Perang dagang yang semula melibatkan antara AS dan China kini mulai menjalar ke hampir semua negara di dunia. Akibatnya, berbagai produk impor yang masuk ke pasar domestik AS akan mengalami lonjakan harga setidaknya setara dengan beban tarif yang diberlakukan. Hal ini tentu saja berisiko negatif bagi para eksportir karena akan menurunkan jumlah permintaan dari AS sehingga turut mengancam keberlangsungan usaha bagi industri di negara-negara eksportir.

Selain itu, kebijakan tarif itu pun juga akan mengancam industri manufaktur di AS. Pasalnya, sejumlah bahan baku industrialisasi di AS juga sebagian didatangkan dari asing sehingga akan meningkatkan biaya produksi.

Infografik 5 Negara Produsen Otomotif Terbesar di Dunia

Salah satu sektor industri AS yang terimbas relatif besar adalah industri otomotif. Trump memberlakukan tarif sebesar 25 persen untuk produk impor baja dan aluminium. Kedua komoditas ini merupakan komponen bahan baku penting pembuatan kendaraan bermotor. Dengan demikian, kebijakan Trump itu akan menggoyahkan stabilitas industri otomotif di dalam negerinya sendiri.

Selain tekanan pada bahan bakunya, kebijakan Trump juga menyasar pada produk unit kendaraan yang diekspor menuju AS. Tarif 25 persen juga menyasar bagi mobil completed build up (CBU) yang diimpor beserta suku cadangnya, termasuk komponen impor untuk mobil yang dirakit di AS.

Kebijakan tersebut tentu saja akan berimbas pada semakin mahalnya produk kendaraan yang dipasarkan di AS, baik itu kendaraan yang diproduksi di dalam negeri maupun kendaraan yang didatangkan dari impor. Sama-sama akan memberatkan konsumen di AS.

Tantangan industri otomotif

Kebijakan tarif tersebut akan menjadi tantangan besar bagi industri otomotif di AS. Apalagi, AS merupakan produsen kendaraan terbesar kedua setelah China sehingga tekanan dampaknya akan terasa signifikan bagi AS. Pada tahun 2023, industri otomotif dalam negeri AS mampu memproduksi 10,6 juta unit kendaraan. Sementara itu, China di tahun yang sama telah membuat 30,2 juta unit kendaraan.

Dengan langkah kebijakan tarif itu, kemungkinan akan terjadi penurunan produksi kendaraan di AS. Rekor produksi kendaraan yang mencapai 10,9 juta unit pada tahun 2019 akan sulit terlampaui.  Produksi kendaraan yang sedikit meredup saat Covid-19 belum bisa stabil kembali hingga saat ini. Dengan kebijakan Trump ini tampaknya pasar otomotif akan semakin lesu.

Kendaraan Stellantis diparkir di Pabrik Perakitan Stellantis Sterling Heights di Sterling Heights, Michigan, Amerika Serikat, Sabtu (5/4/2025). Stellantis mengumumkan bahwa mereka akan memberhentikan sementara sekitar 900 pekerjanya di AS di beberapa pabrik pengepresan dan penggerak di seluruh negeri, termasuk Pabrik Pengepresan Sterling, karena tarif yang dikenakan pada mobil dan suku cadang mobil impor oleh Presiden Donald Trump mulai berlaku.

Sementara itu, pihak China yang semakin besar pangsa produk otomotifnya akan berupaya semakin efisien menyiasati biaya produksi dan harga jual sehingga kian kompetitif di pasar global. Apalagi, China merupakan salah satu negara yang menguasai rantai pasok bahan baku penting otomotif, seperti baja dan aluminium. Bahkan, China juga telah menjadi pemain besar dunia dalam industri kendaraan elektrik berikut baterai listriknya. Bahan baku yang melimpah dan jalinan supply chain yang kuat dari beberapa negara membuat China tampaknya sangat kokoh dalam menghadapi persaingan kuat dengan AS.

Apabila AS produksi otomotifnya cenderung stagnan dan mengecil, berbeda dengan China yang justru semakin membesar. Pada tahun 2019, produsen mobil di China dapat memproduksi 25,8 juta unit kendaraan. Selang empat tahun kemudian, jumlah tersebut telah meningkat hingga lebih dari 30 juta unit kendaraan.

Kebijakan bea masuk Trump itu berpotensi besar membuat industri otomotif AS kian terpuruk. Rakyat AS, baik itu produsen maupun konsumen, akan membayar harga lebih mahal dari kebijakan Presiden Trump.

Situasi ideal yang diharapkan Trump, khususnya industri otomotif, tampaknya akan sulit terwujud. Setiap komponen mobil dibuat di pabrik lokal AS, kemudian dirakit juga oleh perusahaan lokal AS. Sekalipun Presiden Trump menyampaikan bahwa mobil yang diproduksi di dalam negeri sama sekali tidak dikenai tarif, tetapi tampaknya mustahil tanpa menyertakan komponen atau bahan baku yang didatangkan dari impor. AS masih mendatangkan sejumlah bahan baku penting dari luar negeri.

Realita kesulitan industri otomotif AS dalam menghadapi kebijakan tarif Trump itu digambarkan oleh The Wall Street Journal.  Laporan itu menjabarkan dari negara mana saja asalnya komponen mobil semitruk jenis Ford F150 yang menjadi salah satu mobil best seller di Amerika Serikat saat ini.

Infografik Pangsa Pasar Mobil AS Berdasar Jenama

Satu unit mobil Ford F150 terdiri atas ribuan komponen yang didatangkan dari sekitar 24 negara yang berbeda, ujar Terry Woychowski, Presiden Caresoft Global. Sejumlah komponennya diimpor dari Meksiko, Kanada, Romania, China, dan Korea Selatan.

Sebagai contoh, bagian alternator dan velg ban didatangkan dari Meksiko. Kemudian komponen gardan dirakit di Kanada dan dikirim ke AS. Ban mobil dikapalkan dari Korea Selatan. Ribuan komponen impor tersebut kemudian dirakit menjadi satu unit Ford F150 di AS.

Selama ini, industri otomotif AS dibangun melalui kerja sama erat dengan Kanada dan Meksiko. Situasi tersebut berlangsung sejak diberlakukannya wilayah perdagangan bebas The North American Free Trade Agreement (NAFTA) yang disahkan Presiden AS Bill Clinton pada tahun 1994. Dengan penerapan tarif baru oleh Pesiden Trump, artinya NAFTA secara tidak langsung sudah tidak berlaku efektif seperti yang dicanangkan sebelumnya.

Harga mobil melonjak

Warga AS akan menghadapi kenaikan harga mobil yang diperkirakan 20 hingga 40 persen akibat kebijakan tarif Trump. Angka tersebut diungkapkan Mel Yu, analis pasar otomotif dari Yonsei University, Connecticut, AS. Kenaikan harga mobil akan terjadi, baik yang diimpor dalam kondisi CBU (completed build up) maupun mobil yang diproduksi di dalam negeri.

Mobil CBU dikenai tarif 25 persen. Artinya warga AS akan menanggung harga bea masuk tersebut. Selama ini, mobil impor menguasai sekitar 47 persen pangsa pasar mobil di AS. Mobil impor paling banyak didatangkan dari Meksiko (17 persen) dan dari Kanada (7 persen). Impor mobil dari Meksiko dan Kanada sebagai wilayah kesepakatan NAFTA tidak dikenai tarif. Namun dengan berlakunya tarif baru dari Trump, pembebasan bea masuk tidak lagi berlaku.

Harapan Pemerintah AS dengan pengenaan tarif pada mobil impor, konsumen akan beralih membeli mobil buatan dalam negeri, seperti Ford dan General Motors. Namun persoalannya, komponen dari mobil buatan lokal pun didatangkan secara impor. Bahkan, bahan baku berupa besi baja dan aluminium juga tak luput dari tarif 25 persen. Dengan demikian artinya sama saja, baik itu mobil impor maupun mobil pabrikan lokal akan mengalami kenaikan harga.

Infografik Pangsa Pasar Mobil AS Berdasar Asal Negara

Merujuk dari data yang dirilis The Wall Street Journal, rata-rata harga mobil di AS sudah mengalami kenaikan 33 persen pada kurun 2019 hingga 2024. Apabila direrata, dalam setahun harga mobil naik sekitar 6 persen. Dengan adanya kebijakan tarif yang baru, konsumen otomotif di AS akan menanggung kenaikan harga yang sebelumnya terjadi secara bertahap selama lima tahun, kini akan terjadi lonjakan dalam beberapa bulan ke depan dengan kisaran 20 persen hingga 40 persen.

Fenomena kenaikan harga jual mobil yang melonjak signifikan itu disinyalir akan membahayakan roda perekonomian AS, khususnya pada industri kendaraan bermotor.

Merujuk dari publikasi Alliance for Automotive Innovation yang bertajuk laporan industri 2024 menyebutkan, industri otomotif menyumbang perekonomian AS sebesar 4,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau senilai 1,2 triliun dollar AS. Industri ini juga berkontribusi bagi penyerapan sekitar 10,1 juta tenaga kerja serta menyumbang 4,9 persen lapangan kerja di AS.

Apabila pemberlakuan tarif Trump tersebut justru berdampak negatif bagi produsen dan pasar otomotif AS di kemudian hari, maka kebijakan itu bagaikan senjata makan tuan. AS di bawah kepemimpinan Trump akan mengalami begitu banyak dinamika, salah satunya berupa kebijakan tarif Trump yang justru berisiko melemahkan ekonomi bangsanya sendiri. (LITBANG KOMPAS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Yohanes Advent Krisdamarjati
 | 

Editor:

Budiawan Sidik A
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari