Kebimbangan Membayangi Indonesia Jelang SEA Games Thailand 2025

SEA Games Thailand 2025 kurang dari dua bulan lagi, Kemenpora masih diliputi bimbang menentukan cabang olahraga, jumlah atlet tiap cabor, dan target medali.

17 Okt 2025 06:45 WIB · Olahraga

Oleh Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa, I Gusti Agung Bagus Angga Putra

JAKARTA, KOMPAS — Meski anggaran keberangkatan kontingen naik enam kali lipat, kebimbangan masih membayangi Indonesia untuk SEA Games Thailand 2025. Kurang dari dua bulan jelang SEA Games, pemerintah belum menentukan cabang olahraga yang berlaga, jumlah atlet tiap cabang olahraga yang akan berangkat, dan target perolehan medali. Belum ada juga kepastian implementasi program pembinaan yang menentukan status setiap ajang olahraga yang diikuti Indonesia.

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengumumkan, anggaran keberangkatan kontingen Indonesia ke SEA Games Thailand 2025 naik dari Rp 10 miliar menjadi Rp 60 miliar. Kenaikan itu, kata Erick, sudah disetujui Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Peningkatan anggaran akan berimplikasi pada penambahan jumlah atlet yang dikirim ke Thailand. Dari Rp 10 miliar yang hanya bisa membiayai keberangkatan 120 atlet, Erick memperkirakan dana Rp 60 miliar bisa untuk mengirim 700-800 atlet.

”Atlet yang terkirim bisa 700-800 orang nanti, tergantung hasil evaluasi sama-sama. Tetapi, tentu kami dari pemerintah, Bapak Presiden, dan semua yang ada di sini, kita punya komitmen yang sama bahwa atlet yang dikirim harus benar-benar yang memang diprioritaskan dan bisa mendapatkan medali,” kata Erick dalam konferensi pers di Wisma Kemenpora, Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir memberikan keterangan pers soal persiapan SEA Games Thailand 2025 di Wisma Kemenpora, Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Saat ditanya komitmen mengirim mayoritas atlet muda, Erick berkata tidak akan membeda-bedakan perlakuan terhadap atlet. Selama berpeluang meraih medali, Erick tidak memedulikan apakah atlet tersebut sudah senior atau masih atlet muda.

Quote

Dan, kita mau target ini tetap paling tidak kita bisa ranking 3 lagi. Tetapi, kalau realitas hari ini, tidak (bisa).

Untuk itu, kata Erick, kesempatan harus dibuka sepenuhnya bagi atlet muda yang bisa jadi potensial dan atlet senior yang masih punya kemampuan. Apalagi, ada target yang ingin dicapai di Thailand mulai 9 Desember 2025 itu.

Dengan jumlah anggaran Rp 60 miliar dan potensi hingga 800 atlet dikirim, Erick menargetkan Indonesia paling tidak bisa meraih peringkat tiga lagi seperti di SEA Games Vietnam 2021 dan SEA Games Kamboja 2023. Namun, Erick juga menilai, target itu sulit dicapai karena hilangnya 41 potensi medali di Thailand mendatang.

Saat ini baru terdeteksi sekitar 78 potensi emas, sedangkan untuk masuk tiga besar Indonesia harus mengamankan sedikitnya 82 medali emas. Untuk itu, kata Erick, dia mengundang pengurus-pengurus cabang olahraga untuk berembuk menentukan target Indonesia.

”Karena kepercayaan yang diberikan kepada saya melalui Bapak Presiden, saya tidak mau di kemudian hari menjadi catatan beliau. Dan, kita mau target ini tetap paling tidak kita bisa ranking 3 lagi. Tetapi, kalau realitas hari ini, tidak (bisa). Artinya, kita harus sama-sama berjibaku menata bagaimana target-target kita yang setransparan mungkin,” ucap Erick.

Lifter putra Indonesia, Rizki Juniansyah, bersalaman dengan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia Djoko Pramono selepas seleksi nasional angkat besi untuk SEA Games Thailand 2025 di pemusatan latihan nasional angkat besi di Mess Kwini, Jakarta, Rabu (20/8/2025).

Akan tetapi, di balik target dan tantangan mencapainya, masih ada ketidakjelasan soal cabang mana yang dikirim dan atlet mana saja yang bakal bertanding. Cabang olahraga yang bahkan unggulan, seperti angkat besi, masih harus menanti keputusan final Kemenpora.

Angkat besi mengajukan maksimal 12 atlet untuk dikirim ke Thailand. Menurut Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia Djoko Pramono, dengan adanya penambahan anggaran, seharusnya angkat besi bisa mengirimkan maksimal atletnya.

”Dengan peningkatan anggaran, harapannya jumlah atlet yang dikirim pun bisa maksimal. Apalagi, kalau bicara juara umum, angkat besi punya peluang,” ucap Djoko.

Bukan cuma cabang olahraga dan jumlah atlet, rencana regenerasi dan program pembinaan jangka panjang pun masih belum jelas. Dalam dua edisi terakhir, dengan program Desain Besar Olahraga Nasional (DBON), SEA Games selalu bukan prioritas utama atau hanya sasaran antara. Prioritas utama adalah Olimpiade, ajang multicabang sedunia.

Infografik Desain Besar Olahraga Nasional (DBON)

DBON adalah program pembinaan jangka panjang, setidaknya pada rentang 2021 hingga 2045 dengan tujuan prestasi menembus lima besar Olimpiade. Lewat DBON juga, Kemenpora menetapkan 14 cabang unggulan Olimpiade meliputi bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, karate, wushu, menembak, dan taekwondo. Selain itu, ada pula balap sepeda, atletik, renang, dayung, senam artistik, pencak silat, dan panahan.

Dengan paradigma itu, atlet-atlet muda jadi prioritas dikirim ke SEA Games. Kalaupun ada atlet senior, komposisinya tidak lebih banyak dari atlet muda. Selain benar-benar berpeluang besar meraih medali, atlet-atlet muda ini juga berpotensi menjadi penerus atlet-atlet senior.

Dalam situasi mengejar prestasi demi peringkat tiga besar lagi, paradigma yang memprioritaskan atlet muda bisa bertentangan. Prioritas utama akan prestasi sehingga persoalan regenerasi bisa terpinggirkan.

Terlebih, Erick juga belum bisa menentukan seperti apa implementasi program pembinaan jangka panjang versinya. Erick berharap rumusan implementasi tersebut baru selesai Maret 2026.

Konferensi pers persiapan SEA Games Thailand 2025 yang dihadiri Menpora Erick Thohir (tengah), Ketua KOI Raja Sapta Oktohari (kiri), dan Ketua Kontingen Indonesia di SEA Games Thailand 2025  Bayu Priawan Djokosoetono di Wisma Kemenpora, Jakarta, Kamis (16/10/2025).

Menurut Ketua Umum PSSI ini, perlu terlebih dahulu ada konsolidasi antarpemangku kebijakan olahraga di dalam negeri, seperti KOI dan KONI. Baru setelah itu, mereka bisa bersama-sama menentukan peranan tiap-tiap ajang olahraga, mulai PON hingga Olimpiade.

Yang jelas, kata Erick, Presiden ingin ada cabang unggulan yang diprioritaskan. Meski sudah dipilih 14 cabang olahraga DBON, Erick menilai masih perlu ada pembetulan dengan memberlakukan promosi dan degradasi. Tujuannya agar cabang olahraga saling bersaing.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah, Kelvin Hianusa, I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto