Sederet kecelakaan dan insiden yang dialami kereta api jarak jauh, KRL, dan LRT perlu menjadi perhatian khusus KAI. Sebab, keselamatan penumpang jadi taruhan.
29 Okt 2025 06:35 WIB · Ekonomi & Bisnis
KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN
Stasiun Tugu, Yogyakarta, tampak padat oleh para penumpang kereta api yang berjubel di berbagai sisi. Banyak penumpang yang kebingungan mencari kursi lantaran kapasitas tempat duduk tak dapat lagi menampung orang-orang yang terus berdatangan.
Ruang tunggu premium berbayar pun menolak para penumpang yang tengah menanti kereta api (KA) yang tak kunjung datang. Akhirnya, sebagian besar penumpang terpaksa beristirahat dan duduk di lantai. Segelintir orang tampak mengibaskan tangannya karena tak tahan dengan gerahnya suhu di stasiun saat itu.
”Kemarin Minggu (26/10/2025), kereta saya terlambat hampir 2 jam. Kemarin sulit juga cari tempat duduk karena semua kursi sudah terisi. Saya sampai memutar seluruh ruang tunggu stasiun hanya untuk mencari kursi. Sampai akhirnya kembali ke titik awal baru dapat kursi,” ujar Fransiscus (29) di Jakarta, Selasa (28/5/2025).
Namun, apa yang dialaminya tak separah para penumpang lain yang sudah lebih lama menunggu. Seorang penumpang lain, Fransiscus, bercerita, jadwal keberangkatan keretanya diundur dari 6 jam menjadi 8 jam. Pihak stasiun juga menginformasikan secara berkala dalam waktu jeda sekitar tiap 30 menit sehingga ia pun tak dapat keluar stasiun.
”Saya harusnya sudah hampir sampai tujuan, ini malah belum berangkat. Sedih sekali, enggak ada kepastian begini menunggu dari tadi,” ujar Fransiscus menceritakan kisah penumpang KA Manahan yang ditemuinya di Stasiun Tugu, Yogyakarta, Minggu (26/10/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/28/fd142657d179d3b864437c92cfcfcf46-20251026_160458.jpg)
Sederet keterlambatan KA ini terimbas anjloknya KA Purwojaya relasi Gambir-Kroya saat melintas di emplasemen Stasiun Kedunggedeh, Kilometer (Km) 56+1/2, Jawa Barat, Sabtu (25/10/2025) pukul 14.14. Dua gerbong kereta bagian belakang keluar dari rel sehingga saat itu hanya bisa dilewati satu jalur dari seharusnya dua jalur.
Sebanyak 232 penumpang KA Purwojaya telah dievakuasi. Mereka melanjutkan perjalanan menggunakan enam bus yang disiapkan menuju stasiun tujuan masing-masing, dikutip dari siaran pers PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI.
Evakuasi pun tuntas pada Minggu (26/10/2025) pukul 02.00. Selanjutnya, pukul 05.32, kedua jalur lokasi kejadian sudah dapat dilalui. Pada hari itu, KA berangkat tepat waktu hanya 74 persen, sedangkan KA tiba tepat waktu sebesar 58 persen.
Kondisi berangsur pulih pada Senin (27/10/2025). Hingga pukul 18.00, KA berangkat tepat waktu mencapai 97,7 persen, sedangkan KA tiba tepat waktu sebesar 85,71 persen. Ada 10.693 tiket yang dibatalkan KAI bagi pelanggan yang memilih tidak melanjutkan perjalanan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/18/b9ad7442a5c03633aca562f31bc5d372-20250818RZF07.jpg)
Pada hari yang sama KA Purwojaya anjlok, LRT Jabodebek mengalami insiden karena gangguan suplai listrik. Alhasil, penumpang dievakuasi melalui walkway atau berjalan kaki. Setidaknya terdapat lima rangkaian kereta yang berhenti di petak jalur. Sebanyak 653 penumpang dievakuasi (Kompas.id, 25/10/2025).
”Seluruh proses pelayanan operasional dan evakuasi di LRT Jabodebek dijalankan sesuai standar dengan mengutamakan keselamatan pelanggan. Petugas kami dilatih untuk membantu evakuasi secara cepat, terarah, dan aman. Kesiapan inilah yang memastikan setiap perjalanan terlaksana aman dan andal,” tutur Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin.
Hingga kini, baik insiden KA maupun LRT masih dalam proses investigasi KAI dan beberapa pemangku kepentingan lain. Belum ada informasi resmi yang diumumkan terkait penyebab insiden gangguan.
Hanya berselang sekitar dua bulan, sebelumnya KA Argo Bromo Anggrek anjlok di emplasemen Stasiun Pegadenbaru, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Jumat (1/8). Jalur hulu dan hilir di emplasemen tersebut terganggu. Imbasnya, total 80 perjalanan terpaksa dibatalkan, sedangkan 42 perjalanan lainnya dialihkan melalui jalur memutar via Purwokerto-Kroya-Bandung.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/05/e8f8fdf35efcb6ba0ced9d106d81fa78-FAK_4525.jpg)
Pada bulan yang sama, tepatnya Selasa (5/8), Commuter Line atau KRL relasi Bogor-Jakarta Kota anjlok di emplasemen Stasiun Jakarta Kota pukul 07.17. Rekayasa pola operasi pun diberlakukan, khususnya untuk jalur Bogor-Manggarai.
Selain perjalanan KRL terganggu, perjalanan KA jarak jauh juga terkena imbasnya hingga mengalami keterlambatan karena jalur tersebut menghubungkan dengan stasiun-stasiun besar, seperti Stasiun Gambir (Kompas.id, 5/8/2025).
Pada hari yang sama pula, KA Kuala Stabas rute Baturaja-Tanjung Karang juga anjlok di pelintasan Km 141+2, jalur hilir Negeri Agung-Tulung Buyut, Way Kanan, Lampung. Imbasnya, KA Kuala Stabas terlambat lebih dari 180 menit.
KAI bersama sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), tengah menginvestigasi anjloknya KA jarak jauh. Mereka, misalnya, mengirimkan beberapa sampel bagian KA Argo Bromo Anggrek ke laboratorium untuk mendefinisikan kerusakan KA.
Sampel ini dikirimkan ke laboratorium di Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat, dan pabrikannya di Amerika Serikat. Upaya ini dilakukan guna mengetahui letak kesalahan pemicu kecelakaan, baik dari sisi operasional, perawatan, pabrikan, atau aspek lain. Hasil pengujian baru bisa diketahui 1-2 bulan lagi.
”Kami agak lama mengetahui penyebabnya untuk anjloknya KA Argo Bromo Anggrek. Itu ada masalah roda di sana. Kemarin anjloknya KA Purwojaya masalahnya agak berbeda. Ini sedang kami teliti, terjadi beberapa anjlokan, seperti KRL di Stasiun Kota. Kami sedang cari kesalahannya di mana,” tutur Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/01/06/34fb9a4d-c69c-3af5-a751-4e000afee581_jpg.jpg)
Sembari menanti hasil pemeriksaan keluar, KNKT merekomendasikan untuk menambah proses isolasi, perawatan operasional, dan pengecekan KA. Segala macam tindakan harus dilakukan lebih ketat guna memitigasi kejadian serupa tidak terulang lagi.
Untuk Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub), KNKT mendorong agar sejumlah regulasi ditinjau ulang, khususnya menyangkut hal teknis. Setelahnya, diimplementasikan sembari menilai tingkat efektivitasnya.
”Kita juga harus awasi pelaksana di lapangan atau perawatan harus mengikuti standar. Perlu quality control yang lebih ketat lagi untuk mengawasi apakah pekerjaan tersebut dilakukan sesuai standar dan prosedur, material yang ditentukan,” ujar Soerjanto.
Sederet insiden dan kasus KA anjlok yang terjadi dalam beberapa bulan ini menjadi perhatian publik. Tingkat keselamatan pun dipertanyakan. KAI pun didesak melakukan audit keselamatan independen guna memastikan perbaikan layanan KA di Indonesia.
Menurut Wakil Ketua DPR Komisi V Syaiful Huda, KA merupakan tulang punggung transportasi nasional yang dibuktikan dari jumlah penumpang yang meningkat. Pada 2023, total penumpang KA nasional, baik KA jarak jauh, lokal, maupun KRL, mencapai 365 juta penumpang. Angkanya meningkat menjadi 504-505 juta penumpang.
”Tingginya jumlah penumpang per tahun ini harusnya dimaknai betapa KA telah menjadi tulang punggung transportasi nasional. Karena itu, setiap insiden kecelakaan KA harus menjadi fokus perhatian untuk evaluasi dan perbaikan,” ujar politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini secara tertulis, dikutip dari laman PKB.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2024/09/11/6c77d243-336e-46d2-b217-ef594a793d0a.jpeg)
Insiden-insiden ini merupakan krisis keselamatan transportasi di Tanah Air. Setidaknya ada tiga masalah utama yang kerap memicu kecelakaan KA di Indonesia, yakni usia prasarana, akumulasi kerusakan sarana, serta cacat prosedur operasional.
”Kami menilai tingginya insiden KA di Indonesia membutuhkan intervensi kebijakan, regulasi, dan aksi konkret yang radikal mengingat tingginya jumlah penumpang untuk moda transportasi ini,” kata Syaiful.
Ia mendesak Kemenhub turun tangan guna mencegah kecelakaan KA kembali terjadi. Beberapa di antaranya peremajaan infrastruktur dengan teknologi terbaru serta perbaikan jalur rel berusia tua. Pemerintah perlu memanfaatkan teknologi pengawasan rel, seperti sistem pengukuran jalur geometri untuk memindai kerusakan rel secara otomatis.
Ketua Forum Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia Aditya Dwi Laksana mengatakan, beberapa gangguan KA yang terjadi beruntun harus menjadi peringatan keras bagi KAI. Sebab, belum berselang tiga bulan sejak anjloknya KA Argobromo Anggrek di emplasemen Stasiun Pegadenbaru yang tak jelas juga penyebabnya, terjadi lagi anjloknya KA Purwojaya di emplasemen stasiun Kedunggedeh.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/05/50435abdb638ed83c2f37702eed9ba3d-FAK_4510.jpg)
Meski tak ada korban jiwa, kejadian ini sangat mengganggu kelancaran dan kenyamanan perjalanan KA. Penumpang berisiko trauma pada kereta yang terdampak. Kejadian ini jangan sampai terulang, harus ada tindakan preventif yang terukur terhadap kondisi sarana dan prasarana KA.
Beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain, memastikan batasan kecepatan aman telah dipatuhi, pemantauan ketat terhadap potensi rel patah, pemuaian rel, rel melengkung atau fondasi rel amblas, serta malafungsi wesel pemindah jalur harus terus dilakukan secara intensif.
”Salah satu penyebab anjlokan selain prasarana rel adalah kondisi rangka bawah, termasuk sistem roda kereta, sehingga pemeriksaan perlu dipastikan bahwa rangka kereta dalam keadaan baik. Namun, dalam kejadian KA Argobromo, sarana kereta relatif sangat baru, semestinya kecil kemungkinan faktor sarana, kecuali ditemukan ada anomali,” ujar Aditya.
Begitu pula gangguan suplai listrik pada sistem rel ketiga LRT Jabodebek. Hal ini harus dihindari karena potensi risiko terjadi saat proses evakuasi penumpang LRT yang harus melalui bidang sempit di titik ketinggian dari permukaan tanah. Risiko keselamatan makin tinggi ketika terjadi dalam kondisi hujan.
Penulis:
Yosepha Debrina Ratih PusparisaEditor:
Budi SuwarnaPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto