Pengamat transportasi menyoroti kondisi kapal dan keberadaan alat keselamatan dalam kecelakaan KMP Virgo Transport 8.
14 Sep 2026 20:00 WIB · Ekonomi & Bisnis
ANTARA FOTO/BAYU PRATAMA
BANDAR LAMPUNG, KOMPAS — Insiden kecelakaan yang menimpa Kapal Motor Penumpang Vigo Transport 8 di Laut Jawa, Minggu (13/6/2026) dini hari, telah merenggut nyawa enam penumpang. Sebanyak 129 penumpang masih dalam pencarian oleh tim SAR gabungan. Pakar transportasi menyoroti kondisi kapal dan kesiapan alat keselamatan.
Seperti diberitakan, KMP Virgo Transport 8 bertolak dari Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (12/9/2026) pukul 06.52 WIB, menuju Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Kapal berukuran 8.540 GT yang dinakhodai Arief Yunianto ini dikabarkan mengalami kemiringan (listing) dan hilang kontak pada Minggu sekitar pukul 02.00 WIB di perairan Masalembo.
Kapal sempat mengabarkan menghadapi cuaca buruk di perairan yang berjarak 80 mil laut (sekitar 148 km) dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.
Hingga Senin (14/9/2026), Kementerian Perhubungan melaporkan, sebanyak 114 korban telah ditemukan dan dievakuasi ke darat secara bertahap. Dari 114 orang itu, sebanyak 108 orang selamat dan 6 orang meninggal.
Sementara itu, 129 orang masih dicari. KMP Virgo Transport 8 tercatat membawa 243 orang di atas kapal saat terbalik dan menghadapi cuaca buruk.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/14/0463495c6974e2585a5aced0201f124d-antarafoto_evakuasi_korban_kmp_virgo_transport_8_1789347038.jpg)
Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Pemberdayaan Wilayah I (Barat) Masyarakat Transportasi Indonesia Aditya Mahatidanar Hidayat menilai, banyaknya korban jiwa dalam insiden kecelakaan kapal tidak hanya ditentukan oleh penyebab awal kecelakaan. Kecepatan kapal mengalami kemiringan atau tenggelam juga memengaruhi seberapa banyak waktu yang dimiliki penumpang untuk bisa menyelamatkan diri.
”Faktor lainnya adalah kesiapan alat keselamatan, jumlah penumpang, kemampuan kru melakukan evakuasi, dan kecepatan tim SAR memberikan pertolongan. Kalau kejadian berlangsung dini hari, risikonya memang bisa lebih tinggi karena sebagian penumpang mungkin sedang tidur dan kondisi lebih gelap. Waktu untuk melakukan evakuasi juga lebih singkat,” kata Aditya di Bandar Lampung, Senin (14/9/2026).
Secara teoretis, kapal dapat mengalami kemiringan ketika keseimbangannya terganggu oleh gaya yang bekerja di atasnya. Kondisi tersebut dapat dipicu berbagai faktor, mulai dari gelombang dan angin kencang, pergeseran kendaraan atau muatan, hingga masuknya air ke dalam kapal. Dalam kondisi tertentu, beberapa faktor tersebut dapat terjadi bersamaan dan semakin memperbesar risiko kapal kehilangan stabilitas.
”Kalau kemiringan semakin besar dan kemampuan kapal untuk kembali ke posisi tegak hilang, kapal bisa masuk ke kondisi kritis, kemudian terbalik atau tenggelam. Untuk kapal ro-ro seperti feri, distribusi kendaraan dan potensi pergeseran muatan menjadi aspek yang sangat penting karena berkaitan langsung dengan stabilitas kapal,” kata Aditya yang juga dosen Teknik Sipil di Universitas Bandar Lampung.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/13/7f017db6c1838752e95a90829a04fda2-antarafoto_posko_kesehatan_korban_kapal_penumpang_virgo_transport_8_1789305178.jpg)
Merujuk data sementara yang dikumpulkan Kemenhub, dari sisi jumlah penumpang, kapal ini tidak melebihi kapasitas. Sebab, jumlah penumpang disebut tidak melebihi kapasitas kapal ini sekitar 500 orang.
Menurut Aditya, pemerintah perlu mengecek aspek perawatan dan pemeliharaan kapal mengingat KMP Virgo Transport 8 sudah berusia 39 tahun. Pemeriksaan struktur, stabilitas, mesin, dan sistem keselamatan harus dilakukan secara berkala untuk memastikan kondisi kapal.
Kalau kemiringan semakin besar dan kemampuan kapal untuk kembali ke posisi tegak hilang, kapal bisa masuk ke kondisi kritis, kemudian terbalik atau tenggelam.
Aditya mengatakan, usia armada memang tidak otomatis menentukan tingkat keamanan kapal. Kapal tua bisa tetap aman digunakan jika dirawat dengan baik.
”Yang sangat penting adalah kondisi aktual lambung, mesin, kelistrikan, stabilitas, alat keselamatan, serta kualitas pemeriksaan dan perawatan. Jadi, usia lebih tepat dilihat sebagai indikator risiko, bukan sebagai satu-satunya penentu kelaikan,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/13/f61ef4ca6b68f42016274d9dff70b311-antarafoto_evakuasi_korban_kapal_virgo_transport_8_1789305159.jpg)
Selain itu, pemerintah perlu melakukan investigasi dan evaluasi menyeluruh terkait dengan insiden kecelakaan kapal tersebut. ”Informasi mengenai kapal mengalami kemiringan juga perlu menjadi perhatian dalam investigasi. Kecelakaan transportasi biasanya bukan disebabkan oleh satu faktor saja, melainkan kombinasi antara kondisi kapal, cuaca, muatan, human error, maintenance, keputusan operasional, dan sistem pengawasan. Jadi, evaluasinya harus melihat sistem secara keseluruhan,” papar Aditya.
Dia menambahkan, pemerintah harus memperkuat inspeksi dan pengawasan kapal, terutama kapal penumpang yang berusia cukup tua. Selain itu, pemerintah perlu membangun database kapal yang lebih transparan, termasuk usia, sertifikasi, riwayat pemeriksaan, dan kondisi kapal.
Pemerintah juga harus memperkuat monitoring cuaca dan early warning serta membangun sistem komunikasi yang terhubung dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), operator, pelabuhan, dan kapal.
Hal lain yang perlu dibenahi adalah meningkatkan safety culture dan kompetensi operator serta awak kapal. Kelima, setiap kecelakaan harus dievaluasi secara menyeluruh dan rekomendasi hasil investigasinya benar-benar diterapkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/09/14/0245cfbbe961c78a31bcefdefbc70ab4-antarafoto_evakuasi_korban_kmp_virgo_transport_8_1789348047.jpg)
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan, data jumlah penumpang masih bersifat dinamis karena tim gabungan masih melakukan pencarian. Fokus tim gabungan saat ini mencari penumpang lain yang belum ditemukan dan memberikan perawatan kepada semua korban yang telah dievakuasi.
Dudy menyebutkan, Posko SAR Nasional KMP Virgo Transport di Banjarmasin menjadi pusat koordinasi lintas sektor untuk penanganan korban, pelayanan keluarga, dan penyampaian informasi.
”Terkait penyebab musibah ini, pemerintah akan melakukan investigasi secara menyeluruh. Proses tersebut akan dilakukan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT),” kata Dudy dalam keterangan resmi.
Penulis:
Vina OktaviaEditor:
Haris FirdausPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar