TAJUK RENCANA

Kecerdasan Buatan Jadi Mesin Pertumbuhan China

China mempertegas fase baru dalam strategi ekonominya. Target pertumbuhan dikurangi, sedangkan kontribusi teknologi tinggi terhadap ekonomi ditambah.

09 Mar 2026 07:00 WIB · Tajuk Rencana

AFP/AGATHA CANTRILL

Oleh Redaksi

Dalam sidang tahunan National People’s Congress (NPC) atau parlemen nasional pada Maret 2026 di Beijing, Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) 4,5–5 persen. Target ini lebih rendah dibanding target sekitar 5 persen pada periode beberapa tahun terakhir dan menjadi yang terendah sejak awal 1990-an ketika Beijing mulai menetapkan target pertumbuhan secara resmi.

Penurunan target pertumbuhan mencerminkan sikap pemerintah yang lebih hati-hati di tengah tekanan ekonomi yang kian kompleks. Beberapa tahun terakhir, ekonomi China dibayangi krisis sektor properti berkepanjangan, pelemahan konsumsi domestik, serta meningkatnya persaingan perdagangan dan teknologi dengan Amerika Serikat. Ada pula persoalan struktural seperti utang pemerintah daerah, perlambatan investasi, dan kecenderungan deflasi.

Suasana pembukaan Kongres Rakyat Nasional (NPC) China di Balai Agung Rakyat, Beijing, China pada Kamis (5/3/2026). Hadir di antaranya Presiden China Xi Jinping (tengah, kedua dari bawah). Kongres berlangsung pada 5-12 Maret 2026 dengan dihadiri sekitar 3.000 delegasi. Ada sejumlah isu yang dibahas selama kongres, seperti ekonomi, politik, inovasi teknologi, tata kelola, diplomasi, dan pembangunan hijau. Pembahasan ini mengerucut menjadi Rencana Lima Tahun ke-15 yang menentukan arah kebijakan China.

Meski demikian, penurunan target tak berarti Beijing mengurangi ambisinya. Pemerintah justru berupaya menggeser orientasi dari pertumbuhan yang cepat menuju pertumbuhan berkualitas tinggi. Pergeseran ini tecermin dalam Rencana Lima Tahun ke-15 untuk periode 2026–2030 yang dibahas dalam forum NPC. Strategi utama yang ditekankan adalah memperkuat sektor teknologi tinggi sebagai penggerak ekonomi baru.

Karena itu, pemerintah mendorong inovasi teknologi dengan mempercepat pengembangan komunitas kecerdasan buatan atau AI berbasis sumber terbuka (open source). Pengembangan semikonduktor, bioteknologi, dan ekonomi ”low-altitude” atau sektor yang fokus pada penerbangan antara 1.000-3.000 meter (antara lain pesawat nirawak dan mobilitas udara perkotaan) juga dipacu. Targetnya, menaikkan kontribusi ekonomi digital dari 10,5 persen menjadi 12,5 persen terhadap PDB pada Rencana Lima Tahun ke-15. Bidang komputasi kuantum, kecerdasan robotika, antarmuka otak‑komputer, energi masa depan, kedirgantaraan, dan 6G ditetapkan sebagai fokus utama.

This photo illustration shows the DeepSeek app on a mobile phone in front of the building housing the headquarters of Chinese AI startup DeepSeek in Hangzhou, in China’s eastern Zhejiang province on January 28, 2025. Fears of upheaval in the AI gold rush rocked Wall Street, following the emergence of a popular ChatGPT-like model from China, with US President Donald Trump saying it was a "wake-up call" for Silicon Valley. (Photo by AGATHA CANTRILL / AFP)

Keputusan mengenai arah pembangunan tersebut diumumkan dalam sidang tahunan NPC, lembaga legislatif tertinggi China yang beranggotakan hampir 3.000 delegasi dari berbagai provinsi dan sektor masyarakat. Forum ini berfungsi mengesahkan undang-undang, menyetujui anggaran negara, serta menetapkan rencana pembangunan nasional, termasuk Rencana Lima Tahun sebagai pedoman kebijakan ekonomi.

Apa yang diputuskan NPC, yakni pertumbuhan lebih moderat, tetapi kokoh, sambil membangun fondasi ekonomi masa depan yang bertumpu pada inovasi teknologi dan industri maju, menunjukkan arah yang disasar China beberapa tahun mendatang. Dengan kekuatan ekonomi China yang begitu besar, keputusan itu tentunya berdampak luas, memengaruhi negara-negara lain. Kita pun patut mencermatinya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Redaksi
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase