Manusia tidak bisa menyerahkan pendidikan sepenuhnya pada kecerdasan buatan (AI). Namun, bukan berarti AI tidak bisa dilibatkan dalam proses pendidikan.
20 Feb 2025 17:38 WIB · Nusantara
SLEMAN, KOMPAS — Teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang berkembang pesat beberapa tahun terakhir dinilai bermanfaat dalam bidang pendidikan. Alih-alih menggantikan manusia sebagai guru, AI dapat diposisikan sebagai kolaborator untuk menciptakan proses pendidikan yang interaktif dan dialogis.
Demikian diungkapkan Siti Murtiningsih dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar Bidang Filsafat Pendidikan di Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (20/2/2025), di Balai Senat UGM, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Acara tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh, misalnya Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid, Wakil Menteri Komdigi Nezar Patria yang juga suami Siti, Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara Basuki Hadimuljono, mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Mahfud MD, dan lainnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/02/20/4c4435a8-0171-4cc2-9eb8-875e0833a5bf_jpg.jpg)
Dalam acara tersebut, Siti menyampaikan pidato pengukuhan berjudul ”Mendidik Manusia Bersama Mesin: Filsafat Pendidikan di Era Kecerdasan Buatan”. Pada pidato itu, Siti menyebut, AI sudah mulai dimanfaatkan dalam kegiatan pendidikan di sejumlah negara.
Salah satu yang sudah menjalankan praktik itu adalah China. Sejak tahun 2018, lebih dari 600 kelas taman kanak-kanak di China telah memakai robot kecil bernama KeeKo yang bisa bercerita, mengajukan soal logika, dan bereaksi dengan ekspresi wajah saat siswa bisa menguasai materi pelajaran.
Sementara itu, mulai tahun lalu, Kerala School di India juga telah memperkenalkan guru-robot bernama Iris. ”Didesain sebagai seorang guru perempuan dengan pakaian khas India, Iris dapat merespons pertanyaan siswa, memberikan penjelasan, dan menyampaikan materi pelajaran,” ujar Siti, yang juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Filsafat UGM.
Akan tetapi, Siti memaparkan, pemanfaatan kecerdasan buatan, terutama dalam bentuk guru-robot, juga memunculkan pertanyaan. Sebab, kebanyakan filsuf dan pakar pendidikan berpendapat bahwa pendidikan harus mencakup proses transmisi pengetahuan dan nilai, terutama dari guru kepada murid.
Oleh karena itu, kemudian muncul pertanyaan apakah robot atau AI mempunyai pengetahuan dan nilai. Namun, para pakar ternyata berbeda pendapat saat menjawab pertanyaan tersebut.
Di tengah perbedaan pendapat itu, Siti tampaknya mengambil jalan tengah. Dia menyatakan, di era kecerdasan buatan saat ini, manusia memang tidak bisa menyerahkan pendidikan sepenuhnya pada mesin atau AI. Namun, bukan berarti AI tidak bisa dilibatkan dalam proses pendidikan.
”Dengan mempertimbangkan sejumlah pandangan tentang pengetahuan dan nilai, terutama dalam kaitannya dengan mesin, saya memiliki sebuah pandangan bahwa di era kecerdasan buatan ini kita sebaiknya bukan menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada mesin, tetapi juga bukan menolak begitu saja keterlibatan mesin dalam proses pendidikan,” kata Siti.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/22/a65f56df5e18c6a33d99fcc5233bb715-241022_nvidia_3.jpg)
Menurut Siti, menyerahkan pendidikan anak-anak sepenuhnya kepada mesin akan menghadirkan bencana bagi masa depan kemanusiaan. Namun, tidak seharusnya manusia menolak sepenuhnya keterlibatan mesin atau AI dalam pendidikan. Itulah kenapa Siti kemudian mengajukan konsep mendidik bersama mesin.
”Ada begitu banyak hal dari teknologi kecerdasan buatan, misalnya, yang dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan proses pendidikan. Karenanya, daripada menolak atau membiarkan mesin mengambil alih proses pendidikan, kita sebaiknya mulai membayangkan bagaimana mendidik manusia bersama mesin,” ujarnya.
Siti kemudian menggunakan konsep pedagogi kritis yang diungkapkan filsuf sekaligus pendidik Paulo Freire (1921-1997). Menurut Freire, pedagogi kritis bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran kritis bahwa kondisi sosial, politik, dan budaya selalu memengaruhi proses pendidikan.
Dalam pedagogi kritis, siswa tidak dianggap sebagai agen yang pasif. Mereka diharapkan bisa memahami, menganalisis, dan bahkan mengubah realitas sosial yang mereka hadapi.
Guru perlu menunjukkan ke siswa, bagaimana berpikir kritis, cara mengambil keputusan-keputusan strategis, hingga melatih emosi dan empati.
Menurut Siti, berkaca pada model pedagogi kritis ala Paulo Freire, proses pendidikan tetap membutuhkan kehadiran manusia sebagai pendidik. Hal ini karena proses pendidikan tidak boleh hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga mesti menumbuhkan empati, solidaritas, dan komitmen kolektif pada keadilan sosial dan ekologis.
”Para pendidik, oleh karena itu, memegang peran penting sebagai fasilitator, pendorong energi, dan inspirator, dengan menanamkan optimisme sekaligus keterampilan praktis kepada para pembelajar untuk membayangkan dan menciptakan masa depan yang lebih adil dan berkelanjutan,” ujar Siti.
Sementara itu, dia menambahkan, mesin atau AI dapat berperan sebagai kolaborator manusia guna menciptakan lingkungan pendidikan yang interaktif dan dialogis.
Siti juga menyebut, konsep mendidik manusia bersama mesin menekankan dua hal penting. Pertama, subyek utama pendidikan adalah manusia. Kedua, entitas nonmanusia, seperti mesin atau AI, dapat dilibatkan dalam proses pendidikan.
”Dua hal tersebut membuka ruang-ruang eksplorasi baru tentang relasi manusia-nonmanusia. Dengan demikian, cakupan filsafat pendidikan di era mesin kecerdasan buatan ini bukan hanya soal apa tujuan pendidikan dan bagaimana seharusnya proses pendidikan dijalankan, melainkan juga soal relasi epistemik dan etis antara manusia dan agen non-manusia,” kata Siti.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/11/30/dc101ed31b6fd7c4dca615d50630ddfb-20241129NMP04.jpg)
Rektor UGM Ova Emilia mengatakan, dengan pengukuhan tersebut, Siti menjadi bagian dari 525 guru besar aktif di universitas tersebut. Selain itu, Siti juga termasuk dalam empat guru besar aktif dari 10 guru besar yang pernah dimiliki Fakultas Filsafat UGM.
Dalam kesempatan sebelumnya, pakar kebijakan pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, Unifah Rosyidi, mengakui bahwa AI dapat menggantikan sebagian pekerjaan tenaga pendidik.
”Mesin kecerdasan ini, jujur saja, dapat mengambil alih proses pembelajaran yang rumit sekalipun. Ini juga meruntuhkan paradigma belajar di sekolah,” katanya (Kompas.id, 28/6/2023).
Menurut Unifah, AI berpotensi menghadirkan perubahan yang sangat besar dibandingkan disrupsi teknologi sebelumnya, seperti komputer dan kalkulator.
”AI ini butuh waktu lebih pendek, tetapi kemajuannya eksponensial dan tidak bisa kita duga. AI bisa membuka cakrawala kita tentang berbagai hal dan tidak bisa dikejar oleh otak kita, tetapi juga melemahkan cara berpikir kritis kita,” katanya.
Oleh karena itu, Unifah menyebut, dibutuhkan pemosisian ulang peran sistem pendidikan dan peran guru. Guru tidak lagi sebagai sumber materi pembelajaran, tetapi sebagai mediator, kawan dialog bagi siswa untuk memahami materi pelajaran.
Dia menambahkan, penting bagi guru untuk bisa bersama-sama murid memicu daya kritis dari konten pembelajaran yang bisa jadi kelak disampaikan AI.
”Guru perlu menunjukkan ke siswa bagaimana berpikir kritis, cara mengambil keputusan-keputusan strategis, hingga melatih emosi dan empati,” tuturnya.
Penulis:
haris firdausEditor:
Siwi Yunita Cahyaningrum