Empati tidak sama dengan welas asih meski sulit membayangkan welas asih tanpa empati.
12 Des 2025 18:17 WIB · Kolom
SALOMO TOBING
Tahun 2025, dunia ditandai sejumlah bencana dan perang yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian signifikan. Indonesia mencatat ribuan kejadian bencana, didominasi oleh bencana hidrometeorologi yang berlangsung hingga akhir tahun. Sementara kekeringan parah terjadi di beberapa kawasan, banjir dan tanah longsor menjadi bencana alam paling dominan.
Dampak bencana alam seperti baru-baru ini terjadi di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara menyebabkan banyak korban jiwa, harta benda, sarana dan prasarana publik, sumber penghidupan, dan hancurnya situs dan warisan budaya serta lanskap alam.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/12/af10edcc89cb54485126d000b17fe576-TOK_ACEH_TAMIANG_D.jpg)
Sering kali dampak perubahan iklim sulit dipahami dan solusi untuk masalah tersebut kompleks. Sementara harapan masyarakat di wilayah-wilayah yang terdampak bencana paling menuntut kesiagaan pemerintah dalam pengelolaan dan penanganannya.
Lalu, apa yang terjadi jika harapan masyarakat belum sesuai kenyataan? Dalam situasi pascabencana, muncul ekspektasi sangat besar terhadap para pejabat untuk berkomunikasi dan bertindak yang lebih memberi kepastian bagi korban, keluarga korban, dan publik, dan dengan hadirnya media sosial, aktivitas semacam itu dituntut hampir seketika.
Kenyataannya, banyak pernyataan pejabat yang justru memperkeruh keadaan di saat korban membutuhkan bantuan dan publik luas menanti tanggung jawab atas kerusakan ekologis yang memperparah banjir dan tanah longsor (Kompas.id, 10/12/2025).
Faktor kecerdasan empati dalam berkomunikasi di tengah bencana seperti terlihat kurang penting, padahal sering amat menentukan persepsi publik terhadap kinerja pemerintah dan wakil rakyat. Hal ini terlihat pada bagaimana pesan-pesannya malah memicu tanggapan negatif publik dan warganet terhadap fase akut pada minggu-minggu pemulihan pascabencana di Sumatera.
Kecerdasan dalam berkomunikasi secara empati di tengah bencana tampaknya perlu menjadi perhatian para pemangku kepentingan. Bahwa memulihkan kawasan bencana juga berarti memahami kesulitan para petugas dan penderitaan korban di lokasi bencana dan menggunakan bahasa dan simbol yang menumbuhkan harapan dan kepercayaan bagi mereka.
Mungkin karena itulah Kjell Brataas (2020), seorang pakar komunikasi bencana, berkeyakinan, ”Perkataan atau tindakan seorang politisi di awal krisis dapat menjadi krusial bagi keberlangsungan karier politiknya.”
Pentingnya kecerdasan empati dalam berkomunikasi di tengah krisis itu bahkan berlaku bagi semua bangsa dan budaya. Tidak hanya ekspresi verbal, ekspresi empati nonverbal terkait budaya perlu dipertimbangkan, termasuk sikap postur tubuh yang peduli, ekspresi wajah yang teduh, dan nada suara yang menenangkan. Bahkan, pemilihan corak dan warna busana, kapan perlu tersenyum dan bersikap ramah, juga menjadi bagian dari emosi pesan.
Tak hanya politisi, kecerdasan empati dalam berkomunikasi juga dibutuhkan oleh para aktivis lingkungan, aktor masyarakat sipil, cendekiawan, agamawan, seniman, dan bahkan wartawan yang berkomunikasi dengan atau bertutur tentang komunitas rentan yang berjuang di tengah perubahan iklim.
Bagi ahli atau aparat, perubahan iklim adalah masalah sangat rumit; seperti data klimatologi, penalaran ekonomi, kuantitas anggaran, statistik korban, atau perusahaan perusak lingkungan. Bagi korban bencana, masalah utamanya, kurangnya empati terhadap kesulitan dan penderitaan yang mereka rasakan sehari-hari.
Di tengah persaingan politik, perubahan iklim dan bencana yang menyertainya sering dicirikan banyaknya kepentingan yang terlibat sehingga persaingan meraih sentimen publik seperti lumrah. Jika pihak-pihak yang saling bersaing tidak berempati terhadap situasi bencana, jangan diharapkan perkataan mereka akan mendorong orang atau memandu mereka untuk bertindak. Yang terjadi malah krisis kepercayaan.
Mengamati secara cermat cara-cara komunikasi bencana yang dilakukan selama ini menyadarkan kita pentingnya penyampaian pesan-pesan yang menimbulkan rasa empati untuk memulihkan harapan komunitas di tengah bencana.
Berempati adalah merasakan seperti yang orang lain rasakan. Empati tidak sama dengan welas asih meski sulit membayangkan welas asih tanpa empati. Sering kali kita baru memahami apa yang orang lain rasakan ketika kita mengalaminya sendiri. Namun, menurut filsuf David Hume (1711-1776), ”Pikiran manusia adalah cermin satu sama lain.” Dengan kata lain, perasaan kita sendiri adalah lensa yang kita gunakan untuk melihat perasaan orang lain.
Kecerdasan empati merupakan salah satu daya kemanusiaan kita. Dengan kekuatan empati, para pejuang kemanusiaan, petugas tanggap bencana, atau orang biasa rela berkorban demi keselamatan nyawa orang lain yang bahkan tidak mereka kenal.
Idi Subandy Ibrahim, Pengajar di Magister Ilmu Komunikasi (MIK), Pascasarjana Universitas Pasundan. Menulis buku Sirnanya Komunikasi Empatik: Krisis Budaya Komunikasi dalam Masyarakat Kontemporer (2004)
Penulis:
Idi Subandy IbrahimEditor:
Dahono FitriantoPenyelaras Bahasa:
Hibar Himawan